Resensi Terbaru
Tampilkan postingan dengan label Novel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Novel. Tampilkan semua postingan
Kamis, 27 Februari 2014
Taman Sunyi Sekala (Novel Filsafat)
Taman Sunyi Sekala (Novel Filsafat) by Aida Vyasa
"Taman Sunyi Sekala" ini berisi sebuah renungan spiritual perjalanan hidup seorang anak manusia. Dalam kesejatian ciptaan Rabb semesta sekalian alam bernama manusia, maka sesungguhnya ia tidaklah butuh nama. Dalam konteks ini maka benarlah lontaran " What's the name", apalah artinya sebuah nama. Jiwa menjadi lebih penting disini, teramat penting.
Dan dimana-mana jiwa memiliki nama yang sama, yaitu : noname alias tak bernama. Orang-orang saja yang kemudian memberinya nama : ruh.
Dan dimana-mana jiwa memiliki nama yang sama, yaitu : noname alias tak bernama. Orang-orang saja yang kemudian memberinya nama : ruh.
Novel ini, yang sama sekali tak mirip Novel, sebenarnya hendak berkata bahwa kita adalah apa yang kita baca, kita serap, kita tulis, kita alami, kita saksikan, dan kita cintai. Bahwa kehidupan kekinian ternyata selalu tak bisa melepaskan diri dari kehidupan masa lalu. Sebuah 'blink' yang didapat di masa kecil melalui semacam Laura Ingals dalam "Little House on the Prairie" ternyata masih saja menjadi sebuah 'blink' dalam wujud lain di kehidupan kini bahkan juga diyakini di kehidupan masa datang.
Sebuah inspirasi kebajikan tidak akan pernah mati. Boleh saja "The good always die young", bahwa pahlawan selalu mati muda, tapi "the goodness" atau "the kindness" itu sendiri bersifat abadi dan tak pernah mati. Al-Quran sendiri mengabadikannya, saat memberi jaminan kepada orang-orang hidup yang ditinggal mati para syuhadah (the good) dengan mengatakan "janganlah mengira mereka mati? tidak! bahkan mereka itu hidup" (QS. Ali Imran:169)
Maka, beruntunglah anak-anak pada masa kini, yang memiliki (to belong) orang tua, guru, atau orang dewasa yang pernah hidup di masa lalu, dan menyadari hakikat kehidupan di masa sebelumnya adalah semata agar masa kini lebih baik. Sebab, banyak pula anak-anak yang berada di tengah-tengah orang dewasa ( to have), tapi tak banyak merasakan apa arti kedewasaan, karena mereka yang dewasa rupanya hanyalah 'anak-anak yang terkurung dalam tubuh dewasa'.
Beruntunglah anak-anak itu, yang disodori buku-buku dan bacaan sarat inspirasi, meski inspirasi itu baru bisa termaknai jauh tahunan ke depan. Beruntunglah juga anak-anak yang di beri kesempatan mengakses tontonan (akui saja dengan lapang dada) TV dan film yang membasuh jiwa, pun juga tontonan yang mengotori jiwa. Sebab yang 'kotor-kotor'itu sejatinya akan menguatkan kekuatan pembasuhan.
Dan pihak yang bertanggungjawab dibalik semua itu adalah : kata (word). Dalam segala rupa kata, ia adalah dalang di segenap peradaban dan pemikiran dunia. Buku yang ditulis, komik yang digambar, koran yang diterbitkan, film yang diproduksi, iklan yang menipu, juga lirik dalam lagu bahkan rupa murni dalam kanvas, semuanya melahirkan kata. Kata adalah sumber kesejahteraan dan kata adalah sumber penderitaan. Selama kata itu ada, selama itu pula perang dan perpecahan antar manusia akan ada. Pula, selama kata itu ada kedamaian akan tercipta. Tak diragukan lagi, The word is the world's soulmate.
***
Yang menarik buatku adalah, sepertinya buku ini mewakili kesunyian tamanku juga, meski tak simetris dan kongruen. Kaernanya, seperti kataku pada BU Pratmi, aku mau menjadi teman setianya, jika ia di sini. ^_^
Tapi setidaknya, aku tahu, Sekala ini adalah seorang perempuan, dua tahun lebih muda dariku, banyak menghabiskan umurnya di JOgja, pernah belajar Psikologi, dan yang terpenting pernah atau masih berinteraksi dalam dunia pergerakan Islam. Sudah pasti ia mahkluk asing dalam jagat 'bumi'. Dan taman sunyinya itu, bisa dipastikan pula tak bertaburan bunga-bunga dan kupu-kupu.
Sumber http://www.doniriadi.com/2009/03/membaca-taman-sunyi-sekala.html
Pesan buku ini : Tersisa 1 buku, Hub Eko Waluyo , SMS/WA : 081393725615.
Kiriman oleh Eko Waluyo II.
Jumat, 21 Februari 2014
Resensi "Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu"
Novel ini menghadirkan bacaan yang liar, nakal, ganjil, namun tetap menyimpan daya vitalitas. Penulis telah melahirkan Suluk Abdul Jalil Syaikh Siti Jenar (Seri 1-7) danRahuvana Tattwa. Dalam novel terbarunya ini, mantan wartawan yang dikenal gemar melawan arus pemahaman banyak orang tersebut berupaya menyodorkan perspektif baru perihal karya-karya teks kuno.
Pembaca diajak memahami konsep "Sangkan Paraning Dumadi" (tempat berasal dan kembalinya segala makhluk). Dalam pandangan Jawa, segala yang berada di alam semesta berasal dari Tuhan dan akan kembali kepada-Nya. Dengan memahami asal (sangkan) dan tujuan (paran) segala ciptaan (dumadi), dengan sendirinya manusia bisa mencapai taraf kebenaran sejati.
Mengenai "Sangkan Paraning Dumadi", Agus Sunyoto menggambarkannya dengan percakapan spiritualtransendental antara Saya Sudrun dengan Kiai Pusponegoro, di atas "watu gilang" yang teronggok seperti meja di luar gerbang suatu makam. Seusai mengalami peristiwa aneh dalam kondisi antara sadar dan tidak, Saya Sudrun-dalam dimensi yang menegangkan-mengetam wejangan dari Kiai Pusponegoro. "Ketahuilah, o anak, yang disebut Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu adalah sebuah rangkaian makna perjalanan insan kembali ke mata air yang hakiki. Itulah yang disebut Ilmu Sangkan Paraning Dumadi," (halaman 88).
"Sangkan Paraning Dumadi" sebenarnya kembali pada Tuhan, seperti dalam tembang Dhandhang Gula: Saking pundi kawitane nguni/ Manungsa kutu walang ataga/ Kang gumelar ngalam kiye/ Sayekti kabeh iku/ Mesthi ana ingkang nganani/ Yeku Kang Karya Jagad/ Ingkang Maha Agung/ Iku kang dadi sangkannya/ Iya iku kang dadi paranireki/ Sagunging kang dumadya/ (Dari mana asal-mulanya dulu Manusia dan segala makhluk Segala yang ada di alam ini Sebenarnyalah semua itu Pasti ada yang mengadakan Yaitu Pencipta Alam Semesta Tuhan Yang Maha Agung Itulah asal-mula Dan itulah pula tujuan akhir Dari semua yang ada).
Novel ini mengisahkan perjalanan seseorang dalam mencari kebenaran sejati, Sudrun, pemuda yang dianggap gila. Nama belakang Sudrun adalah gelar karena tingkah anehnya.
Waktu sekolah SD, dia pernah disuruh menyelesaikan soal. Dia pun mengerjakan tanpa sedikit pun merasa kesulitan. Akan tetapi, murid-murid lain tertawa terbahak-bahak melihat garapannya yang dianggap langka. Ketika sang guru bertanya perihal rumusnya, dengan polos Sudrun mengatakan memakai rumus hitungan tukang nomer buntut togel.
Contoh lain, anggapannya tentang sosok Ita Martina. Perempuan yang dicintai setengah mati itu diyakini sebagai makhluk lemah yang terbuat dari lilin. Jika dicubit tubuhnya rusak dan mengalirkan cairan kuning hangat. Sudrun kecewa ketika suatu hari mendapati Ita Martina ternyata manusia biasa.
Romo Noyogenggong memberi kesejukan dengan mengatakan, "Saya tahu sampean bukan orang senewen, apalagi gendeng. Sampean hanya orang yang jujur dan menceritakan apa yang sampean rasakan dengan cara apa adanya. Tetapi kejujuran sampean itu justru tidak bisa diterima oleh masyarakat sebab masyarakat pada dasarnya sudah dicemari oleh kedustaan dan kebohongan" (halaman 68).
Peristiwa-peristiwa spiritual juga sering dialami Sudrun. Misalnya, dia pernah melihat semacam cahaya merah dan biru berkilau-kilau. Setelah wangi mawar dan melati menyentuh penciumannya, dia menemukan bayangan dengan wajah cemerlang. Ternyata orang itu tiada lain adalah bapaknya yang telah meninggal.
Melewati berbagai peristiwaperistiwa yang sukar ditelan logika, akhirnya di pucuk cerita, Sudrun berhasil merengkuh tujuan. Dia mampu meresapi desau angin, nyanyian belalang, bunyi kodok, dan gemerisik dedaunan. Setiap gerak benda mengingatkannya kepada Yang Ilahi.
Sumber dari SINI
Kamis, 20 Februari 2014
Diary atau Catatan Motivasi (teman) Seorang Pramugari? Novel Khusus DEWASA!
Apakah Anda mengenal seorang motivator luar biasa Agung Webe? Alhamdulillah saya sempat berkenalan dan bersahabat dengan beliau hingga saat ini. Dan syukur alhamdulillah sempat membaca novel beliau “Diary Pramugari: Seks, Cinta dan Kehidupan” yang pernah dalam satu bulan dicetak ulang hingga 5 kali! Sungguh sebuah prestasi luar biasa dari seorang sahabat Agung Webe !
Novel ini merupakan hasil curahatan seorang pramugari, sebut saja namanya JINGGA, kepada Agung Webe (sebut saja AW). Yang kemudian dikemas dalam alur cerita yang bisa membuat emosi Anda naik turun, dan bahkan sejak awal, Agung Webe sudah mengajak kita berkhayal tentang aktivitas seksual… Sungguh novel yang hanya khusus untuk dewasa!
“Jingga,” bisik Anya di telingaku. “Nanti kalau kamu sudah merasakan seks, aku yakin kamu juga akan merasakan ketagihan dengan itu.”
Sebelum saya mengulas lebih lanjut, perlu saya kenalkan beberapa tokoh utama dalam novel ini: yang pertama adalah si pramugari itu sendiri, namanyaJINGGA (samaran), kemudian ada sahabat Jingga, seorang penganut paham bahwa DOSA adalah jika suatu perbuatan merugikan orang laen, jadi berhubungan seks dengan pacar adalah perbuatan yang tidak berdosa, dan ia lakukan berkali-kali dengan pacarnya, namanya ANYA. Kemudian ada jugaPURI , seorang maniak seks… Apa? Maniak seks? Oke jika Anda penasaran, silahkan ikuti dulu ulasan saya berikut ini…
“Jingga, bagiku dosa itu terjadi kalau aku berbuat yang merugikan orang lain. Merusak lingkungan atau sesuatu yang menyebabkan orang lain sengsaran” – penjelasan ANYA kepada JINGGA tentang dosa.
Terus terang, saya suka cara penuturan AW dalam novel ini. Pembaca sedari awal diajak untuk langsung terlibat secara emosional pada novel ini. Bagaimana tidak, kalo Anda cowok tentu akan suka dengan beberapa cerita ANYA di awal novel. Apa yang terjadi antara ANYA dengan pacarnya ANDRE, hmmm…. I don’t want to spoil the surpize….he he…
Novel ini memang bercerita tentang JINGGA mulai dari sebelum dia menjadi pramugari hingga menjadi seorang pramugari resmi. Yang menarik, menurut saya, bukan perjalanan JINGGA dalam karirnya sebagai pramugari, namun lebih ke arah gejolak kehidupan dan berbagai pertanyaan dalam kehidupannya. Bagaimana tidak, JINGGA termasuk muslimah yang taat dan rajin beribadah, namun dia merasakan adanya ‘kekosongan’. Nah peran ANYA sebagai sahabatnya menjadi hal yang aneh… mengapa seorang ANYA yang punya definisi sendiri tentang dosa bisa memberikan berbagai macam ‘petuah’ bagi seorang JINGGA. Dan tentu saja JINGGA menjadi keheranan juga (saya juga heran, he he), walau akhirnya JINGGA bisa menerima beberapa ‘petuah’ tersebut…
Di sisi laen, AW juga mengangkat peran besar seorang ibu dalam membesarkan dan mendidik anaknya, JINGGA, hingga mau tidak mau JINGGA harus berani menghadapi kerasnya kehidupan… Peran ibu JINGGA ini hampir sampe separo novel tersebut dan saya kira kita semua setuju, bahwa sosok IBU adalah yang tidak mungkin kita lupakan sepanjang hayat hidup kita…
Kita juga bisa belajar dari ibu JINGGA ini, tentu saja salah satunya dengan memberikan petuah atau nasehat yang sangat berharga kepada JINGGA melalui budaya jawa. Ingat bahwa JINGGA itu asalnya Solo atau Surakarta.
“Baik dan salah itu relatif. Kalau kamu ingat serat Wulang Reh karya Pakubuwono IV, ada tertulis …bener luput, ala becik lawan begja cilaka mapan saking badan priyangga, dudu saking wong liya, pramila den ngati-ngati, sakeh dirgama singgahan den eling” – nasehat dari ibu JINGGA.
Lantas bagaimana dengan ayah JINGGA, wow kalo yang satu ini JINGGA sangat membencinya… sangat membencinya sehingga berperan dalam menguatkan kebencian JINGGA kepada cowok, hmmm apa iya? Apakah kebencian JINGGA kepada cowok itu sepenuhnya benar atau hanya ungkapan emosi permukaan saja? Artinya dalam lubuk hatinya, JINGGA tidak benar-benar benci dengan cowok… inilah di sepanjang cerita AW menuturkan dan membuat kita menemukan jawabannya… bukankah dalam kehidupan kita juga pernah mengalami? Bilang benci tapi rindu… bilang cinta tapi tak suka… dan seterusnya…
Mulai saat itu aku benci kepada laki-laki. Aku tidak mau dekat dengan laki-laki. Bagiku semua laki-laku sama saja, hanya ingin tubuh dari seorang wanita. Aku juga mulai hati-hati terhadap siapa saja. [ungkapan emosi JINGGA]
Terus mengapa JINGGA sampe membenci ayahnya? Karena menikahi wanita laen atas saran dan ijin dari istrinya alias ibu JINGGA itu sendiri, lha kok bisa… ha ha tentu saja Anda bisa baca alasan dan apa yang terjadi sebenarnya di novel tersebut….
Oke, saat sesekali JINGGA mengungkapkan masa lalu-nya pada waktu SMP, saya sudah menduga apa yang telah terjadi, walaupun akhirnya setelah pengakuan JINGGA hal yang saya duga tersebut tidak sepenuhnya benar, tapi pada prinsipnya sama saja, pelecehan seksual! Namun pelecehan seksual yang mungkin tidak seperti yang Anda duga saat membaca tulisan ini…
Lantas bagaimana dengan PURI (pacar IGO), dia juga sahabat dari JINGGA, hanya saja lebih parah daripada ANYA. Apanya yang lebih parah? Tentu saja Anda saya minta untuk membacanya langsung… he he… Namun JINGGA juga banyak belajar dari PURI, walaupun harus mengalami suatu peristiwa yang sama sekali tidak mengenakkan… PURI berpikir bahwa apa yang dilakukannya merupakan bentuk ekspresi atau emosi yang bisa memuaskan hasratnya…
“Aku juga tidak tahu yang terjadi pada diriku. Semula Igo memang hanya mainanku. Ia hanya alat pemuasku. Tapi…, kini aku yang tidak bisa lepas darinya. Aku… Aku benar-benar jatuh cinta… Ia benar-benar sudah masuk dalam hidupku.” Ungkap Puri…
Ada juga seorang ALVIN, kenalan baru JINGGA, seorang pramugara senior… yang akhirnya juga menjadi bagian dari curhat atau kehidupan JINGGA itu sendiri… dan endingnya sangat menarik serta kontroversial dengan paradigma kehidupan JINGGA itu sendiri… Hmmm mungkin Anda sudah bisa menebak-nebak apa yang terjadi antara JINGGA dan ALVIN, dan maaf jika tebakan Anda bisa jadi keliru…. ha ha…
Oya hadir juga mas Gede, seorang paranormal… menjadikan alur cerita semakin menarik diikuti, walaupun kemunculan-nya ada di bagian-bagian menjelang akhir…
Dari segi alur cerita, wajar dan natural, namun ada sesuatu yang luar biasa dalam alur cerita yang wajar dan natural tersebut. Novel ini memang novel DEWASA! Anda yang terbiasa dengan paradigma kehidupan yang biasa-biasa saja akan dibuat mengernyitkan dahi dan mulai berpikir lantaran pertanyaan-pertanyaan kehidupan JINGGA dan beberapa penjelasan dari ANYA! Dan bisa jadi Anda akan mengatakan… INI NOVEL SESAT! atau barangkali INI BENAR-BENAR NOVEL KHUSUS DEWASA atau barangkali INI NOVEL EDAN! Apapun itu, saya pribadi sangat menikmati cerita (nyata) yang dituturkan mas Agung Webe, sahabat saya…
“Cinta memang harus buta. Yang belum buta bukan cinta. Cinta itu tidak mengenal pertimbangan, tidak mengenal untung rugi. Ia mau melakukan apa saja untuk cintanya. Tidak memikirkan lagi siapa yang dicintainya, tetapi yang dituju adalah rasa cinta itu sendiri. Itulah cinta.” Jelas Anya.
Saya berharap jika Anda membaca novel ini, nantinya akan Anda dapatkan sebuah pencerahan dalam kehidupan, walaupun harus dengan cara yang mungkin tidak Anda sukai, atau bahkan memang Anda sukai dan harapkan…
Diperlukan kedewasaan dalam membaca dan mengikut alur cerita novel “Diary Pramugari” ini… Dan saya bersyukur sekali bisa mendapatkan sahabat seperti mas Agung Webe dan juga berterimakasih sudah mau-maunya menulis novel khusus dewasa ini dengan berbagai macam resiko yang akan beliau hadapi… termasuk menjadi novel BEST SELLER!! Terima kasih… dan selamat membaca…!
Sumber resensi dari SINI
Rahuvana Tattwa, Membaca Epik Ramayana Dengan Sudut Pandang Terbalik.
Ketika masku memilih membeli buku ini di pameran buku di Gedung KONI beberapa waktu lalu, agak males melihat ketebalannya yang hampir 600 halaman. Apalagi ketika sekilas membukanya langsung berhadapan dengan kamus yang mengartikan kata-kata yang sedikit bikin puyeng. Buku ini menceritakan tentang Epik Ramayana, cerita pewayangan yang sudah masyhur itu. Cerita asli Ramayana dikarang oleh Valmiki. Menceritakan perjalanan Ravana (Rahwana), atau kita mengenalnya dengan Prabu Dasamuka, Raja dengan Sepuluh Wajah.
Saya memang sejak kecil sedikit banyak mengenal cerita pewayangan. Karena Abah saya dulu langganan Jayabaya dan Panyebar Semangat, Majalah mingguan berbahasa Jawa. Bahkan nilai STTB saya mendapat nilai 9 untuk mata pelajaran Bahasa Daerah. Hanya bedanya jika Rahuvana Tattwa menceritakan asal-usul sampai Ravana gugur sementara cerita pewayangan di kedua majalah tersebut biasanya menceritakan setahap demi setahap atau penggalan seri Ramayana ini. Jadi sangat menarik juga membaca cerita pewayangan dengan versi lengkap dan silsilah yang cukup bikin mumet.
Karya-karya Mas Agus Sunyoto sendiri lebih bergaya novel, namun hebatnya novel yang dihasilkan selalu melalui studi empiris. Pada Rahuvana Tattwa ini ada kurang lebih 30 puluhan referensi yang dia gunakan. Jadi walaupun berbentuk novel namun seakan-akan nyata, bahkan seperti jurnal yang berbentuk novel, saking validnya. Dan sejujurnya sangat mengasyikkan membaca Novel Mas Agus Sunyoto ini, selain ceritanya mudah diikuti walaupun dibaca oleh orang yang awam tentang cerita pewayangan sekalipun, namun yang lebih asyik bahwa novel ini mengambil sudut pandang yang berbeda dari cerita aslinya. Jadi kalau pada versi aslinya, Valmiki menggambarkan betapa kejamnya si Ravana (setelah menjadi raja ia bergelar Rahuvana), betapa biadabnya bangsa raksasha, dan Rama digambarkan sebagai ksatriya keturunan Dewa, atau bagaimana si Hanuman kera sakti ksatriya pembantu Sri Rama yang gagah berani tanpa tandingan. Namun pada versi Mas Agus Sunyoto keadaan itu benar-benar dibalik 180 derajat. Ia ceritakan bahwa si Ravana adalah keturunan bangsa yang lebih beradab, daripada keturunan Indra Raja para Dewa. Sungguh apik penggambarannya dan mengalir seakan kita dipaksa untuk tidak bisa protes dengan pendapatnya tersebut, bahkan asyik-asyik saja membaca novel dengan sudut pandang terbalik.
Satu lagi ciri khas yang tak bisa hilang dari karya Mas Agus Sunyoto, dia berusaha menyelipkan pendapat yang melangit namun tak berkesan menggurui. Lihatlah dialog ketika Sri Rama berbuat culas dengan memanah Bali, Raja Kiskindha dari belakang ketika Bali sedang berhadapan dengan adiknya Sugriva yang mengkhianati kakaknya dengan merebut tahta Kiskindha dengan bantuan Sri Rama. Begitu Bali tahu bahwa yang membokongnya dari belakang adalah Rama yang dikenal sebagai ksatriya, dia sangat kecewa dan menangis, lihatlah dialog indah ini,
“Aku menangis bukan karena kesakitan terkena panah saktimu wahai Rama, jika aku ditakdirkan mati maka memang itulah jalanku untuk kembali, namun aku menangis karena engkau sebagai ksatriya telah melakukan tindakan yang jauh dari sifat ksatriya. Bahkan sangat menjijikkan.”
Demi mendengar kalimat Bali seorang raja yang terkenal arif itu Rama hanya bisa klincutan.
Atau bagian ini yang paling kusuka, ketika Rahuvana akhirnya gugur membela tanah airnya. Rahuvana yang terkenal dengan kesaktianyan tiada tanding, bahkan karena ketekunan dan kesungguhannya dalam semedi untuk menyempurnakan ilmunya ia dianugerahi ilmu yang bisa mempengaruhi tiga dunia. Itu ilmu yang sangat tinggi, yang tak sembarangan orang mampu mempelajarinya. Ketika dikisahkan, akhirnya ia harus gugur dan kalah oleh ilmu yang justru meniadakan segalanya. Ilmu yang hanya bisa dicapai oleh Rama jika ia bermunajat dan mencapai derajat Yang Tak Terbayangkan. Jadi segala kesaktian dan tetek bengek ilmu yang dimiliki Rahuvana hanya bisa dikalahkan oleh Yang Tak Terbayangkan.
Atau ketika Rahuvana mempelajari ilmu Pancasuna, ia tak bisa mencapai level tertinggi ilmu tersebut karena dalam hatinya masih ada semacam keinginan bahwa ilmunya akan digunakan untuk membangun peradaban dan membalaskan dendam pada Dewa Indra. Dan ternyata yang bisa mencapai kesempurnaan ilmu tersebut adalah Kumbhakarna, adik dari Rahuvana, karena Kumbakharna tidak mempunyai ambisi apapun dalam mendalami ilmu tersebut, sehingga Sang Brahma pun menganugerahinya 2 ilmu Brahma tingkat tertinggi dimana ia tak akan terluka dan terbunuh oleh senjata apapun dan oleh siapapun jika ia masih berpijak ditanah.
Juga digambarkan bagaimana sebenarnya Rahuvana lebih romantis dan sopan sikapnya terhadap Sita dibanding Rama yang notabene adalah suaminya sendiri, bahkan Rama mencurigai Sita telah berselingkuh dengan Rahuvana, dan membiarkan Sita Obong, atau membakar dirinya kedalam api. Alih-alih menerima istrinya kembali setelah bela pati obong tersebut, Rama bahkan semakin cuek dengan istrinya.
Novel diakhiri dengan sangat manis dan heroik. Satu persatu keturunan dan saudara Rahuvana akhirnya gugur sebagai pahlawan yang membela tanah air dan bangsanya. Keruntuhan Rahuvana karena pengkhianatan adiknya lain ibu, bernama Bhibisana. Karena semua saudara Rahuvana dididik oleh Ayah (Visrava) dan kakek (Sumali) sehingga mereka semua tahu kelemahan dan kelebihan masing-masing. Dan pada akhirnya semua gugur karena kelemahan mereka satu persatu ditunjukkan oleh Bhibisana si pengkhianat kepada Rama. Walaupun pada akhirnya ia menjadi Raja di Alengka menggantikan Rahuvana yang telah parastra, namun ia sudah tak memiliki prajurit ataupun bangsa rakhsasa pilihan yang mendampinginya, sehingga dia merasa kesepian dan merasakan hidup yang hampa hingga akhir hayatnya. Tidak seperti Rahuvana yang sangat di puja-puja dan sangat dihormati dan dicintai oleh rakyat dan bangsanya. Sehingga semua rakyatnya bersedia bela pati untuk mempertahankan kehormatan tanah air dan bangsanya.
Yang jelas sangat asyik membaca Novel ini, terbukti novel tebal tersebut dapat kuselesaikan dalam tempo 2 hari. Untuk menambah khasanah pengetahuan kita tentang Pewayangan, tentunya dengan versi lain rasanya tidak rugi membaca novel ini. Asyik, itu satu kata yang bisa saya ungkapkan. Terima kasih buat Mas Agus Sunyoto, saya akan selalu menunggu karya-karya sampeyan. Semoga Allah membarakahi sampeyan dan keluarga sehingga akan lebih banyak karya-karya yang sampeyan hasilkan. Bi barakatillah.Ujung, 05.06.07 (tanggal yang bagus tuh)
Saya memang sejak kecil sedikit banyak mengenal cerita pewayangan. Karena Abah saya dulu langganan Jayabaya dan Panyebar Semangat, Majalah mingguan berbahasa Jawa. Bahkan nilai STTB saya mendapat nilai 9 untuk mata pelajaran Bahasa Daerah. Hanya bedanya jika Rahuvana Tattwa menceritakan asal-usul sampai Ravana gugur sementara cerita pewayangan di kedua majalah tersebut biasanya menceritakan setahap demi setahap atau penggalan seri Ramayana ini. Jadi sangat menarik juga membaca cerita pewayangan dengan versi lengkap dan silsilah yang cukup bikin mumet.
Karya-karya Mas Agus Sunyoto sendiri lebih bergaya novel, namun hebatnya novel yang dihasilkan selalu melalui studi empiris. Pada Rahuvana Tattwa ini ada kurang lebih 30 puluhan referensi yang dia gunakan. Jadi walaupun berbentuk novel namun seakan-akan nyata, bahkan seperti jurnal yang berbentuk novel, saking validnya. Dan sejujurnya sangat mengasyikkan membaca Novel Mas Agus Sunyoto ini, selain ceritanya mudah diikuti walaupun dibaca oleh orang yang awam tentang cerita pewayangan sekalipun, namun yang lebih asyik bahwa novel ini mengambil sudut pandang yang berbeda dari cerita aslinya. Jadi kalau pada versi aslinya, Valmiki menggambarkan betapa kejamnya si Ravana (setelah menjadi raja ia bergelar Rahuvana), betapa biadabnya bangsa raksasha, dan Rama digambarkan sebagai ksatriya keturunan Dewa, atau bagaimana si Hanuman kera sakti ksatriya pembantu Sri Rama yang gagah berani tanpa tandingan. Namun pada versi Mas Agus Sunyoto keadaan itu benar-benar dibalik 180 derajat. Ia ceritakan bahwa si Ravana adalah keturunan bangsa yang lebih beradab, daripada keturunan Indra Raja para Dewa. Sungguh apik penggambarannya dan mengalir seakan kita dipaksa untuk tidak bisa protes dengan pendapatnya tersebut, bahkan asyik-asyik saja membaca novel dengan sudut pandang terbalik.
Satu lagi ciri khas yang tak bisa hilang dari karya Mas Agus Sunyoto, dia berusaha menyelipkan pendapat yang melangit namun tak berkesan menggurui. Lihatlah dialog ketika Sri Rama berbuat culas dengan memanah Bali, Raja Kiskindha dari belakang ketika Bali sedang berhadapan dengan adiknya Sugriva yang mengkhianati kakaknya dengan merebut tahta Kiskindha dengan bantuan Sri Rama. Begitu Bali tahu bahwa yang membokongnya dari belakang adalah Rama yang dikenal sebagai ksatriya, dia sangat kecewa dan menangis, lihatlah dialog indah ini,
“Aku menangis bukan karena kesakitan terkena panah saktimu wahai Rama, jika aku ditakdirkan mati maka memang itulah jalanku untuk kembali, namun aku menangis karena engkau sebagai ksatriya telah melakukan tindakan yang jauh dari sifat ksatriya. Bahkan sangat menjijikkan.”
Demi mendengar kalimat Bali seorang raja yang terkenal arif itu Rama hanya bisa klincutan.
Atau bagian ini yang paling kusuka, ketika Rahuvana akhirnya gugur membela tanah airnya. Rahuvana yang terkenal dengan kesaktianyan tiada tanding, bahkan karena ketekunan dan kesungguhannya dalam semedi untuk menyempurnakan ilmunya ia dianugerahi ilmu yang bisa mempengaruhi tiga dunia. Itu ilmu yang sangat tinggi, yang tak sembarangan orang mampu mempelajarinya. Ketika dikisahkan, akhirnya ia harus gugur dan kalah oleh ilmu yang justru meniadakan segalanya. Ilmu yang hanya bisa dicapai oleh Rama jika ia bermunajat dan mencapai derajat Yang Tak Terbayangkan. Jadi segala kesaktian dan tetek bengek ilmu yang dimiliki Rahuvana hanya bisa dikalahkan oleh Yang Tak Terbayangkan.
Atau ketika Rahuvana mempelajari ilmu Pancasuna, ia tak bisa mencapai level tertinggi ilmu tersebut karena dalam hatinya masih ada semacam keinginan bahwa ilmunya akan digunakan untuk membangun peradaban dan membalaskan dendam pada Dewa Indra. Dan ternyata yang bisa mencapai kesempurnaan ilmu tersebut adalah Kumbhakarna, adik dari Rahuvana, karena Kumbakharna tidak mempunyai ambisi apapun dalam mendalami ilmu tersebut, sehingga Sang Brahma pun menganugerahinya 2 ilmu Brahma tingkat tertinggi dimana ia tak akan terluka dan terbunuh oleh senjata apapun dan oleh siapapun jika ia masih berpijak ditanah.
Juga digambarkan bagaimana sebenarnya Rahuvana lebih romantis dan sopan sikapnya terhadap Sita dibanding Rama yang notabene adalah suaminya sendiri, bahkan Rama mencurigai Sita telah berselingkuh dengan Rahuvana, dan membiarkan Sita Obong, atau membakar dirinya kedalam api. Alih-alih menerima istrinya kembali setelah bela pati obong tersebut, Rama bahkan semakin cuek dengan istrinya.
Novel diakhiri dengan sangat manis dan heroik. Satu persatu keturunan dan saudara Rahuvana akhirnya gugur sebagai pahlawan yang membela tanah air dan bangsanya. Keruntuhan Rahuvana karena pengkhianatan adiknya lain ibu, bernama Bhibisana. Karena semua saudara Rahuvana dididik oleh Ayah (Visrava) dan kakek (Sumali) sehingga mereka semua tahu kelemahan dan kelebihan masing-masing. Dan pada akhirnya semua gugur karena kelemahan mereka satu persatu ditunjukkan oleh Bhibisana si pengkhianat kepada Rama. Walaupun pada akhirnya ia menjadi Raja di Alengka menggantikan Rahuvana yang telah parastra, namun ia sudah tak memiliki prajurit ataupun bangsa rakhsasa pilihan yang mendampinginya, sehingga dia merasa kesepian dan merasakan hidup yang hampa hingga akhir hayatnya. Tidak seperti Rahuvana yang sangat di puja-puja dan sangat dihormati dan dicintai oleh rakyat dan bangsanya. Sehingga semua rakyatnya bersedia bela pati untuk mempertahankan kehormatan tanah air dan bangsanya.
Yang jelas sangat asyik membaca Novel ini, terbukti novel tebal tersebut dapat kuselesaikan dalam tempo 2 hari. Untuk menambah khasanah pengetahuan kita tentang Pewayangan, tentunya dengan versi lain rasanya tidak rugi membaca novel ini. Asyik, itu satu kata yang bisa saya ungkapkan. Terima kasih buat Mas Agus Sunyoto, saya akan selalu menunggu karya-karya sampeyan. Semoga Allah membarakahi sampeyan dan keluarga sehingga akan lebih banyak karya-karya yang sampeyan hasilkan. Bi barakatillah.Ujung, 05.06.07 (tanggal yang bagus tuh)
ditulis oleh bunda Gangga-Gautama-…
SUmber dari sini.
Buku ini dapat di pesan di : SINI
Rabu, 19 Februari 2014
Layla Majnun, Sebuah Kitab yang Tak Biasa (Muhammad Al-Fayyadl, Penulis Derrida, LKis 2005)
Aku baru saja berdiri dari tempat duduk ketika kusadari gagang kacamataku basah oleh sedikit rembesan air mata. Sebuah buku telah menghisapku sedemikian dalam ke seluruh pori-pori katanya, membuat apa yang terkatakan menjadi tak terkatakan, dan menjadikan waktu dan detak jantung seperti sepakat untuk berhenti bersama. Aku tahu ini hanyalah fiksi, cerita yang telah menjadi sebuah legenda dari masa ke masa, namun bagi otak bawah sadarku ini adalah fakta yang nyata. Toh, apalah arti fakta dan fiksi di bawah dunia fana ini—yang barangkali hanyalah “rekaan” bagi pikiran Dia Sang Maha di langit sana?
Layla Majnun bukan sebuah buku biasa. Tadi sore tanpa sengaja aku memilihnya, lalu membelinya, dan membawanya ke ruang baca. Tak terpikirkan olehku bahwa aku akan membaca novel yang judulnya sudah lama kutahu itu, dan bagiku tampak klise. Aku menyadari bahwa sangkaanku salah: buku ini—jika kau pernah membacanya, sebaiknya kau tak beranjak sedikit pun sampai kau benar-benar mengkhatamkannya.
Terpujilah untuk penerjemah dan penyunting buku ini, yang berhasil menyuguhkan suatu bacaan yang sangat hidup dan “sempurna” ke sidang pembacanya. Kalian berdua adalah pasangan serasi, ibarat Majnun dan Layla. Terpujilah untuk penerbit buku ini, yang mau menerbitkan buku yang akan memperkaya khazanah kata. Terpujilah Nizami sang pengarang, seorang pujangga Persia abad ke-12, yang mau menggubah kisah ini dengan kecemerlangan yang sulit ditandingi. Dan tentu saja, tak akan pernah lupa, terpujilah untuk Dia yang menciptakan Layla dan Majnun ke dunia ini, yang untuk cinta-Nya Nizami dan para pengarang-sufi lainnya berkarya.
Perlukah bagiku untuk menceritakan kembali isi buku yang tak biasa ini? Jika kau membaca sendiri buku ini, kau akan mengerti kenapa kata-kata seperti harus meluap-luap untuk menggambarkan nuansanya. Aku yang baru membacanya sekali, seperti ingin berteriak kegirangan dan menari sejenak walau cuma dalam imajinasi. Bagaimana dengan William Shakespeare, yang tergerak menulis Romeo and Juliet untuk meniru keindahan buku ini? Bagaimana dengan Jalaluddin Rumi, yang menjadikan karya ini inspirasi terpenting bagi Matsnawi-nya? Terbayangkankah betapa mereka tak cuma girang dan menangis, tapi juga menari? Seperti al-Hallaj yang berteriak sempoyongan karena ketergilaannya pada Tuhan, sang Mawlana—Rumi—pastilah ekstase setelah membaca karya ini.
Sejatinya Layla Majnun adalah kisah “tragis” tentang cinta yang tak sampai antara dua orang manusia. Seseorang bernama Qays, dan seseorang lagi bernama Layla. Mereka bertemu, saling jatuh cinta, namun hubungan mereka tak direstui. Mereka kemudian berpisah secara menyakitkan, ketika cinta mereka sedang di puncak baranya. Qays begitu tergila-gila pada Layla hingga menyebutnya sepanjang waktu, menyanyikan sajak-sajak cinta di mana pun ia berada-hingga orang mencapnya “Majnun” alias sinting. Ia menelantarkan studinya karena cintanya pada Layla, ia merendahkan harga dirinya karena cinta, dan menggelandang kesana kemari hanya untuk mengungkapkan cintanya kepada Layla.
Padahal Qays adalah anak bangsawan kaya. Dan ayahnya, tahu dan sedih dengan kondisi Qays, berminat melamar Layla, namun lamaran itu ditolak mentah-mentah oleh ayah Layla. Qays semakin majnun, semakin tenggelam dia dalam kegilaannya, dan orang-orang terus mencemooh dan mencacinya karena ketidakwarasan itu, hingga kemudian ada seorang kesatria Arab bernama Naufal membantu ingin merebut Layla dari sukunya dan mempertemukan Layla dengan Qays
Terjadi perang besar, suku Layla kalah, namun ayah Layla tak mau menyerahkan Layla kepada Naufal. Qays tetap merana dalam kesendiriannya. Ia berkelana ke gurun-gurun pasir tanpa kejelasan nasib, pikirannya terlalap api cinta, dan tubuhnya semakin menderita, kurus ceking dan tinggal tulang belulang. Sementara, Layla diincar oleh seorang pemuda Arab bernama Ibnu Salam yang datang melamar ke keluarga Layla dan diterima. Layla pun dinikahkan dengan Ibnu Salam, walaupun lelaki itu tak pernah dicintainya. Dan benar, selama bersama dengan Ibnu Salam, kesucian Layla tetap terjaga; lelaki itu, meski jadi suaminya, tak pernah bisa menyentuhnya.
Selama masa-masa perpisahan itu, Qays si Majnun hidup di hutan, berkawan dengan rimba, dengan binatang-binatang, dan kehilangan akal kemanusiaannya. Terasing dari keluarganya, dari sukunya, dan bahkan dari manusia, dia memilih hidup untuk merawat cinta, sendiri di ganasnya hutan belantara. Sementara Layla berhari-hari memendam rindunya pada Qays, Qays membalas rindunya pada Layla dengan sajak-sajak cinta yang dititipkannya pada alam raya. Hingga keduanya mati, mereka hanya bertemu sekali di ujung perpisahan panjang itu. Layla mati, dan Qays pun menyusul kekasihnya ke gerbang kematian. Demikianlah, seseorang kemudian bermimpi melihat keduanya bercengkerama bersama dan saling bermesra ria di surga…
Tak ada yang pernah dapat menceritakan kembali keanggunan Layla Majnun hanya dalam satu-dua halaman, kecuali kau menjelma Nizami, dan kalaupun ada yang mau meringkasnya, jangan pernah percaya sebelum kau membacanya dengan mata kepala. Layla Majnun bagiku bukan untuk diceritakan ulang; karya ini untuk dibaca dan dihayati, terutama jika kau pernah mencecap apa yang disebut “cinta”.
Layla Majnun bukan kisah cinta biasa. Cinta antara jantan dan betina, antara dua jiwa yang sekadar ingin bersama. Ia bukan cinta yang sering kali berselubung nafsu dan berahi. Jika saja kau benar-benar merasakannya, mencecapnya hingga kata-kata terakhir di dalamnya, kau akan tahu betapa karya ini sebenarnya berbicara tentang cinta yang lebih hakiki, cinta seorang hamba pada Tuhannya.
Majnun adalah tipikal seorang hamba yang diperbudak oleh cintanya. Sedangkan Layla adalah tipikal seorang kekasih yang mendamba untuk dicintai. Majnun adalah seorang pencari cinta, sedangkan Layla adalah penunggu cinta. Majnun adalah budak cinta yang menghamba untuk diizinkan mencintai, sedangkan Layla adalah majikan yang tak sabar untuk segera dicintai. Bukankah semua ini cukup menggambarkan hubungan antara seorang hamba dengan Tuhannya?
Tuhan, seperti pernah dikatakannya dalam sebuah hadis Qudsi, adalah Khazanah Tersembunyi. Ia ingin dikenal, maka ia ciptakan semesta dan seisinya. Ia mencipta bukan karena Ia butuh kepada ciptaannya, tapi agar Ia kelak dikenal dan dirindu—serta dicumbu—oleh ciptaannya.
Layla Majnun memberi kita ruang untuk menafsiri cinta sesuka hati kita, seturut nurani pembacanya. Namun, pembaca yang satu ini lebih memilih menafsiri dengan kegilaan yang sudah lama tak dirasakannya—kegilaan yang dulu membuatnya begitu gandrung pada al-Hallaj dan sufi-sufi sinting lainnya. Dalam kegilaannya, yang hanya sepersekian persen dari kegilaan Majnun, pembaca yang satu ini menuliskan satu pasase di halaman pertama buku yang baru dibelinya: sebuah tanda tangan dan sebuah doa “Semoga Allah selalu merahmati Nizami dengan keluhuran karyanya…”.
(*Persembahan untuk edisi Layla Majnun [yang sementara ini tampaknya merupakan edisi terbaik dalam bahasa Indonesia] karya Nizami, diterjemahkan dari bahasa Inggris oleh Ali Noer Zaman dan disunting oleh Salahuddien Gz, Kayla Pustaka, Jakarta, cet. I Februari 2009… dan juga persembahan untuk Layla-ku, “masihkah kau selalu jadi Layla bagi Majnun-mu?”)
Pesan buku ini di SINI
Langganan:
Postingan (Atom)
Popular Posts
Connect with Facebook
Todays Quote :
Love is the expansion of two natures in such a fashion that each includes the other, each is enriched by the other. #Felix Adler 1851-1933








