Resensi Terbaru

Tampilkan postingan dengan label Biografi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Biografi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 20 Februari 2014

Mendekati Muhamad SAW dengan Nikmat

Muhammad SAW memang tokoh fenomenal. Bukan saja bagi kaum muslimin, tetapi juga untuk nonmuslim. Ia sosok multidimensi. Nabi, rasul, negarawan, politisi, panglima perang, bapak rumah tangga, dan sebagainya. Tak salah bila kehidupannya selalu relevan untuk dikagumi, dikaji, atau bahkan dikritik. Sudah ribuan judul buku dalam berbagai bahasa terbit dan beredar. Baik yang membela maupun yang mencacinya. 

Adalah Ibnu Ishaq yang pertama kali membuat biografi Muhammad SAW dalam bukunya Sirah Muhammad. Karya ini pula yang sampai saat ini menjadi rujukan penulis-penulis biografi Muhammad SAW sesudahnya. Buku lain yang momental adalah Hayat al Muhammad (Sejarah Hidup Muhammad) buah karya Husein Haikal. 

Kini hadir buku yang tak kalah menawan. Muhammad; Kisah Hidup Nabi Berdasarkan Sumber Klasik karya Martin Lings (Abu Bakar Siraj al Din) yang merupakan edisi Bahasa Indonesia dari Muhammad; His Life Based on the Earlist Sources. Salah satu kelebihan buku ini adalah gaya bahasanya yang memikat. Sebagai seorang penyair, Lings berhasil memaparkan kehidupan Muhammad SAW dengan indah. Meski bukan tulisan sastra, Lings berhasil memikat pembaca untuk menyelesaikan buku setebal 671 halaman ini. 

Tentu saja pembaca bakal menemukan banyak informasi baru dan mengagetkan yang tidak ada pada buku lain. Misalnya, kakek Rasulullah SAW, yang bernama Abdul Muthalib, dalam penemuan Lings bukan langsung keturunan dari Nabi Ibrahim yang berada di Mekah. Namun, ia berasal dari Madinah yang aslinya bernama Syaibah. Ia merupakan anak Hisyam (kakek buyut Muhammad SAW) dari istri keempatnya bernama Salma yang tinggal di Madinah. Tepatnya, Salma merupakan wanita berpengaruh di suku Khazraj, salah satu suku besar bersama suku Aus di Madinah (halaman 16-23). Sedangkan Muthalib (Abdul Muthalib) merupakan saudara kandung dari Hasyim. Temuan Lings ini sangat berbeda dengan buku-buku sejarah Muhammad SAW yang saat ini beredar, bahwa Abdul Muthalib adalah kakek langsung atau ayah dari Abdullah, bapak Muhammad SAW.
Masih banyak temuan penulis yang meninggal 12 Mei 2005 lalu ini menyimpang dari “kebenaran umum”. 

Melalui buku ini, Lings meletakkan tokoh Muhammad SAW benar-benar unik. Didasarkan kepada sumber-sumber berbahasa Arab dari abad ke-8 dan 9 masehi, Lings mendekati dan mereportase kata-kata dari orang-orang yang mendengar dari Muhammad SAW dan menyaksikan langsung peristiwa-peristiwa dalam hidupnya. Penulis mampu menghadirkan Muhammad SAW dalam kesederhanaan dan keagungannya. Karena itu, pembaca, baik yang sudah akrab atau belum dengan sosok Muhammad, akan merasakan kenikmatan ketika membaca karya ini.

Buku ini terpilih sebagai biografi terbaik dalam Bahasa Inggris pada Sirah Nasional di Islamabad, Pakistan, 1983. Sejak itu, karya ini diterjemahkan ke berbagai bahasa. Italia, Jerman, Prancis, Spanyol, Turki, Belanda, Urdu, Tamil, dan sekarang Indonesia. Bahkan, Presiden Mesir Hosni Mubarak begitu terpesona dengan buku ini. Ia pun menganugerahkan Lings sebuah bintang kehormatan. 
Lahir di Lancashire, Amerika Serikat, 24 Januari 1909. Ketertarikan terhadap Islam bermula ketika berkunjung ke Mesir di 1940 untuk menemui temannya yang menjadi dosen di Universitas Kairo. Sayangnya, ia tidak bertemu temannya itu sebab temannya meninggal dalam kecelakaan lalu lintas. Lings ditawari mengganti posisi temannya. Ia pun menerimanya. Setelah mempelajari Islam melalui tasawuf Syadhliliyyah, dia menetapkan hati untuk memeluk Islam. Ia pun mengganti namanya menjadi Abu Bakar Siraj al Din.

“Ketika membaca buku ini, kita akan merasakan semacam efek kimia pada narasi dan komposisi bahasa yang terkombinasi dengan keakuratan serta gairah sastrawi. Martin Lings adalah cendikiawan-penyair,” kata islamolog Columbia University, Amerika Serikat, Hamid Dabashi. (Dudi Sabil Iskandar/Koran Jakarta).

KUTIPAN:
"Ketika membaca buku ini, kita akan merasakan semacam efek kimia pada narasi dan komposisi bahasa yang terkombinasi dengan keakuratan serta gairah sastrawi. Martin Lings adalah cendikiawan-penyair," kata islamolog Columbia University, Amerika Serikat, Hamid Dabashi.
Ditulis oleh: Dudi Iskandar (Koran Jakarta)

Buku ini bisa dipesan di SINI.

Rabu, 19 Februari 2014

Biografi Cinta Soekarno-Yurike


Biografi Cinta Soekarno-Yurike


Sepucuk surat Bung Karno kepada istrinya, Yurike Sanger, tertanggal 7 Oktober 1966, ditulis di atas kertas berkop Sekretariat Negara Kabinet Presiden (tapi kop itu dicoret). Surat itu singkat tapi sangat mendalam.Surat itu pun menggambarkan rindu dan cinta Bung Karno pada Yuri, sang istri. Dinamika politik setahun pasca Gerakan 30 September 1965 juga sangat mengemuka. Surat tulisan tangan Bung Karno itu dimuat di halaman 356 dan di halaman belakang buku.
Cinta, romantisme, dan perempuan cantik selalu mengiringi perjalanan dan perjuangan Bung Karno. Bahkan ketika masih sekolah di tingkat SMP, dia sudah berani menggandeng sinyo Belanda. Putra Sang Fajar, demikian sebutan untuk Bung Karno, ini bahkan menikah ketika masih muda belia, 20 tahun. Istri pertamanya adalah Oetari, putri HOS Tjokroaminoto, guru politik Bung Karno. Di rumah guru politik yang ketika itu disebut Ratu Adil, Bung Karno tinggal sebagai anak kos sambil menyelesaikan pendidikan di HBS (SMA) di Surabaya.
Dalam buku Isteri-Isteri Bung Karno karya Reni Nuryanti (Ombak, 2007), disebutkan bahwa setelah pisah dengan Oetari, Bung Karno menikah dengan mantan ibu kos yang lebih tua darinya, Inggit Garnasih, di Bandung, 1923. Ketika itu, dia masih kuliah di ITB. Istri ketiga Bung Karno yang kemudian menurunkan trah politik adalah Fatmawati, 1943, lalu Hartini, 1952.
Di puncak kekuasaan, Bung Karno masih memperistri wanita-wanita belia yang semuanya cantik. Pertama wanita Jepang bernama Naoko Nemoto yang berganti nama menjadi Ratna Sari Dewi. Naoko dinikahi pada 1962. Belum cukup, Bung Karno masih melirik Haryati, yang dinikahi 1963. Setahun kemudian, sang proklamator ini jatuh cinta pada gadis Manado yang masih duduk SMA VII Jalan Batu Jakarta, Yurike Sanger, yang dinikahi pada 1964.
Buku yang ditulis Kadjat Adra’i, mantan wartawan yang dekat dengan keluarga Bung Karno. mengungkap kisah cinta Bung Karno dan Yurike. Sang istri yang masih sekolah tidak mampu menolak cinta sang presiden. Bukan karena dia sangat berkuasa dan mampu memaksa, tapi dalam buku ini Yurike mengakui bahwa tatapan, rayuan, dan cinta yang tulus dari seorang manusia bernama Bung Karno yang diperlihatkan dengan sopan, santun, dan penuh tanggung jawab yang tak mampu ditolaknya.
Intinya, keduanya saling jatuh cinta dan akhirnya kedua orang tua Yuri pun setuju. Kisah cinta layaknya pemuda dan pemudi, meski jarak usia Yurike-Bung Karno terpaut puluhan tahun, menarik untuk dibaca. Bung Karno di dalam buku ini benar-benar tampil sebagai manusia biasa yang penuh gelora cinta, romantis, kadang cemburu. Kala pacaran, Bung Karno sering mengantar pulang Yurike ke Tebet Barat, Jakarta Selatan, rumah orang tua Yurike.
Seusai pernikahan pun, Bung Karno menyempatkan diri menginap di rumah sang mertua, yang tentu sangat sederhana untuk seorang presiden/ panglima besar revolusi.
———————————————————–
Penulis: Suradi SS
Sumber: Koran Jakarta, 12 Mei 2010
Judul lengkap 
Percintaan Bung Karno dengan anak SMA : biografi cinta Presiden Sukarno dengan Yurike Sanger
ISBN 
9793731745
Jenis Sampul 
Hard Cover, Soft Cover
Waktu Terbit 2010
Penulis Kadjat Adra’i
Penerbit Komunitas Bambu
Jumlah Halaman xviii, 426 hal.
Pesan buku ini di SINI
We will keep You Updated...
Sign up to receive breaking news
as well as receive other site updates!
Subscribe via RSS Feed subscribe to feeds
Sponsors
Devi Online Book StoreKaravina.comPenerbit Dolphin
Tempat IklanTempat IklanTempat Iklan
Connect with Facebook
Todays Quote :
Love is the expansion of two natures in such a fashion that each includes the other, each is enriched by the other. #Felix Adler 1851-1933
Search
Thankyou