Resensi Terbaru
Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan
Minggu, 02 Maret 2014
Jakarta Siapa yang Punya?
Jakarta jadi ajang ‘pertempuran’ lagi. Setidaknya hal ini yang terlihat dari para kandidat gubernur dan wakilnya yang mencalonkan diri menjadi orang nomor satu di ibukota negara. Pencalonan para kandidat tersebut memperlihatkan tabuhan ‘genderang perang’ pertama partai-partai politik yang akan bertarung pada Pemilu 2014 nanti.
Seberapa pentingkah Jakarta bagi partai-partai politik tersebut yang mencalonkan para kandidatnya? Jelas penting karena pilkada kali ini dapat menjadi ajang mengukur kekuatan mesin politik menghadapi Pemilu 2014. Namun, hal yang terpenting adalah apakah para kandidat tersebut kelak mampu mengatasi berbagai persoalan di Jakarta. Mulai dari kemacetan, kebakaran, hingga banjir.
Berbagai peneliti telah mengupas Jakarta serta persoalannya dari berbagai sisi. Hal yang menarik adalah bila kita membahas tentang Jakarta, seolah tidak akan ada habisnya. Satu nama yang kerap menjadi sumber para peneliti tentang Jakarta yaitu Frederik ‘si Jago’ de Haan. De Haan ini pula yang termasuk salah satu sumber dalam buku Jakarta: Sejarah 400 Tahun karya Susan Blackburn.
Buku ini merupakan terjemahan dari edisi revisi Jakarta: A History (1989) karya Susan Blackburn yang ketika itu masih bernama Susan Abayasekere. Ketika pertama kali terbit pada 1987 buku tersebut sempat dilarang beredar.
Alasan yang dikemukakan oleh pemerintah ketika itu adalah pemerintah tidak suka dengan cara meneliti dan pengungkapan Susan mengenai Jakarta yang pernah dijuluki Ratu dari Timur (Queen of the East). Hal tersebut tidak ada kaitannya dengan metode yang digunakannya melainkan tesis yang diajukan oleh Susan membuat pihak-pihak yang berkepentingan tidak berkenan.
Susan mengajukan tesis bahwa Jakarta merupakan kota yang dibangun untuk memuaskan impian para penguasa dan pemilik modal serta tidak memerhatikan kelompok masyarakat lain yaitu masyarakat bawah alias wong cilik.
Dilihat dari sejarah perkembangan Jakarta, Jakarta memang mengalami perubahan serta kesinambungan seiring pergantian penguasanya. Mulai dari penguasa VOC (Verenigde Oost Indische Compagnie), sebuah perusahaan dagang yang kerap disebut kompeni dan pada awalnya membangun benteng di salah satu wilayah bagian utara Jakarta sekarang.
Hal ini dibahas pada bagian pertama: ‘Tuan-Tuan Lama’. Bagian tersebut membahas Jakarta pada periode abad ke-17 (1619) hingga menjelang masuknya Jepang pada 1942. Pada bagian ini terdiri dari tiga bab: ‘Kota Kompeni: Asal Mula Hingga 1800’, ‘Kota Kolonial: Batavia pada Abad ke-19’, dan ‘Batavia 1900-1942: Kota Kolonial Menghadapi Tantangan’.
Pada masa kolonial, pemerintah Hindia-Belanda berharap Jakarta menjadi salah satu kota yang menjadi kota bagi masyarakat kulit putih. Di sini kita mengenal istilahbenedenstad (kota lama) , kawasan Weltevreden hingga Menteng.
Pada bagian kedua ‘Masa Peralihan Pemerintahan’ yang membahas Jakarta pada periode perang hingga pasca kemerdekaan hanya terdiri dari satu bab ‘Pendudukan Jepang dan Perjuangan Meraih Kemerdekaan, 1942-1949’ .
Setelah berada di bawah pemerintah Hindia-Belanda dan mengalami masa peralihan, Jakarta berada di bawah kekuasaan pemerintah Republik Indonesia. Periode tersebut dibahas pada bagian ketiga. Pada bagian ini ‘Tuan-Tuan Baru’ membahas Jakarta di bawah Soekarno dan pemerintahan Orde Baru. Pada bagian ini terdiri dari dua bab: ‘Jakarta Masa Sukarno: 1950-1965’ dan ‘Jakarta di Bawah Pemerintahan Sadikin dan Para Penerusnya: 1966-1985’
Pada masa Republik Indonesia, Jakarta dirancang untuk menjadi kota kebanggaan nasional di mana berbagai proyek dibangun dan pada masa Orde Baru, Jakarta menjadi kota pusat perekonomian negeri.
Benang merah yang menjadi penghubung antar periode tersebut adalah Jakarta dibangun hanya untuk kepentingan kelompok tertentu bukan untuk seluruh masyarakat. Dalam setiap periode, Jakarta terus menghadapi permasalahan dan tak kunjung mampu mengatasinya. Sebut saja masalah banjir, air bersih, sampah, kemacetan yang akarnya sudah terlihat dari awal dan masih dirasakan hingga kini. Permasalahan itu pula yang menjadi pekerjaan rumah para kandidat gubernur.
Sehubungan dengan periode yang dibahas (sampai 1985), khususnya dengan data yang mendukung buku ini, sepertinya membuat buku ini ketinggalan zaman. Apalagi pasca peristiwa Reformasi 1998 juga memberikan pengaruh dan mengubah wajah Jakarta sekarang. Hal ini sebenarnya sudah dijawab oleh Susan Blackburn dalam kata pengantarnya bahwa diperlukan satu buku tersendiri untuk membahas periode tambahan tersebut.
Selain disusun secara kronologis buku ini dilengkapi peta dan ilustrasi yang membantu kita untuk membayangkan kembali situasi pada periode yang dibahas.
Siapa pun yang kelak menjadi orang nomor satu di Jakarta, diharapkan juga dapat menyuarakan suara masyarakat, khususnya masyarakat kecil. Tidak hanya segelintir elite, baik penguasa dan pemilik modal. Oleh karena Jakarta adalah milik kita semua. Jakarta punya kita.
Sumber Resensi : INI
Sumber Resensi : INI
.....................................................
Pesan Buku " JAKARTA Sejarah 400 Tahun " di SINI.
Kisah-kisah Memukau dari Swarna Dwipa
Kisah-kisah Memukau dari Swarna Dwipa
Sumatera sudah mendunia sejak berabad-abad lampau. Perdagangan rempah-rempah terutama pala membawa para pedagang dari berbagai tempat termasuk Eropa mulai dari Italia, Prancis, Portugal, Belanda, Jerman, dan Inggris serta datang dari Arab dan Persia untuk berkunjung ke Sumatera. Pasai, Baros, dan Sriwijaya adalah nama-nama pelabuhan besar yang didatangi oleh para saudagar ini. Sumatera pun dikenal sebagai pulau yang kaya dengan hasil alam dan memiliki nama Swarna Dwipa alias Pulau Emas.
Para pendatang dari berlatar belakang profesi itu kemudian menuliskan catatan perjalanan dalam berbagai bentuk mulai dari memoar, jurnal, hingga tulisan semi fiksi. Beragam tulisan yang menjadi bagian penting dari rekam jejak sejarah Sumatera.
Marco Polo yang ternama dengan kisah Jalan Sutra-nya, penjelajah muslim Ibnu Battuta, Thomas Dias, gubernur jenderal Thomas Stamford Raffles, serta lain-lainnya pernah mampir dan tinggal di Sumatera. Lantas mereka menuliskan pengalamannya saat berada di Sumatera.
Cerita, kisah, dan penggambaran mereka perihal Sumatera pun begitu mencengangkan dan memukau. Bisa jadi tidak ada dalam buku sejarah pada umumnya. Para penulis dari luar ini berkisah soal apa saja mulai dari sosial, budaya, agama, hingga politik di Sumatera. Sementara hanya ada dua “penulis lokal Sumatera” yaitu Tan Malaka, salah satu founding father negeri ini dan juga Muhamad Radjab, seorang jurnalis di awal abad ke-20.
Adalah Anthony Reid, sejarawan dengan spesialisasi Asia Tenggara yang mengumpulkan sederetan tulisan-tulisan itu dan kemudian membaginya dalam delapan bab dalam buku Sumatera Tempo Doeloe : Dari Marco Polo sampai Tan Malaka. Buku yang diterjemahkan dari Witnesses to Sumatra : A Travelers’ Anthology yang terbit pada 1995 ini tidak menyuguhkan sejarah Sumatera secara runut. Reid mengelompokkan tulisan-tulisan itu dalam topik dan tema yang relevan dan sama.
Para penulis ini tentunya “bebas” menuliskan apa saja. Mereka yang datang dan menetap di Sumatera saat itu pasti mengamati setiap sudut wilayah, polah tingkah masyarakat, dan lainnya. Sudah pasti para penulis memiliki sudut pandang yang bisa saja tidak adil, subyektif, dan terasa tidak simpati kepada masyarakat Sumatera. Apalagi mereka sering menganalogikan apa yang terjadi di Sumatera dengan negara asalnya.
Lantaran itu juga Reid memberikan semacam panduan dan catatan pada setiap tulisan. Rentang waktu yang lama dari kisah yang berusia sejak abad ke-9 hingga abad ke-20 ini tentu sangat berjarak dengan para pembaca yang berada di abad ke-21. Semua itu memang diberikan Reid agar orang yang membaca tulisan-tulisan itu mengenal para penulis yang memang banyak belum dikenal kecuali Marco Polo, Ibnu Battuta, atau Raffles. Selain itu, Reid juga ingin agar orang yang membaca buku ini memahami situasi, kondisi, dan konteks suasana saat itu.
Bisa jadi, apa yang tertulis dalam buku Sumatera Tempo Doeloe : Dari Marco Polo sampai Tan Malaka ini berbeda dengan teks-teks sejarah yang kita ketahui, hikayat sejarah, teks keagamaan, dan lainnya, tetapi tulisan-tulisan ini setidaknya memberikan sudut pandang baru tentang sejarah Sumatera.
_______________________________
Penulis: Dodiek Adyttya Dwiwanto
Sumber: Jurnal Nasional, 16 Februari 2014
_______________________________
Judul : Sumatra Tempo Doeloe
Penyusun : Anthony Reid
Penerjemah : Tim Komunitas Bambu
Penyunting : Dewi Anggraeni
Penerbit : Komunitas Bambu
Cetakan : Kedua, Januari 2014
Tebal : 424 halaman
Langganan:
Postingan (Atom)
Popular Posts
Connect with Facebook
Todays Quote :
Love is the expansion of two natures in such a fashion that each includes the other, each is enriched by the other. #Felix Adler 1851-1933


