Resensi Terbaru
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan
Minggu, 02 Maret 2014
Jakarta Siapa yang Punya?
Jakarta jadi ajang ‘pertempuran’ lagi. Setidaknya hal ini yang terlihat dari para kandidat gubernur dan wakilnya yang mencalonkan diri menjadi orang nomor satu di ibukota negara. Pencalonan para kandidat tersebut memperlihatkan tabuhan ‘genderang perang’ pertama partai-partai politik yang akan bertarung pada Pemilu 2014 nanti.
Seberapa pentingkah Jakarta bagi partai-partai politik tersebut yang mencalonkan para kandidatnya? Jelas penting karena pilkada kali ini dapat menjadi ajang mengukur kekuatan mesin politik menghadapi Pemilu 2014. Namun, hal yang terpenting adalah apakah para kandidat tersebut kelak mampu mengatasi berbagai persoalan di Jakarta. Mulai dari kemacetan, kebakaran, hingga banjir.
Berbagai peneliti telah mengupas Jakarta serta persoalannya dari berbagai sisi. Hal yang menarik adalah bila kita membahas tentang Jakarta, seolah tidak akan ada habisnya. Satu nama yang kerap menjadi sumber para peneliti tentang Jakarta yaitu Frederik ‘si Jago’ de Haan. De Haan ini pula yang termasuk salah satu sumber dalam buku Jakarta: Sejarah 400 Tahun karya Susan Blackburn.
Buku ini merupakan terjemahan dari edisi revisi Jakarta: A History (1989) karya Susan Blackburn yang ketika itu masih bernama Susan Abayasekere. Ketika pertama kali terbit pada 1987 buku tersebut sempat dilarang beredar.
Alasan yang dikemukakan oleh pemerintah ketika itu adalah pemerintah tidak suka dengan cara meneliti dan pengungkapan Susan mengenai Jakarta yang pernah dijuluki Ratu dari Timur (Queen of the East). Hal tersebut tidak ada kaitannya dengan metode yang digunakannya melainkan tesis yang diajukan oleh Susan membuat pihak-pihak yang berkepentingan tidak berkenan.
Susan mengajukan tesis bahwa Jakarta merupakan kota yang dibangun untuk memuaskan impian para penguasa dan pemilik modal serta tidak memerhatikan kelompok masyarakat lain yaitu masyarakat bawah alias wong cilik.
Dilihat dari sejarah perkembangan Jakarta, Jakarta memang mengalami perubahan serta kesinambungan seiring pergantian penguasanya. Mulai dari penguasa VOC (Verenigde Oost Indische Compagnie), sebuah perusahaan dagang yang kerap disebut kompeni dan pada awalnya membangun benteng di salah satu wilayah bagian utara Jakarta sekarang.
Hal ini dibahas pada bagian pertama: ‘Tuan-Tuan Lama’. Bagian tersebut membahas Jakarta pada periode abad ke-17 (1619) hingga menjelang masuknya Jepang pada 1942. Pada bagian ini terdiri dari tiga bab: ‘Kota Kompeni: Asal Mula Hingga 1800’, ‘Kota Kolonial: Batavia pada Abad ke-19’, dan ‘Batavia 1900-1942: Kota Kolonial Menghadapi Tantangan’.
Pada masa kolonial, pemerintah Hindia-Belanda berharap Jakarta menjadi salah satu kota yang menjadi kota bagi masyarakat kulit putih. Di sini kita mengenal istilahbenedenstad (kota lama) , kawasan Weltevreden hingga Menteng.
Pada bagian kedua ‘Masa Peralihan Pemerintahan’ yang membahas Jakarta pada periode perang hingga pasca kemerdekaan hanya terdiri dari satu bab ‘Pendudukan Jepang dan Perjuangan Meraih Kemerdekaan, 1942-1949’ .
Setelah berada di bawah pemerintah Hindia-Belanda dan mengalami masa peralihan, Jakarta berada di bawah kekuasaan pemerintah Republik Indonesia. Periode tersebut dibahas pada bagian ketiga. Pada bagian ini ‘Tuan-Tuan Baru’ membahas Jakarta di bawah Soekarno dan pemerintahan Orde Baru. Pada bagian ini terdiri dari dua bab: ‘Jakarta Masa Sukarno: 1950-1965’ dan ‘Jakarta di Bawah Pemerintahan Sadikin dan Para Penerusnya: 1966-1985’
Pada masa Republik Indonesia, Jakarta dirancang untuk menjadi kota kebanggaan nasional di mana berbagai proyek dibangun dan pada masa Orde Baru, Jakarta menjadi kota pusat perekonomian negeri.
Benang merah yang menjadi penghubung antar periode tersebut adalah Jakarta dibangun hanya untuk kepentingan kelompok tertentu bukan untuk seluruh masyarakat. Dalam setiap periode, Jakarta terus menghadapi permasalahan dan tak kunjung mampu mengatasinya. Sebut saja masalah banjir, air bersih, sampah, kemacetan yang akarnya sudah terlihat dari awal dan masih dirasakan hingga kini. Permasalahan itu pula yang menjadi pekerjaan rumah para kandidat gubernur.
Sehubungan dengan periode yang dibahas (sampai 1985), khususnya dengan data yang mendukung buku ini, sepertinya membuat buku ini ketinggalan zaman. Apalagi pasca peristiwa Reformasi 1998 juga memberikan pengaruh dan mengubah wajah Jakarta sekarang. Hal ini sebenarnya sudah dijawab oleh Susan Blackburn dalam kata pengantarnya bahwa diperlukan satu buku tersendiri untuk membahas periode tambahan tersebut.
Selain disusun secara kronologis buku ini dilengkapi peta dan ilustrasi yang membantu kita untuk membayangkan kembali situasi pada periode yang dibahas.
Siapa pun yang kelak menjadi orang nomor satu di Jakarta, diharapkan juga dapat menyuarakan suara masyarakat, khususnya masyarakat kecil. Tidak hanya segelintir elite, baik penguasa dan pemilik modal. Oleh karena Jakarta adalah milik kita semua. Jakarta punya kita.
Sumber Resensi : INI
Sumber Resensi : INI
.....................................................
Pesan Buku " JAKARTA Sejarah 400 Tahun " di SINI.
Kisah-kisah Memukau dari Swarna Dwipa
Kisah-kisah Memukau dari Swarna Dwipa
Sumatera sudah mendunia sejak berabad-abad lampau. Perdagangan rempah-rempah terutama pala membawa para pedagang dari berbagai tempat termasuk Eropa mulai dari Italia, Prancis, Portugal, Belanda, Jerman, dan Inggris serta datang dari Arab dan Persia untuk berkunjung ke Sumatera. Pasai, Baros, dan Sriwijaya adalah nama-nama pelabuhan besar yang didatangi oleh para saudagar ini. Sumatera pun dikenal sebagai pulau yang kaya dengan hasil alam dan memiliki nama Swarna Dwipa alias Pulau Emas.
Para pendatang dari berlatar belakang profesi itu kemudian menuliskan catatan perjalanan dalam berbagai bentuk mulai dari memoar, jurnal, hingga tulisan semi fiksi. Beragam tulisan yang menjadi bagian penting dari rekam jejak sejarah Sumatera.
Marco Polo yang ternama dengan kisah Jalan Sutra-nya, penjelajah muslim Ibnu Battuta, Thomas Dias, gubernur jenderal Thomas Stamford Raffles, serta lain-lainnya pernah mampir dan tinggal di Sumatera. Lantas mereka menuliskan pengalamannya saat berada di Sumatera.
Cerita, kisah, dan penggambaran mereka perihal Sumatera pun begitu mencengangkan dan memukau. Bisa jadi tidak ada dalam buku sejarah pada umumnya. Para penulis dari luar ini berkisah soal apa saja mulai dari sosial, budaya, agama, hingga politik di Sumatera. Sementara hanya ada dua “penulis lokal Sumatera” yaitu Tan Malaka, salah satu founding father negeri ini dan juga Muhamad Radjab, seorang jurnalis di awal abad ke-20.
Adalah Anthony Reid, sejarawan dengan spesialisasi Asia Tenggara yang mengumpulkan sederetan tulisan-tulisan itu dan kemudian membaginya dalam delapan bab dalam buku Sumatera Tempo Doeloe : Dari Marco Polo sampai Tan Malaka. Buku yang diterjemahkan dari Witnesses to Sumatra : A Travelers’ Anthology yang terbit pada 1995 ini tidak menyuguhkan sejarah Sumatera secara runut. Reid mengelompokkan tulisan-tulisan itu dalam topik dan tema yang relevan dan sama.
Para penulis ini tentunya “bebas” menuliskan apa saja. Mereka yang datang dan menetap di Sumatera saat itu pasti mengamati setiap sudut wilayah, polah tingkah masyarakat, dan lainnya. Sudah pasti para penulis memiliki sudut pandang yang bisa saja tidak adil, subyektif, dan terasa tidak simpati kepada masyarakat Sumatera. Apalagi mereka sering menganalogikan apa yang terjadi di Sumatera dengan negara asalnya.
Lantaran itu juga Reid memberikan semacam panduan dan catatan pada setiap tulisan. Rentang waktu yang lama dari kisah yang berusia sejak abad ke-9 hingga abad ke-20 ini tentu sangat berjarak dengan para pembaca yang berada di abad ke-21. Semua itu memang diberikan Reid agar orang yang membaca tulisan-tulisan itu mengenal para penulis yang memang banyak belum dikenal kecuali Marco Polo, Ibnu Battuta, atau Raffles. Selain itu, Reid juga ingin agar orang yang membaca buku ini memahami situasi, kondisi, dan konteks suasana saat itu.
Bisa jadi, apa yang tertulis dalam buku Sumatera Tempo Doeloe : Dari Marco Polo sampai Tan Malaka ini berbeda dengan teks-teks sejarah yang kita ketahui, hikayat sejarah, teks keagamaan, dan lainnya, tetapi tulisan-tulisan ini setidaknya memberikan sudut pandang baru tentang sejarah Sumatera.
_______________________________
Penulis: Dodiek Adyttya Dwiwanto
Sumber: Jurnal Nasional, 16 Februari 2014
_______________________________
Judul : Sumatra Tempo Doeloe
Penyusun : Anthony Reid
Penerjemah : Tim Komunitas Bambu
Penyunting : Dewi Anggraeni
Penerbit : Komunitas Bambu
Cetakan : Kedua, Januari 2014
Tebal : 424 halaman
Jumat, 21 Februari 2014
Resensi Buku "Di Bawah Bendera Revolusi"
Gugatan dari Kaleng Rombeng demikianlah Majalah Tempo memberikan judul tulisan resensi mengenai Soekarno, yang bagi bangsa Indonesia familiar dengan sebutan Bung Karno. sebuah Panggilan yang menurutnya cukup mewakili semangat egalitarian jauh dari semangat feodalisme yang mengungkung bangsanya, seperti halnya panggilan "che" di Amerika Latin. Berikut tulisan sebagaimana hasil liputan Tempo:
...BAGI Soekarno, kaleng rombeng berbau pesing adalah alat buang hajat sekaligus sarana menuangkan pikiran. Di penjara Banceuy, Bandung, 1930, tiap malam lelaki itu menjadikan kaleng itu sebagai meja sekaligus tadah buang hajat. Jika pagi tiba, ketika ia diizinkan meninggalkan sel, dibawanya kaleng itu ke kamar mandi untuk dibersihkan. Setelah itu, dengan dilapisi beberapa lembar kertas, ia pakai lagi sebagai meja untuk menulis.
Hampir setahun di Banceuy, berlembar-lembar tulisan lahir di atas kaleng pesing itu. Salah satunya adalah pembelaan yang kemudian disebut “Indonesia Menggugat”.
Dalam pleidoinya itu, Soekarno berbicara tentang penderitaan rakyat setelah tiga setengah abad dihisap koloni Belanda. Ia juga berbicara mengenai pendirian Partai Nasional Indonesia dan pergerakan yang dipercayainya dapat membebaskan Indonesia dari kolonialisme dan imperialisme. Bahasanya lugas, tapi nadanya menyala-nyala. Ketika membacanya dalam 19 kali persidangan di Jalan Landraad, Bandung, gedung itu sesak oleh manusia. Naskah itu bahkan sempat diterbitkan dalam selusin bahasa di dataran Eropa.
Soekarno ditahan setelah ditangkap di Yogyakarta, ketika akan mengikuti pertemuan politik partainya di Solo. Hari itu, pagi 29 Desember 1929, setengah lusin polisi Indonesia yang dipimpin inspektur Belanda mencokoknya atas nama Sri Ratu. Ditahan semalam di penjara Mergangsan, Yogyakarta, Soekarno dan dua kawannya dibawa ke Banceuy, bui Bandung-penjara tingkat rendah, kotor, dan berbau.
Divonis empat tahun penjara, Soekarno dibebaskan pada 31 Desember 1931. Gubernur Jenderal De Graeff saat itu agaknya tak tahan atas kritik pedas terhadap putusan membui Soekarno. Tapi tiga tahun kemudian Soekarno ditangkap lagi dan diasingkan ke Ende dan Bengkulu.
BANDUNG adalah tempat Soekarno muda membuat sejarahnya. Semula, ia hanya berniat kuliah di Bandoeng Technische Hoogeschool-sekarang Institut Teknologi Bandung-mengambil jurusan arsitektur. Tapi pergulatan batin dan pertemuannya dengan para tokoh di kota itu membuat Soekarno, setelah lulus pada 1926, berbelok ke jalur politik. Sebelumnya ia pernah mendirikan biro konsultan meski mandek karena tak ia urus.
Saat itu Soekarno sudah mendirikan Algemeene Studie Club di Bandung. Organisasi ini menjadi cikal bakal Partai Nasionalis Indonesia (PNI), yang didirikannya bersama Mr Iskak, Dr Tjipto Mangoenkoesoemo, Mr Boediardjo, dan Mr Soenarjo, pada 1927.
Kegiatan klub itu adalah mendiskusikan bacaan, terutama buku-buku “babon” berbahasa Belanda yang dipinjam dari perpustakaan. Bergantian mereka membacanya lalu berdiskusi dan membuat tulisan. Saat itu usia Soekarno baru 25 tahun. Ketika kawan-kawan seusianya sibuk bertemu kekasih, Soekarno memilih tenggelam dalam Das Kapital. “Aku ingin menyelam, menyelam dalam dan lebih dalam lagi,” katanya dalam buku otobiografinya yang ditulis Cindy Adams, Bung Karno, Penyambung Lidah Rakyat Indonesia. Klub ini lalu kebanjiran peminat dan tumbuh menjamur di berbagai kota. Belakangan Soekarno dan kawan-kawan pada 1926 menerbitkan majalah Suluh Indonesia sebagai sarana mensosialisasikan pikiran mereka. -Soekarno dan juga orang-orang sejamannya penuh kesadaran dalam memanfaatkan media, dan terbukti ia pun sebagai bagian dari aktifitas pers perjuangan kala itu, baik sebagai pendiri maupun pewartanya- (*tambahan dan saya: pen).
Artikel pertama ditulis oleh Soekarno sendiri. Judulnya, Nasionalisme, Islamisme dan Marxisme. Isinya tentang konflik antara Serikat Islam Putih pimpinan Agus Salim dan Serikat Islam Merah (Sarekat Rakyat) pimpinan Semaun dkk.
Soekarno melihat, pertikaian politik antarkelompok justru menghambat perjuangan melawan kolonialisme dan imperialisme Belanda. “Tetapi kita yakin, bahwa dengan terang-benderang menunjukkan, kemauan kita menjadi satu. Kita yakin, bahwa pemimpin Indonesia semuanya insaf, persatuanlah yang membawa kita ke arah kebesaran dan kemerdekaan,” demikian Soekarno menulis.
Sikap politik Soekarno muda terbangun di rumah pendiri Syarikat Islam, H.O.S. Tjokroaminoto-kawan karib ayah Karno di Surabaya.
Soekarno muda dititipkan di rumah tokoh pergerakan Islam itu, ketika saat masuk Hoogere Burger School (HBS). Di rumah inilah ia dapat berkenalan dengan tokoh Pergerakan Nasional seperti Wahidin Soedirohusodo dan Soetomo. Juga para tokoh Islam seperti Agoes Salim, Abdoel Moeis, Ahmad Dahlan, Hasjim Asj’ari, dan A. Hassan, seorang tokoh Persis Bandung yang belakangan menjadi kawan korespondensinya yang termasyhur.
Di rumah Tjokro pula, Soekarno berkenalan dengan tokoh dari Marxisme dan sosialisme, seperti Alimin, Semaun Darsono, dan Tan Malaka. Tiga terakhir awalnya adalah pengurus Sarekat Islam kemudian memisahkan diri untuk bergabung dengan kelompok Marxis. Mereka selanjutnya mendirikan Partai Komunis Indonesia pada 1920, sementara Soekarno dan kawan-kawan mendirikan Partai Nasionalis Indonesia di Bandung, 1927.
Pada lahirnya Partai Nasionalis Indonesia, Soekarno mencanangkan tahun itu sebagai tahun propaganda politik. Ia tak hanya turun ke daerah, menggalang dukungan, tapi juga menerbitkan majalah Persatuan Indonesia pada 1928sebagai ajang propanda. Majalah Fikiran Rakjat diterbitkan pada 1932 ketika Partai Nasionalis Indonesia pecah menjadi Partindo. -Disini nampak sekali bahwa Soekarno menjadikan partai hanya sebagai alat perjuangan, Partindo yang didirikan Soekarno selanjutnya memilih jalur non kooperasi terhadap penjajah- (*tambahan dan saya: pen).
PENJARA, pengasingan di Ende dan Bengkulu, adalah tempat Soekarno lebih merenungi soal Islam. Penjara Sukamiskin, misalnya, melarang buku politik dan surat kabar masuk ke sel Soekarno. Sepanjang masa di penjara itu, satu-satunya hiburan Soekarno adalah belajar tentang agama dan menulis.
Penjara sesungguhnya memang di Ende, kampung nelayan di Flores, Nusa Tenggara Timur. Empat tahun lamanya, ia menjalani politik pengasingan akibat aktivitas politik non kooperasi melalui Partindo.
Di pulau itulah, Soekarno menghabiskan waktu dengan membaca buku Islam. Renungan-renungannya tentang Islam muncul dalam suasana intens, terutama surat-menyurat pribadi yang dikirimkannya kepada A. Hassan. Surat-surat itu kelak masyhur disebut sebagai “Surat-surat dari Ende”.
Pernah Soekarno menulis soal tabir atau hijab yang memisahkan perempuan dan laki-laki. Ia juga dengan cemerlang menulis tentang donor darah. Juga menjawab tudingan bahwa ia anggota Ahmadiyah.
Yang menarik, meski tak meyakini Ahmadiyah, ia tak menyinggung perlu-tidaknya Ahmadiyah hidup di bumi Indonesia. Tidak juga menuduhnya aliran sesat. Juga tidak merasa Islam yang dianutnya yang paling benar.
Di Ende dan Bengkulu, selain surat-suratnya ke A. Hassan dan artikelnya yang termashyur di Panji Islam, Soekarno meninggalkan ratusan karya tulis dan beberapa naskah drama. Beberapa di antaranya dipentaskan selama ia berada di Ende. Namun “temuan” penting sesungguhnya adalah konsepsinya yang kelak dinamai Pancasila.
DARI seluruh masa Soekarno muda, sejarawan dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Asvi Warman Adam, menilai periode 1926-1930 adalah puncak kreativitas pemikiran Soekarno akan nasionalisme dan sikap kerasnya menentang kolonialisme. Juga kegandrungannya pada persatuan. Karakter Soekarno sebagai pemersatu dan aktivis anti-imperialis yang militan terlihat jelas di era ini. Begitu pula era sesudahnya hingga menjelang kemerdekaan, 1945. “Selama masa itulah, kita dengan mudah mengenal siapa sesungguhnya Soekarno,” kata Eros Djarot, salah seorang politikus nasionalis. -Bekas aktivis GSNI atau Gerakan Siswa Nasional Indonesia yaitu organisasi under bouw PNI kala itu- (*tambahan dan saya: pen).
Boleh jadi, karena itu pula, Di Bawah Bendera Revolusi jilid I menjadi karya Soekarno yang paling populer. Buku ini diterbitkan pertama kali oleh sebuah panitia penerbitan resmi dari Departemen Penerangan yang dipimpin Mualiff Nasution, 17 Agustus 1959. Tebal 650 halaman, berisi 61 tulisan Soekarno antara 1926 dan 1941.
Menurut Asvi, butuh lima tahun bagi panitia itu untuk bekerja mengumpulkan tulisan yang tersebar di mana-mana. Semuanya masih dalam ejaan lama. Kabarnya, Soekarno sendiri yang membubuhkan judul, Di Bawah Bendera Revolusi. Soekarno pula yang menggandeng Tjio Wie Tjay alias Haji Masagung, pengusaha Toko Buku Gunung Agung, sebagai penerbit dan penyalur.
Pada 1963, buku monumental ini dicetak ulang. Hanya dalam waktu dua minggu edisi pertama terjual habis. Pada 1965, buku itu dicetak yang keempat kalinya. Dan pada 2005, penerbitan buku itu dilakukan anak-anak Soekarno melalui Yayasan Bung Karno. -Yayasan ini kini bertempat di Gedung Pola, dekat tugu Proklamasi Jakarta Pusat, terdapat stan toko buku kecil disana yang melayani penjualan buku terbitan ulang Karya Bung Karno- (*tambahan dan saya: pen).
Aktivis Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia era 1960 di Bandung, Siswono Yudohusodo dan Suko Sudarso, mengakui buku itu menjadi buku bacaan wajib bagi anak-anak muda masa itu. Suko mengaku mengagumi buku itu karena pemikiran Soekarno yang jauh ke depan. Suko menyebut tulisan yang digandrunginya dalam buku itu adalah artikel Soekarno di Suluh Indonesia, “Nasionalisme, Islamisme dan Marxisme”. Tulisan ini sempat diterjemahkan dalam bahasa Inggris dan diterbitkan Universitas Cornell dengan pengantar Ruth Mcvey. *jw
Sumber dari sini.
Berminat koleksi buku ini? Pesan di SINI.
...BAGI Soekarno, kaleng rombeng berbau pesing adalah alat buang hajat sekaligus sarana menuangkan pikiran. Di penjara Banceuy, Bandung, 1930, tiap malam lelaki itu menjadikan kaleng itu sebagai meja sekaligus tadah buang hajat. Jika pagi tiba, ketika ia diizinkan meninggalkan sel, dibawanya kaleng itu ke kamar mandi untuk dibersihkan. Setelah itu, dengan dilapisi beberapa lembar kertas, ia pakai lagi sebagai meja untuk menulis.
Hampir setahun di Banceuy, berlembar-lembar tulisan lahir di atas kaleng pesing itu. Salah satunya adalah pembelaan yang kemudian disebut “Indonesia Menggugat”.
Dalam pleidoinya itu, Soekarno berbicara tentang penderitaan rakyat setelah tiga setengah abad dihisap koloni Belanda. Ia juga berbicara mengenai pendirian Partai Nasional Indonesia dan pergerakan yang dipercayainya dapat membebaskan Indonesia dari kolonialisme dan imperialisme. Bahasanya lugas, tapi nadanya menyala-nyala. Ketika membacanya dalam 19 kali persidangan di Jalan Landraad, Bandung, gedung itu sesak oleh manusia. Naskah itu bahkan sempat diterbitkan dalam selusin bahasa di dataran Eropa.
Soekarno ditahan setelah ditangkap di Yogyakarta, ketika akan mengikuti pertemuan politik partainya di Solo. Hari itu, pagi 29 Desember 1929, setengah lusin polisi Indonesia yang dipimpin inspektur Belanda mencokoknya atas nama Sri Ratu. Ditahan semalam di penjara Mergangsan, Yogyakarta, Soekarno dan dua kawannya dibawa ke Banceuy, bui Bandung-penjara tingkat rendah, kotor, dan berbau.
Divonis empat tahun penjara, Soekarno dibebaskan pada 31 Desember 1931. Gubernur Jenderal De Graeff saat itu agaknya tak tahan atas kritik pedas terhadap putusan membui Soekarno. Tapi tiga tahun kemudian Soekarno ditangkap lagi dan diasingkan ke Ende dan Bengkulu.
BANDUNG adalah tempat Soekarno muda membuat sejarahnya. Semula, ia hanya berniat kuliah di Bandoeng Technische Hoogeschool-sekarang Institut Teknologi Bandung-mengambil jurusan arsitektur. Tapi pergulatan batin dan pertemuannya dengan para tokoh di kota itu membuat Soekarno, setelah lulus pada 1926, berbelok ke jalur politik. Sebelumnya ia pernah mendirikan biro konsultan meski mandek karena tak ia urus.
Saat itu Soekarno sudah mendirikan Algemeene Studie Club di Bandung. Organisasi ini menjadi cikal bakal Partai Nasionalis Indonesia (PNI), yang didirikannya bersama Mr Iskak, Dr Tjipto Mangoenkoesoemo, Mr Boediardjo, dan Mr Soenarjo, pada 1927.
Kegiatan klub itu adalah mendiskusikan bacaan, terutama buku-buku “babon” berbahasa Belanda yang dipinjam dari perpustakaan. Bergantian mereka membacanya lalu berdiskusi dan membuat tulisan. Saat itu usia Soekarno baru 25 tahun. Ketika kawan-kawan seusianya sibuk bertemu kekasih, Soekarno memilih tenggelam dalam Das Kapital. “Aku ingin menyelam, menyelam dalam dan lebih dalam lagi,” katanya dalam buku otobiografinya yang ditulis Cindy Adams, Bung Karno, Penyambung Lidah Rakyat Indonesia. Klub ini lalu kebanjiran peminat dan tumbuh menjamur di berbagai kota. Belakangan Soekarno dan kawan-kawan pada 1926 menerbitkan majalah Suluh Indonesia sebagai sarana mensosialisasikan pikiran mereka. -Soekarno dan juga orang-orang sejamannya penuh kesadaran dalam memanfaatkan media, dan terbukti ia pun sebagai bagian dari aktifitas pers perjuangan kala itu, baik sebagai pendiri maupun pewartanya- (*tambahan dan saya: pen).
Artikel pertama ditulis oleh Soekarno sendiri. Judulnya, Nasionalisme, Islamisme dan Marxisme. Isinya tentang konflik antara Serikat Islam Putih pimpinan Agus Salim dan Serikat Islam Merah (Sarekat Rakyat) pimpinan Semaun dkk.
Soekarno melihat, pertikaian politik antarkelompok justru menghambat perjuangan melawan kolonialisme dan imperialisme Belanda. “Tetapi kita yakin, bahwa dengan terang-benderang menunjukkan, kemauan kita menjadi satu. Kita yakin, bahwa pemimpin Indonesia semuanya insaf, persatuanlah yang membawa kita ke arah kebesaran dan kemerdekaan,” demikian Soekarno menulis.
Sikap politik Soekarno muda terbangun di rumah pendiri Syarikat Islam, H.O.S. Tjokroaminoto-kawan karib ayah Karno di Surabaya.
Soekarno muda dititipkan di rumah tokoh pergerakan Islam itu, ketika saat masuk Hoogere Burger School (HBS). Di rumah inilah ia dapat berkenalan dengan tokoh Pergerakan Nasional seperti Wahidin Soedirohusodo dan Soetomo. Juga para tokoh Islam seperti Agoes Salim, Abdoel Moeis, Ahmad Dahlan, Hasjim Asj’ari, dan A. Hassan, seorang tokoh Persis Bandung yang belakangan menjadi kawan korespondensinya yang termasyhur.
Di rumah Tjokro pula, Soekarno berkenalan dengan tokoh dari Marxisme dan sosialisme, seperti Alimin, Semaun Darsono, dan Tan Malaka. Tiga terakhir awalnya adalah pengurus Sarekat Islam kemudian memisahkan diri untuk bergabung dengan kelompok Marxis. Mereka selanjutnya mendirikan Partai Komunis Indonesia pada 1920, sementara Soekarno dan kawan-kawan mendirikan Partai Nasionalis Indonesia di Bandung, 1927.
Pada lahirnya Partai Nasionalis Indonesia, Soekarno mencanangkan tahun itu sebagai tahun propaganda politik. Ia tak hanya turun ke daerah, menggalang dukungan, tapi juga menerbitkan majalah Persatuan Indonesia pada 1928sebagai ajang propanda. Majalah Fikiran Rakjat diterbitkan pada 1932 ketika Partai Nasionalis Indonesia pecah menjadi Partindo. -Disini nampak sekali bahwa Soekarno menjadikan partai hanya sebagai alat perjuangan, Partindo yang didirikan Soekarno selanjutnya memilih jalur non kooperasi terhadap penjajah- (*tambahan dan saya: pen).
PENJARA, pengasingan di Ende dan Bengkulu, adalah tempat Soekarno lebih merenungi soal Islam. Penjara Sukamiskin, misalnya, melarang buku politik dan surat kabar masuk ke sel Soekarno. Sepanjang masa di penjara itu, satu-satunya hiburan Soekarno adalah belajar tentang agama dan menulis.
Penjara sesungguhnya memang di Ende, kampung nelayan di Flores, Nusa Tenggara Timur. Empat tahun lamanya, ia menjalani politik pengasingan akibat aktivitas politik non kooperasi melalui Partindo.
Di pulau itulah, Soekarno menghabiskan waktu dengan membaca buku Islam. Renungan-renungannya tentang Islam muncul dalam suasana intens, terutama surat-menyurat pribadi yang dikirimkannya kepada A. Hassan. Surat-surat itu kelak masyhur disebut sebagai “Surat-surat dari Ende”.
Pernah Soekarno menulis soal tabir atau hijab yang memisahkan perempuan dan laki-laki. Ia juga dengan cemerlang menulis tentang donor darah. Juga menjawab tudingan bahwa ia anggota Ahmadiyah.
Yang menarik, meski tak meyakini Ahmadiyah, ia tak menyinggung perlu-tidaknya Ahmadiyah hidup di bumi Indonesia. Tidak juga menuduhnya aliran sesat. Juga tidak merasa Islam yang dianutnya yang paling benar.
Di Ende dan Bengkulu, selain surat-suratnya ke A. Hassan dan artikelnya yang termashyur di Panji Islam, Soekarno meninggalkan ratusan karya tulis dan beberapa naskah drama. Beberapa di antaranya dipentaskan selama ia berada di Ende. Namun “temuan” penting sesungguhnya adalah konsepsinya yang kelak dinamai Pancasila.
DARI seluruh masa Soekarno muda, sejarawan dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Asvi Warman Adam, menilai periode 1926-1930 adalah puncak kreativitas pemikiran Soekarno akan nasionalisme dan sikap kerasnya menentang kolonialisme. Juga kegandrungannya pada persatuan. Karakter Soekarno sebagai pemersatu dan aktivis anti-imperialis yang militan terlihat jelas di era ini. Begitu pula era sesudahnya hingga menjelang kemerdekaan, 1945. “Selama masa itulah, kita dengan mudah mengenal siapa sesungguhnya Soekarno,” kata Eros Djarot, salah seorang politikus nasionalis. -Bekas aktivis GSNI atau Gerakan Siswa Nasional Indonesia yaitu organisasi under bouw PNI kala itu- (*tambahan dan saya: pen).
Boleh jadi, karena itu pula, Di Bawah Bendera Revolusi jilid I menjadi karya Soekarno yang paling populer. Buku ini diterbitkan pertama kali oleh sebuah panitia penerbitan resmi dari Departemen Penerangan yang dipimpin Mualiff Nasution, 17 Agustus 1959. Tebal 650 halaman, berisi 61 tulisan Soekarno antara 1926 dan 1941.
Menurut Asvi, butuh lima tahun bagi panitia itu untuk bekerja mengumpulkan tulisan yang tersebar di mana-mana. Semuanya masih dalam ejaan lama. Kabarnya, Soekarno sendiri yang membubuhkan judul, Di Bawah Bendera Revolusi. Soekarno pula yang menggandeng Tjio Wie Tjay alias Haji Masagung, pengusaha Toko Buku Gunung Agung, sebagai penerbit dan penyalur.
Pada 1963, buku monumental ini dicetak ulang. Hanya dalam waktu dua minggu edisi pertama terjual habis. Pada 1965, buku itu dicetak yang keempat kalinya. Dan pada 2005, penerbitan buku itu dilakukan anak-anak Soekarno melalui Yayasan Bung Karno. -Yayasan ini kini bertempat di Gedung Pola, dekat tugu Proklamasi Jakarta Pusat, terdapat stan toko buku kecil disana yang melayani penjualan buku terbitan ulang Karya Bung Karno- (*tambahan dan saya: pen).
Aktivis Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia era 1960 di Bandung, Siswono Yudohusodo dan Suko Sudarso, mengakui buku itu menjadi buku bacaan wajib bagi anak-anak muda masa itu. Suko mengaku mengagumi buku itu karena pemikiran Soekarno yang jauh ke depan. Suko menyebut tulisan yang digandrunginya dalam buku itu adalah artikel Soekarno di Suluh Indonesia, “Nasionalisme, Islamisme dan Marxisme”. Tulisan ini sempat diterjemahkan dalam bahasa Inggris dan diterbitkan Universitas Cornell dengan pengantar Ruth Mcvey. *jw
Sumber dari sini.
Berminat koleksi buku ini? Pesan di SINI.
Resume Buku Abangan, Santri, Priyai Dalam Masyarakat Jawa Karya Clifford Geertz
Buku ini merupakan hasil studi penelitian Clifford Geertz dalam rentang waktu mei 1953-september 1954, di daerah Mojokuto Jawa Tengah.
Karya ini menjadi menarik karena bagi ahli-ahli dalam bidang antropologi, sosiologi, dan orang-orang yang sedang memperdalam pengetahuan mereka tentang agama islam dan Indonesia. Demikian pula untuk para ahli politik yang berminat tentang hubungan amtara agama dan perilaku politik di jawa.
Pada bagian pendahuluan buku ini, dijelaskan mengenai deskripsi geografis dan demografis daerah mojokuto yang menjadi tempat dimana penelitian ini dilangsungkan. Wilayah ini merupakan wilayah yang kompleks, memiliki populasi penduduk sekitar 20.000 orang, terdiri dari 18.000 orang jawa, 1.800 orang china dan selebihnya terdiri atas etnis arab, India dan minoritas lainnya.
Lalu Geertz mengemukakan urgensi dari tiga struktur social di jawa yaitu Desa, Pasa dan birokrasi pemerintahan.
Sebenarnya buku yang ditulis oleh Geertz ini tidak membahas mengenai definisi agama, hal ini sudah barang tentu membawa pembaca sedikit kebingungan, karena sebenarnya jelas dari judulnya Geertz seolah menulis mengenai santri, abangan dan priyai yang jelas sekali berkaitan dengan kehidupan dalam umat islam.
Ketiga elemen yang dibahs merupakan suatu fenomena keagamaan yang sedikit atau banyak tergantung kepada pemahaman seseorang tentang apa itu agama dalam manifestasi empirisnya.
Kekurang cermatan dalam mengangkat definisi keagamaan akan berakibat kepada karakteristik tipologi-tipologi sehingga memberikan gambaran yang keliru tentang fakta-faktanya. Seperti yang ditunjukkan dalam bagian-bagian di bawah ini.
Sistem keagamaan yang umum di ajwa diperkenalkan tanpa disertai penjelasan tentang apa yang dimaksud dengan apa yang dimasksud mengenai sistem keagamaan tersebut. Hal ini dengan sendirinya membawa kepada pemahaman bahwa studi ini tidak membahas agama di jawa, akan tetapi mengenai agama di Mojokuto yang meliputi kurang lebih dari 0,05% dari seluruh penduduk jawa.. Maka jelaslah apakah sistem keagamaan yang dimaksud oleh Geertz di jawa itu dengan mengacu kepada sistem keagamaan pada penduduk asli di mojokuto, maka jika demikian akan muncul suatu deskripsi mengenai agama-agama dengan versi yang ada di daerah setempat, yaitu islam, protestan (di mojokuto terdapat jemaat protestan yang kecila), khatolitk (di mojokuto kebanyakan khatolik adalah orang china, namun ada jua sebagian kecil khatolik jawa), agama jawa, animisme, dan mungkin pula dengan hindu dan budha, walau tidak dijumpai dalam bentuk-bentuk yang asli. Studi ini tidak menyebutkan tentang agama-agama selain islam, sehingga ini bisa dianggap sebagai petunjuk bahwa sistem keagamaan yang umum di jawa itu tidaklah dimaksudkan kepada semua agama yang dianut oleh semua orang jawa. Akan tetapi sebagai manifestasi dari agama islam dalam penduduk jawa yang tidak semuanya sesuai dengan apa yang diajarkan oleh Nabi Muhammad saw.
Varian Agama dalam Studi Clifford Geertz
Konsep yang diperkenalkan oleh Geertz untuk melukiskan dan menganalisa tipe budaya utama sesuai dengan menurut keparcayaan agama, preferensi etis dan ideology politik mereka maka dapat dijelaskan sebagai berikut:
Varian abangan, yang menekankan aspek-aspek animism sinkretisme jawa secara keseluruhan dan pada umumnya diasosiasikan dengan unsure petani desa penduduk.
Varian santri, yang menekankan aspek-aspek islam sinkretisme itu dan pada umumnya diasosiasikan dengan unsure pedagang (dan juga unsure-unsur tertentu pada kaum tani).
Varian priyai, yang menekankan aspek-aspek hindu dan diasosiasikan dengan unsure birokrasi. (Geertz 1960: 6)
Menurut Geertz pembagian ini merupakan pembagian yang dibuat oleh orang-orang jawa sendiri.
Namun demikian, meskipun memang benar dalam amsyarakat mojokuto sebagian dari penduduk dianggap sebagai abangan, sntri dan priyai, hanya saja ini tidak berarti bahwa ketiga golongan itu merupakan kategori-kategori dari satu tipe klasifikasi.
Kemudian penulis membatasi klasifikasinya dengan menyatakan bahwa istilah-istilah abangan, santri, dan priyai menunjukkan dimensi-dimensi variasi kebudayaan, bukan kategori absolute (Geertz: 347).
Geertz tidak menegaskan apakah ia hendak melukiskan kompleks-kompleks kepercayaan dan ritual keagamaan tertentu ataukah kepercayaan–kepercayaan dan ritual-ritual keagamaan kategori-kategori tertentu dalam masyarakat.
Agama Harus dibedakan Dengan Adat
Dalam mempelajari gejala agama dalam masyarakat Indonesia, maka harus menyadari bahwa ada perbedaan antara adat, ataupun sistem normative tradisional, dan agama dalam artinya yang luas sekalipun. Pola perilaku penduduk di Indonesia sangat ditentukan oleh norma-norma tradisional yang diakui dan dipatuhi, inilah yang dikenal dengan sebutan adat.
Adat suatu msyarakat setempat biasanya diteruskan secara lisan kepada anggota-anggotanya oleh generasi terdahulu.
Di mojokuto adat penduduknya adalah adat jawa, dengan beberapa variasi setempat.
Perbedaan antara adat dan agama apabila tidak disadari oleh orang yang sedang memperdalam pengetahuannya tentang agama, mengakibatkan penafsiran-penfasiran yang keliru terhadap fenomena-fenomena empiris tertentu. Kenyataan bahwa seseorang memperlihatkan sikap menahan diri, menguasai diri, tidak menunjukkan emosi, mungkin ditafsirkan dengan mengacu kepada agama sebagai petunjuk adanya kekuatan batin. Meskipun penafsiran ini kemungkinan benar, namun ada pula kemungkinan bahwa orang yang bersangkutan hanya mematuhi adat yang berlaku di situasi dimana ia berada dan dengan statusnya sendiri.
Agama yang berbeda dengan adat dapat diartikan sebagaai suatu sistem kepercayaan saja. Kompleks-kompleks nilai dan norma tertentu dapat mempunyai kaitan dengan satu agama tertentu, akan tetapi tidak merupakan inti dari agama itu yang adalah kepercayaan terhadap hal yang gaib.
Sebagain besar dari studi Geertz merupakan satu laporan mengenai deskripsi tentang adat dan bukan mengenai agama.
Ritual selametan misalnya dijelaskan dalam empat bab informative. Jenis-jenis selametan ini dijelaskan secara terperinci dalam kaitannya dalam maksud dan ritual tertentu. Hanya saja bentuk antara adat dengan agama tidak dibendakan padahal selametan tidak harus melibatkan agama sebagai kepercayaan.
Geertz dalam menjelaskan laporannya hanya untuk memenuhi ketentuan adata oleh karena dalam keadaan-keadaan tertentu orang diharapkan untuk mengadakan upacara-upacara tertentu.Dengan cara itu beberapa selametan yang tadinya bersifat keagamaan telah menajdi selametan adat. Sebagai upacara adat ia dapat diselenggarakan dengan berbagai tujuan seperti untuk mempererat kesetiakawanan kelompok, untuk menyebarkan kabar gembira, untuk memperoleh legitimasi bagi usaha-usaha tertentu, untuk menggunakan pengaruh, atau hanya memamerkan kekayaan untuk menambah gengsi.
Selametan yang dilukiskan oelh Geertz dijelaskan secara rinci tanpa ada tekanan yang memadai kepada makna keagamaannya.
Misalnya dalam selametan sunatan dapat dikemukakan sebagai contoh. Peristiwa itu Geertz lukiskan sebagai ritus pubertas. padahal seharusnya, di pulau jawa, sunatan dianggas sebagai suatu pengukuhan seorang muslim yang sah. Sunatan bisa dilangsungkan dengan atau tanpa selametan, akan tetapi selama seseorang belum disunat dia tidak dianggap tergolong dalam umat atau komunitas orang-orang yang percaya. Ketentuan ini juga berlaku bagi orang-orang dewasa yang masuk islam.
Varian Agama Abangan
Tradisi agama abangan yang pada pokoknya terdiri dari pesta ritual yang dinamakan selametan, satu kompleks kepercayaan yang luas dan rumit tentang roh-roh, dan seperangkat teori dan praktek penyembuhan, ilmu tenung, dan ilmu gaib Diasosiasikan dengan cara yang luas dan umum dengan desa jawa (Geertz 1960: 5)
Varian abangan menurut Geertz adalah masyarakat kaum tani di jawa.
Yang abangan itu adalah kaum tani jawa. Agama abangan menggambarkan sintesa petani antara hal-hal yang berasal dari kota dan warisan kesukuan, satu sinkretisme sisa-sisa lama daris elusin sumber yang tersusun menjadi satu konglomerat untuk memenuhi kebutuhan rakyat yang berjiwa sederhana. Yang menanam pad di teras-teras yang diairi (Geertz 1960: 229).
Varian Agama Santri
Deskripsi yang terperinci mengenai varian sanrti menurut Geertz adalah sebagai berikut:
Ia dimanifestaikan dalam pelaksanaan yang cermat dan teratur, ritual-ritual pokok agama islam, seperti kewajiban shalat lima kali sehari, shalat jumat di mesjid, berpuasa selama bulan ramadhan, dan menunaikan haji ke mekah. Ia dimanifestasikan dalam satu kompleks organisasi-organsisasi sosial, amal, dan politik seperti Muhammadiyah, Msyumi, dan Nahdlatul Ulama. Nilai-nilainya bersifat antibirokratik, bebas dan egaliter. Orang-orang santri sendiri hidup berkelompok-kelompok, sekarang hal itu sudah berkurang dibandingkan dengan sebelum perang, namun masih Nampak juga pengelompokan-pengelompokan mereka. Dan akhirnya ketaatan melakukan ibadah salatlah yang pada s\tingkat tertentu merupakan ukuran santri. Priyai dan abangan hampir tidak pernah melakukannya. (Geertz 1960: 215)
Varian santri ini dimanifestasikan sebagai pedagang.
Di desa terdapat unsure santri yang kuat, yang seringkali dipimpin oleh petani-petani kaya yang telah naik haji ke mekah dan setelah kembali mendirikan pesantren-pesantern (Geertz 1960: 5)
Kemudian, menurt geertz untuk santri di kota diidentifikasikan sebagai berikut:
Di kota kebanyakan santri adalah pedagang atau tukang, terutama penjahit (Geertz 1960: 222)
Varian Agama Priyai
Geertz berasumsi nahwa kaum priyai kaum elit yang sah memanifestasikan satu tradisi agama yang disebut sebagai varian agama priyai daris istem keagamaan pada umumnya di jawa.
Geertz melukiskan mereka sebagai satu golongan pegawai birokrasi yang menurut tempat tinggal mereka, merupakan penduduk kota. Mereka memiliki gelar-gelar kehormatan yang merupakan bagian dari birokrasi aristokrasi kraton.
`
Kritik terhadap Geertz
Clifford Geertz dalam deskripsinya seakan menjustifikasi bahwa kaum abangan, santri maupun priyai adalah golongan-golongan dari apa yang telah disebutkan sebelumnya. Padahal dalam kehidupan realitas sehari-hari tidak selalu semuanya demikian. Seharusnya dilakikan deskripsi secara menyeluruh. Selain itu deskripsi agama yang dilakukan oleh Geertz cenderung untuk menjelaskan realita keagamaan dalam masyarakat Mojokuto dan bukan merupakan cerminan keseluruhan dalam tradisi keagamaan maupun adat masyarakat jawa.
Sumber dari sini.
Buku ini dapat dipesan di SINI.
Karya ini menjadi menarik karena bagi ahli-ahli dalam bidang antropologi, sosiologi, dan orang-orang yang sedang memperdalam pengetahuan mereka tentang agama islam dan Indonesia. Demikian pula untuk para ahli politik yang berminat tentang hubungan amtara agama dan perilaku politik di jawa.
Pada bagian pendahuluan buku ini, dijelaskan mengenai deskripsi geografis dan demografis daerah mojokuto yang menjadi tempat dimana penelitian ini dilangsungkan. Wilayah ini merupakan wilayah yang kompleks, memiliki populasi penduduk sekitar 20.000 orang, terdiri dari 18.000 orang jawa, 1.800 orang china dan selebihnya terdiri atas etnis arab, India dan minoritas lainnya.
Lalu Geertz mengemukakan urgensi dari tiga struktur social di jawa yaitu Desa, Pasa dan birokrasi pemerintahan.
Sebenarnya buku yang ditulis oleh Geertz ini tidak membahas mengenai definisi agama, hal ini sudah barang tentu membawa pembaca sedikit kebingungan, karena sebenarnya jelas dari judulnya Geertz seolah menulis mengenai santri, abangan dan priyai yang jelas sekali berkaitan dengan kehidupan dalam umat islam.
Ketiga elemen yang dibahs merupakan suatu fenomena keagamaan yang sedikit atau banyak tergantung kepada pemahaman seseorang tentang apa itu agama dalam manifestasi empirisnya.
Kekurang cermatan dalam mengangkat definisi keagamaan akan berakibat kepada karakteristik tipologi-tipologi sehingga memberikan gambaran yang keliru tentang fakta-faktanya. Seperti yang ditunjukkan dalam bagian-bagian di bawah ini.
Sistem keagamaan yang umum di ajwa diperkenalkan tanpa disertai penjelasan tentang apa yang dimaksud dengan apa yang dimasksud mengenai sistem keagamaan tersebut. Hal ini dengan sendirinya membawa kepada pemahaman bahwa studi ini tidak membahas agama di jawa, akan tetapi mengenai agama di Mojokuto yang meliputi kurang lebih dari 0,05% dari seluruh penduduk jawa.. Maka jelaslah apakah sistem keagamaan yang dimaksud oleh Geertz di jawa itu dengan mengacu kepada sistem keagamaan pada penduduk asli di mojokuto, maka jika demikian akan muncul suatu deskripsi mengenai agama-agama dengan versi yang ada di daerah setempat, yaitu islam, protestan (di mojokuto terdapat jemaat protestan yang kecila), khatolitk (di mojokuto kebanyakan khatolik adalah orang china, namun ada jua sebagian kecil khatolik jawa), agama jawa, animisme, dan mungkin pula dengan hindu dan budha, walau tidak dijumpai dalam bentuk-bentuk yang asli. Studi ini tidak menyebutkan tentang agama-agama selain islam, sehingga ini bisa dianggap sebagai petunjuk bahwa sistem keagamaan yang umum di jawa itu tidaklah dimaksudkan kepada semua agama yang dianut oleh semua orang jawa. Akan tetapi sebagai manifestasi dari agama islam dalam penduduk jawa yang tidak semuanya sesuai dengan apa yang diajarkan oleh Nabi Muhammad saw.
Varian Agama dalam Studi Clifford Geertz
Konsep yang diperkenalkan oleh Geertz untuk melukiskan dan menganalisa tipe budaya utama sesuai dengan menurut keparcayaan agama, preferensi etis dan ideology politik mereka maka dapat dijelaskan sebagai berikut:
Varian abangan, yang menekankan aspek-aspek animism sinkretisme jawa secara keseluruhan dan pada umumnya diasosiasikan dengan unsure petani desa penduduk.
Varian santri, yang menekankan aspek-aspek islam sinkretisme itu dan pada umumnya diasosiasikan dengan unsure pedagang (dan juga unsure-unsur tertentu pada kaum tani).
Varian priyai, yang menekankan aspek-aspek hindu dan diasosiasikan dengan unsure birokrasi. (Geertz 1960: 6)
Menurut Geertz pembagian ini merupakan pembagian yang dibuat oleh orang-orang jawa sendiri.
Namun demikian, meskipun memang benar dalam amsyarakat mojokuto sebagian dari penduduk dianggap sebagai abangan, sntri dan priyai, hanya saja ini tidak berarti bahwa ketiga golongan itu merupakan kategori-kategori dari satu tipe klasifikasi.
Kemudian penulis membatasi klasifikasinya dengan menyatakan bahwa istilah-istilah abangan, santri, dan priyai menunjukkan dimensi-dimensi variasi kebudayaan, bukan kategori absolute (Geertz: 347).
Geertz tidak menegaskan apakah ia hendak melukiskan kompleks-kompleks kepercayaan dan ritual keagamaan tertentu ataukah kepercayaan–kepercayaan dan ritual-ritual keagamaan kategori-kategori tertentu dalam masyarakat.
Agama Harus dibedakan Dengan Adat
Dalam mempelajari gejala agama dalam masyarakat Indonesia, maka harus menyadari bahwa ada perbedaan antara adat, ataupun sistem normative tradisional, dan agama dalam artinya yang luas sekalipun. Pola perilaku penduduk di Indonesia sangat ditentukan oleh norma-norma tradisional yang diakui dan dipatuhi, inilah yang dikenal dengan sebutan adat.
Adat suatu msyarakat setempat biasanya diteruskan secara lisan kepada anggota-anggotanya oleh generasi terdahulu.
Di mojokuto adat penduduknya adalah adat jawa, dengan beberapa variasi setempat.
Perbedaan antara adat dan agama apabila tidak disadari oleh orang yang sedang memperdalam pengetahuannya tentang agama, mengakibatkan penafsiran-penfasiran yang keliru terhadap fenomena-fenomena empiris tertentu. Kenyataan bahwa seseorang memperlihatkan sikap menahan diri, menguasai diri, tidak menunjukkan emosi, mungkin ditafsirkan dengan mengacu kepada agama sebagai petunjuk adanya kekuatan batin. Meskipun penafsiran ini kemungkinan benar, namun ada pula kemungkinan bahwa orang yang bersangkutan hanya mematuhi adat yang berlaku di situasi dimana ia berada dan dengan statusnya sendiri.
Agama yang berbeda dengan adat dapat diartikan sebagaai suatu sistem kepercayaan saja. Kompleks-kompleks nilai dan norma tertentu dapat mempunyai kaitan dengan satu agama tertentu, akan tetapi tidak merupakan inti dari agama itu yang adalah kepercayaan terhadap hal yang gaib.
Sebagain besar dari studi Geertz merupakan satu laporan mengenai deskripsi tentang adat dan bukan mengenai agama.
Ritual selametan misalnya dijelaskan dalam empat bab informative. Jenis-jenis selametan ini dijelaskan secara terperinci dalam kaitannya dalam maksud dan ritual tertentu. Hanya saja bentuk antara adat dengan agama tidak dibendakan padahal selametan tidak harus melibatkan agama sebagai kepercayaan.
Geertz dalam menjelaskan laporannya hanya untuk memenuhi ketentuan adata oleh karena dalam keadaan-keadaan tertentu orang diharapkan untuk mengadakan upacara-upacara tertentu.Dengan cara itu beberapa selametan yang tadinya bersifat keagamaan telah menajdi selametan adat. Sebagai upacara adat ia dapat diselenggarakan dengan berbagai tujuan seperti untuk mempererat kesetiakawanan kelompok, untuk menyebarkan kabar gembira, untuk memperoleh legitimasi bagi usaha-usaha tertentu, untuk menggunakan pengaruh, atau hanya memamerkan kekayaan untuk menambah gengsi.
Selametan yang dilukiskan oelh Geertz dijelaskan secara rinci tanpa ada tekanan yang memadai kepada makna keagamaannya.
Misalnya dalam selametan sunatan dapat dikemukakan sebagai contoh. Peristiwa itu Geertz lukiskan sebagai ritus pubertas. padahal seharusnya, di pulau jawa, sunatan dianggas sebagai suatu pengukuhan seorang muslim yang sah. Sunatan bisa dilangsungkan dengan atau tanpa selametan, akan tetapi selama seseorang belum disunat dia tidak dianggap tergolong dalam umat atau komunitas orang-orang yang percaya. Ketentuan ini juga berlaku bagi orang-orang dewasa yang masuk islam.
Varian Agama Abangan
Tradisi agama abangan yang pada pokoknya terdiri dari pesta ritual yang dinamakan selametan, satu kompleks kepercayaan yang luas dan rumit tentang roh-roh, dan seperangkat teori dan praktek penyembuhan, ilmu tenung, dan ilmu gaib Diasosiasikan dengan cara yang luas dan umum dengan desa jawa (Geertz 1960: 5)
Varian abangan menurut Geertz adalah masyarakat kaum tani di jawa.
Yang abangan itu adalah kaum tani jawa. Agama abangan menggambarkan sintesa petani antara hal-hal yang berasal dari kota dan warisan kesukuan, satu sinkretisme sisa-sisa lama daris elusin sumber yang tersusun menjadi satu konglomerat untuk memenuhi kebutuhan rakyat yang berjiwa sederhana. Yang menanam pad di teras-teras yang diairi (Geertz 1960: 229).
Varian Agama Santri
Deskripsi yang terperinci mengenai varian sanrti menurut Geertz adalah sebagai berikut:
Ia dimanifestaikan dalam pelaksanaan yang cermat dan teratur, ritual-ritual pokok agama islam, seperti kewajiban shalat lima kali sehari, shalat jumat di mesjid, berpuasa selama bulan ramadhan, dan menunaikan haji ke mekah. Ia dimanifestasikan dalam satu kompleks organisasi-organsisasi sosial, amal, dan politik seperti Muhammadiyah, Msyumi, dan Nahdlatul Ulama. Nilai-nilainya bersifat antibirokratik, bebas dan egaliter. Orang-orang santri sendiri hidup berkelompok-kelompok, sekarang hal itu sudah berkurang dibandingkan dengan sebelum perang, namun masih Nampak juga pengelompokan-pengelompokan mereka. Dan akhirnya ketaatan melakukan ibadah salatlah yang pada s\tingkat tertentu merupakan ukuran santri. Priyai dan abangan hampir tidak pernah melakukannya. (Geertz 1960: 215)
Varian santri ini dimanifestasikan sebagai pedagang.
Di desa terdapat unsure santri yang kuat, yang seringkali dipimpin oleh petani-petani kaya yang telah naik haji ke mekah dan setelah kembali mendirikan pesantren-pesantern (Geertz 1960: 5)
Kemudian, menurt geertz untuk santri di kota diidentifikasikan sebagai berikut:
Di kota kebanyakan santri adalah pedagang atau tukang, terutama penjahit (Geertz 1960: 222)
Varian Agama Priyai
Geertz berasumsi nahwa kaum priyai kaum elit yang sah memanifestasikan satu tradisi agama yang disebut sebagai varian agama priyai daris istem keagamaan pada umumnya di jawa.
Geertz melukiskan mereka sebagai satu golongan pegawai birokrasi yang menurut tempat tinggal mereka, merupakan penduduk kota. Mereka memiliki gelar-gelar kehormatan yang merupakan bagian dari birokrasi aristokrasi kraton.
`
Kritik terhadap Geertz
Clifford Geertz dalam deskripsinya seakan menjustifikasi bahwa kaum abangan, santri maupun priyai adalah golongan-golongan dari apa yang telah disebutkan sebelumnya. Padahal dalam kehidupan realitas sehari-hari tidak selalu semuanya demikian. Seharusnya dilakikan deskripsi secara menyeluruh. Selain itu deskripsi agama yang dilakukan oleh Geertz cenderung untuk menjelaskan realita keagamaan dalam masyarakat Mojokuto dan bukan merupakan cerminan keseluruhan dalam tradisi keagamaan maupun adat masyarakat jawa.
Sumber dari sini.
Buku ini dapat dipesan di SINI.
Resensi buku "DARMAGANDHUL"
Sebuah buku sejarah yang diterjemahkan oleh penulis dari Serat Darmagandhul dengan bahasa yang disesuaikan dengan jaman. Semenjak terbit, Dharmagandhul telah menuai kontroversi , karena ceritanya dicintai kaum Kejawen dan Islam abangan tapi dibencikaum Islam radikal. Kitab ini hadir dalam versi prosa dan tembang, yang sudah sangat jarang ditemukan. Yang menjadi keistimewaan buku ini adalah penulis memberikan ulasan tentang runtuhnya Majapahit serta ajaran Islam, Buda dan Kejawen, demi mencari titik temu, intisari spiritual dari tiga kepercayaan tersebut.
MANUSIA TIDAK MEMILIKI KEKUATAN APAPUN. MANUSIA SEKEDAR MENJALANI. BUDI / KESADARANLAH YANG MENGGERAKKANNYA
Menceritakan awal mula orang Jawa meninggalkan agama Buda, lalu berganti agama Rasul. Sesungguhnya Majapahit bernama asli Majalengka, sedangkan nama Majapahit itu hanyalah perlambang. Yang bertahta terakhir adalah Prabu Brawijaya. Prabu yang tergila-gila kepada Putri Campa yang beragama Islam. Setiap memadu asmara sang Putri selalu bercerita tentang keluhuran agama Islam, sehingga hati sang Prabu tertarik pada agama Islam.
Keponakan sang Putri yang bernama Sayid Rakhmat berkunjung ke Majalengka, dan memohon kepada sang Prabu agar diijinkan menyebarkan ajaran Rasul, dan sang Prabu mengijinkan. Sayid kemudian menetap di daerah Ampel, yang sekarang masuk wilayah kecamatan Semampir, Surabaya. Lama kelamaan banyak ulama yang dating dan tinggal di pesisir utara, penduduk Jawa lantas banyak yang memeluk agama Islam. Padahal agama Buda telah ada di tanah Jawa selama kurang lebih seribu tahun, dan pengikutnya menyembah kesadaran sejati tanpa paksaan siapa pun (Budi Hawa).
Prabu Brawijaya memiliki seorang putra hasil perkawinannya dengan seorang putri Cina yang lahir di Palembang, namanya Raden Patah, beragama Islam dan menikah dengan putri Ngampel, cucu Sunan Ampel. Diangkat sang Prabu menjadi Bupati Demak, kelak sang putra inilah yang akan menghancurkan kerajaan ayahnya, Majalengka (Majapahit).
Saat Sunan Benang hendak mengunjungi Kediri dan berniat mencari air bersih untuk wudhu, ternyata air sungai Brantas banjir dan kotor, sehinga muridnya diminta mencari ke desa terdekat. Di jalan, muridnya melihat seorang gadis yang sedang menenun. Sang gadis kaget dan menyangka murid ini berniat jelek padanya, sehingga permintaan murid Sunan untuk meminta air bersih dijawab dengan kasar. Sunan sangat marah mendapat laporan muridnya, sehingga bersumpah bahwa penduduk wilayah itu akan sulit mencari air dan setiap gadis serta perjaka yang tinggal disana tidak akan bisa menikah sebelum usianya tua.
Hal ini menimbulkan kemarahan jin di wilayah Tanjung Tani karena aliran sungai merusak desa, hutan, lading dan sawah yang terlanggar. Hal ini disampaikan kepada raja mereka, yaitu Butalocaya yang berada di kaki Gunung Wilis. Butalocaya dahulunya (semasa masih menjadi manusia) adalah patih Prabu Jayabaya yang bernama Kiai Daka. Saat Prabu Jayabaya moksa (bersatu dengan Tuhan), putrinya Ni Mas Ratu Pagedhogan, Butalocaya dan Kiai Tunggul Wulung ikut berpindah alam. Putrinya menjadi ratu makhluk halus di laut selatan, sedangkan Kiai Tunggu Wulung menjadi raja makhluk halus di Gunung Kelud.
Butalocaya sangat marah mendengar perbuatan Sunan Benang, lalu mencegat perjalanannya. Beberapa teguran Butalocaya kepada Sunan Benang yang layak diingat adalah :
“JANGANLAH KARENA MERASA MENJADI KEKASIH TUHAN, MERASA BANYAK TEMAN MALAIKAT, LANTAS BERBUAT SEENAKNYA, MENGANIAYA MEREKA YANG TANPA DOSA, INILAH JALAN MENUJU CELAKA”.
ORANG JAWA TAHU ARCA TIDAK MEMILIKI DAYA KUASA APAPUN. MENGAPA ARCA INI DILAYANI DENGAN KEMENYAN DAN SAJEN ? AGAR SEMUA MAKHLUK HALUS TIDAK BERTEMPAT TINGGAL SEMBARANGAN DI ATAS TANAH DAN DI POHON. SEBAB TANAH DAN POHON BISA MENGHASILKAN SESUATU.
“SELURUH MANUSIA SEYOGYANYA MENGETAHUI RUMAH – ALLAHNYA SENDIRI. TUBUH MANUSIA INILAH SESUNGGUHNYA BUATAN TUHAN SENDIRI YANG HARUS DIJAGA BETUL-BETUL.
Selain Butalocaya, Prabu Brawijaya juga sangat marah akan perbuatan Sunan Benang sehingga mengeluarkan perintah untuk mengusir semua ulama dari Arab kecuali di daeran Ampel dan Demak. Akhirnya Sunan Benang dan Sunan Giri melarikan diri ke Demak. Mereka menghasut Adipati Demak, yaitu Raden Patah untuk menyerang ayahnya sendiri, Prabu Brawijaya dan menghancurkan kerajaan Majalengka, kemudian mengangkat sang Pangeran menjadi Raja Baru.
Sang Prabu sangat terkejut dan heran dengan perilaku ulama dan putranya yang tidak ingat budi baik sang Prabu, malah membalas dengan hal yang tidak sepatutnya. Dalam kemarahannya, Sang Prabu mengeluarkan kutuk “ semoga terbalaskan kesedihan yang aku alami ini, semoga orang Islam Jawa kelak terbalik dalam menjalankan agamanya, berubah menjadi orang berkuncir (maksudnya berkuncir dua, disisi lain kelihatan alim, tapi disisi lain materialistic, gampang terpengaruh hal-hal dunia, meremehkan spiritualitas, hanya kedok belaka untuk diperdagangkan, spiritualitas ditukar dengan materi, mempunyai kepribadian yang bertolak belakang).
Sang Prabu meloloskan diri dari kerajaan diiringi dua Patih yang setia, yaitu Sabda Palon dan Naya Genggong.
GUSTI ALLAH TIDAK AKAN MENYIKSA MANUSIA KAFIR YANG TAK BERSALAH DAN TAK AKAN MEMBERIKAN PAHALA KEPADA ORANG ISLAM YANG PERBUATANNYA TIDAK BENAR. HANYA PERBUATANNYA YANG AKAN DIADILI SECARA ADIL, BUKAN KARENA AGAMANYA.
Sunan Kalijaga berusaha melacak jejak sang Prabu, Perjalanan sang Prabu sendiri sudah sampai di Blambangan. Niatnya adalah meminta sang Prabu kembali ke Majapahit, tapi sang Prabu berniat untuk menyeberang ke Bali, menggalang kekuatan untuk menghancurkan Demak. Karena tidak bisa mencegah niat sang Prabu, Sunan Kalijaga menyembah kaki sang Prabu dan meminta sang Prabu untuk membunuhnya dengan kerisnya sendiri, daripada hidup melihat perang antara Ayah dan anak. Sunan meminta sang Prabu untuk berganti agama Rasul agar tidak disia-siakan putranya. Banyak yang dihaturkan / diajarkan Sunan Kalijaga, sehingga akhirnya sang Prabu tertarik dan berkenan untuk memeluk agama Islam.
Sang Prabu juga meminta dua abdinya, yaitu Sabda Palon dan Naya Genggong untuk memeluk agama Islam, tapi mereka menolak, dan berkata :
“HAMBA TIDAK TEGA MELIHAT PERILAKU MEREKA YANG SIA-SIA, SUKA MENGHUKUM DAN MENGHAKIMI SEMUA YANG BERBADAN, MEMBUAT TAK BERGUNA TUJUAN MOKSA HAMBA KELAK. LEBIH BAIK TIDAK MENGURUSI TETANGGA, PERBUATAN MENGHAKIMI AGAMA LAIN HANYA AKAN MENUNJUKKAN RENDAHNYA PEMAHAMAN DIRI”
Sumber dari sini.
Judul buku : DARMAGANDHUL Kisah Kehancuran Jawa dan ajaran – ajaran rahasia.
Penulis : DAMAR SHASHANGKA
Penerbit : DOLPHIN
Tahun Terbit : 2011
Buku ini dapat di pesan di SINI
MANUSIA TIDAK MEMILIKI KEKUATAN APAPUN. MANUSIA SEKEDAR MENJALANI. BUDI / KESADARANLAH YANG MENGGERAKKANNYA
Menceritakan awal mula orang Jawa meninggalkan agama Buda, lalu berganti agama Rasul. Sesungguhnya Majapahit bernama asli Majalengka, sedangkan nama Majapahit itu hanyalah perlambang. Yang bertahta terakhir adalah Prabu Brawijaya. Prabu yang tergila-gila kepada Putri Campa yang beragama Islam. Setiap memadu asmara sang Putri selalu bercerita tentang keluhuran agama Islam, sehingga hati sang Prabu tertarik pada agama Islam.
Keponakan sang Putri yang bernama Sayid Rakhmat berkunjung ke Majalengka, dan memohon kepada sang Prabu agar diijinkan menyebarkan ajaran Rasul, dan sang Prabu mengijinkan. Sayid kemudian menetap di daerah Ampel, yang sekarang masuk wilayah kecamatan Semampir, Surabaya. Lama kelamaan banyak ulama yang dating dan tinggal di pesisir utara, penduduk Jawa lantas banyak yang memeluk agama Islam. Padahal agama Buda telah ada di tanah Jawa selama kurang lebih seribu tahun, dan pengikutnya menyembah kesadaran sejati tanpa paksaan siapa pun (Budi Hawa).
Prabu Brawijaya memiliki seorang putra hasil perkawinannya dengan seorang putri Cina yang lahir di Palembang, namanya Raden Patah, beragama Islam dan menikah dengan putri Ngampel, cucu Sunan Ampel. Diangkat sang Prabu menjadi Bupati Demak, kelak sang putra inilah yang akan menghancurkan kerajaan ayahnya, Majalengka (Majapahit).
Saat Sunan Benang hendak mengunjungi Kediri dan berniat mencari air bersih untuk wudhu, ternyata air sungai Brantas banjir dan kotor, sehinga muridnya diminta mencari ke desa terdekat. Di jalan, muridnya melihat seorang gadis yang sedang menenun. Sang gadis kaget dan menyangka murid ini berniat jelek padanya, sehingga permintaan murid Sunan untuk meminta air bersih dijawab dengan kasar. Sunan sangat marah mendapat laporan muridnya, sehingga bersumpah bahwa penduduk wilayah itu akan sulit mencari air dan setiap gadis serta perjaka yang tinggal disana tidak akan bisa menikah sebelum usianya tua.
Hal ini menimbulkan kemarahan jin di wilayah Tanjung Tani karena aliran sungai merusak desa, hutan, lading dan sawah yang terlanggar. Hal ini disampaikan kepada raja mereka, yaitu Butalocaya yang berada di kaki Gunung Wilis. Butalocaya dahulunya (semasa masih menjadi manusia) adalah patih Prabu Jayabaya yang bernama Kiai Daka. Saat Prabu Jayabaya moksa (bersatu dengan Tuhan), putrinya Ni Mas Ratu Pagedhogan, Butalocaya dan Kiai Tunggul Wulung ikut berpindah alam. Putrinya menjadi ratu makhluk halus di laut selatan, sedangkan Kiai Tunggu Wulung menjadi raja makhluk halus di Gunung Kelud.
Butalocaya sangat marah mendengar perbuatan Sunan Benang, lalu mencegat perjalanannya. Beberapa teguran Butalocaya kepada Sunan Benang yang layak diingat adalah :
“JANGANLAH KARENA MERASA MENJADI KEKASIH TUHAN, MERASA BANYAK TEMAN MALAIKAT, LANTAS BERBUAT SEENAKNYA, MENGANIAYA MEREKA YANG TANPA DOSA, INILAH JALAN MENUJU CELAKA”.
ORANG JAWA TAHU ARCA TIDAK MEMILIKI DAYA KUASA APAPUN. MENGAPA ARCA INI DILAYANI DENGAN KEMENYAN DAN SAJEN ? AGAR SEMUA MAKHLUK HALUS TIDAK BERTEMPAT TINGGAL SEMBARANGAN DI ATAS TANAH DAN DI POHON. SEBAB TANAH DAN POHON BISA MENGHASILKAN SESUATU.
“SELURUH MANUSIA SEYOGYANYA MENGETAHUI RUMAH – ALLAHNYA SENDIRI. TUBUH MANUSIA INILAH SESUNGGUHNYA BUATAN TUHAN SENDIRI YANG HARUS DIJAGA BETUL-BETUL.
Selain Butalocaya, Prabu Brawijaya juga sangat marah akan perbuatan Sunan Benang sehingga mengeluarkan perintah untuk mengusir semua ulama dari Arab kecuali di daeran Ampel dan Demak. Akhirnya Sunan Benang dan Sunan Giri melarikan diri ke Demak. Mereka menghasut Adipati Demak, yaitu Raden Patah untuk menyerang ayahnya sendiri, Prabu Brawijaya dan menghancurkan kerajaan Majalengka, kemudian mengangkat sang Pangeran menjadi Raja Baru.
Sang Prabu sangat terkejut dan heran dengan perilaku ulama dan putranya yang tidak ingat budi baik sang Prabu, malah membalas dengan hal yang tidak sepatutnya. Dalam kemarahannya, Sang Prabu mengeluarkan kutuk “ semoga terbalaskan kesedihan yang aku alami ini, semoga orang Islam Jawa kelak terbalik dalam menjalankan agamanya, berubah menjadi orang berkuncir (maksudnya berkuncir dua, disisi lain kelihatan alim, tapi disisi lain materialistic, gampang terpengaruh hal-hal dunia, meremehkan spiritualitas, hanya kedok belaka untuk diperdagangkan, spiritualitas ditukar dengan materi, mempunyai kepribadian yang bertolak belakang).
Sang Prabu meloloskan diri dari kerajaan diiringi dua Patih yang setia, yaitu Sabda Palon dan Naya Genggong.
GUSTI ALLAH TIDAK AKAN MENYIKSA MANUSIA KAFIR YANG TAK BERSALAH DAN TAK AKAN MEMBERIKAN PAHALA KEPADA ORANG ISLAM YANG PERBUATANNYA TIDAK BENAR. HANYA PERBUATANNYA YANG AKAN DIADILI SECARA ADIL, BUKAN KARENA AGAMANYA.
Sunan Kalijaga berusaha melacak jejak sang Prabu, Perjalanan sang Prabu sendiri sudah sampai di Blambangan. Niatnya adalah meminta sang Prabu kembali ke Majapahit, tapi sang Prabu berniat untuk menyeberang ke Bali, menggalang kekuatan untuk menghancurkan Demak. Karena tidak bisa mencegah niat sang Prabu, Sunan Kalijaga menyembah kaki sang Prabu dan meminta sang Prabu untuk membunuhnya dengan kerisnya sendiri, daripada hidup melihat perang antara Ayah dan anak. Sunan meminta sang Prabu untuk berganti agama Rasul agar tidak disia-siakan putranya. Banyak yang dihaturkan / diajarkan Sunan Kalijaga, sehingga akhirnya sang Prabu tertarik dan berkenan untuk memeluk agama Islam.
Sang Prabu juga meminta dua abdinya, yaitu Sabda Palon dan Naya Genggong untuk memeluk agama Islam, tapi mereka menolak, dan berkata :
“HAMBA TIDAK TEGA MELIHAT PERILAKU MEREKA YANG SIA-SIA, SUKA MENGHUKUM DAN MENGHAKIMI SEMUA YANG BERBADAN, MEMBUAT TAK BERGUNA TUJUAN MOKSA HAMBA KELAK. LEBIH BAIK TIDAK MENGURUSI TETANGGA, PERBUATAN MENGHAKIMI AGAMA LAIN HANYA AKAN MENUNJUKKAN RENDAHNYA PEMAHAMAN DIRI”
Sumber dari sini.
Judul buku : DARMAGANDHUL Kisah Kehancuran Jawa dan ajaran – ajaran rahasia.
Penulis : DAMAR SHASHANGKA
Penerbit : DOLPHIN
Tahun Terbit : 2011
Buku ini dapat di pesan di SINI
Langganan:
Postingan (Atom)
Popular Posts
Connect with Facebook
Todays Quote :
Love is the expansion of two natures in such a fashion that each includes the other, each is enriched by the other. #Felix Adler 1851-1933










