Resensi Terbaru
Tampilkan postingan dengan label Spiritual. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Spiritual. Tampilkan semua postingan
Jumat, 21 Februari 2014
Resensi buku "DARMAGANDHUL"
Sebuah buku sejarah yang diterjemahkan oleh penulis dari Serat Darmagandhul dengan bahasa yang disesuaikan dengan jaman. Semenjak terbit, Dharmagandhul telah menuai kontroversi , karena ceritanya dicintai kaum Kejawen dan Islam abangan tapi dibencikaum Islam radikal. Kitab ini hadir dalam versi prosa dan tembang, yang sudah sangat jarang ditemukan. Yang menjadi keistimewaan buku ini adalah penulis memberikan ulasan tentang runtuhnya Majapahit serta ajaran Islam, Buda dan Kejawen, demi mencari titik temu, intisari spiritual dari tiga kepercayaan tersebut.
MANUSIA TIDAK MEMILIKI KEKUATAN APAPUN. MANUSIA SEKEDAR MENJALANI. BUDI / KESADARANLAH YANG MENGGERAKKANNYA
Menceritakan awal mula orang Jawa meninggalkan agama Buda, lalu berganti agama Rasul. Sesungguhnya Majapahit bernama asli Majalengka, sedangkan nama Majapahit itu hanyalah perlambang. Yang bertahta terakhir adalah Prabu Brawijaya. Prabu yang tergila-gila kepada Putri Campa yang beragama Islam. Setiap memadu asmara sang Putri selalu bercerita tentang keluhuran agama Islam, sehingga hati sang Prabu tertarik pada agama Islam.
Keponakan sang Putri yang bernama Sayid Rakhmat berkunjung ke Majalengka, dan memohon kepada sang Prabu agar diijinkan menyebarkan ajaran Rasul, dan sang Prabu mengijinkan. Sayid kemudian menetap di daerah Ampel, yang sekarang masuk wilayah kecamatan Semampir, Surabaya. Lama kelamaan banyak ulama yang dating dan tinggal di pesisir utara, penduduk Jawa lantas banyak yang memeluk agama Islam. Padahal agama Buda telah ada di tanah Jawa selama kurang lebih seribu tahun, dan pengikutnya menyembah kesadaran sejati tanpa paksaan siapa pun (Budi Hawa).
Prabu Brawijaya memiliki seorang putra hasil perkawinannya dengan seorang putri Cina yang lahir di Palembang, namanya Raden Patah, beragama Islam dan menikah dengan putri Ngampel, cucu Sunan Ampel. Diangkat sang Prabu menjadi Bupati Demak, kelak sang putra inilah yang akan menghancurkan kerajaan ayahnya, Majalengka (Majapahit).
Saat Sunan Benang hendak mengunjungi Kediri dan berniat mencari air bersih untuk wudhu, ternyata air sungai Brantas banjir dan kotor, sehinga muridnya diminta mencari ke desa terdekat. Di jalan, muridnya melihat seorang gadis yang sedang menenun. Sang gadis kaget dan menyangka murid ini berniat jelek padanya, sehingga permintaan murid Sunan untuk meminta air bersih dijawab dengan kasar. Sunan sangat marah mendapat laporan muridnya, sehingga bersumpah bahwa penduduk wilayah itu akan sulit mencari air dan setiap gadis serta perjaka yang tinggal disana tidak akan bisa menikah sebelum usianya tua.
Hal ini menimbulkan kemarahan jin di wilayah Tanjung Tani karena aliran sungai merusak desa, hutan, lading dan sawah yang terlanggar. Hal ini disampaikan kepada raja mereka, yaitu Butalocaya yang berada di kaki Gunung Wilis. Butalocaya dahulunya (semasa masih menjadi manusia) adalah patih Prabu Jayabaya yang bernama Kiai Daka. Saat Prabu Jayabaya moksa (bersatu dengan Tuhan), putrinya Ni Mas Ratu Pagedhogan, Butalocaya dan Kiai Tunggul Wulung ikut berpindah alam. Putrinya menjadi ratu makhluk halus di laut selatan, sedangkan Kiai Tunggu Wulung menjadi raja makhluk halus di Gunung Kelud.
Butalocaya sangat marah mendengar perbuatan Sunan Benang, lalu mencegat perjalanannya. Beberapa teguran Butalocaya kepada Sunan Benang yang layak diingat adalah :
“JANGANLAH KARENA MERASA MENJADI KEKASIH TUHAN, MERASA BANYAK TEMAN MALAIKAT, LANTAS BERBUAT SEENAKNYA, MENGANIAYA MEREKA YANG TANPA DOSA, INILAH JALAN MENUJU CELAKA”.
ORANG JAWA TAHU ARCA TIDAK MEMILIKI DAYA KUASA APAPUN. MENGAPA ARCA INI DILAYANI DENGAN KEMENYAN DAN SAJEN ? AGAR SEMUA MAKHLUK HALUS TIDAK BERTEMPAT TINGGAL SEMBARANGAN DI ATAS TANAH DAN DI POHON. SEBAB TANAH DAN POHON BISA MENGHASILKAN SESUATU.
“SELURUH MANUSIA SEYOGYANYA MENGETAHUI RUMAH – ALLAHNYA SENDIRI. TUBUH MANUSIA INILAH SESUNGGUHNYA BUATAN TUHAN SENDIRI YANG HARUS DIJAGA BETUL-BETUL.
Selain Butalocaya, Prabu Brawijaya juga sangat marah akan perbuatan Sunan Benang sehingga mengeluarkan perintah untuk mengusir semua ulama dari Arab kecuali di daeran Ampel dan Demak. Akhirnya Sunan Benang dan Sunan Giri melarikan diri ke Demak. Mereka menghasut Adipati Demak, yaitu Raden Patah untuk menyerang ayahnya sendiri, Prabu Brawijaya dan menghancurkan kerajaan Majalengka, kemudian mengangkat sang Pangeran menjadi Raja Baru.
Sang Prabu sangat terkejut dan heran dengan perilaku ulama dan putranya yang tidak ingat budi baik sang Prabu, malah membalas dengan hal yang tidak sepatutnya. Dalam kemarahannya, Sang Prabu mengeluarkan kutuk “ semoga terbalaskan kesedihan yang aku alami ini, semoga orang Islam Jawa kelak terbalik dalam menjalankan agamanya, berubah menjadi orang berkuncir (maksudnya berkuncir dua, disisi lain kelihatan alim, tapi disisi lain materialistic, gampang terpengaruh hal-hal dunia, meremehkan spiritualitas, hanya kedok belaka untuk diperdagangkan, spiritualitas ditukar dengan materi, mempunyai kepribadian yang bertolak belakang).
Sang Prabu meloloskan diri dari kerajaan diiringi dua Patih yang setia, yaitu Sabda Palon dan Naya Genggong.
GUSTI ALLAH TIDAK AKAN MENYIKSA MANUSIA KAFIR YANG TAK BERSALAH DAN TAK AKAN MEMBERIKAN PAHALA KEPADA ORANG ISLAM YANG PERBUATANNYA TIDAK BENAR. HANYA PERBUATANNYA YANG AKAN DIADILI SECARA ADIL, BUKAN KARENA AGAMANYA.
Sunan Kalijaga berusaha melacak jejak sang Prabu, Perjalanan sang Prabu sendiri sudah sampai di Blambangan. Niatnya adalah meminta sang Prabu kembali ke Majapahit, tapi sang Prabu berniat untuk menyeberang ke Bali, menggalang kekuatan untuk menghancurkan Demak. Karena tidak bisa mencegah niat sang Prabu, Sunan Kalijaga menyembah kaki sang Prabu dan meminta sang Prabu untuk membunuhnya dengan kerisnya sendiri, daripada hidup melihat perang antara Ayah dan anak. Sunan meminta sang Prabu untuk berganti agama Rasul agar tidak disia-siakan putranya. Banyak yang dihaturkan / diajarkan Sunan Kalijaga, sehingga akhirnya sang Prabu tertarik dan berkenan untuk memeluk agama Islam.
Sang Prabu juga meminta dua abdinya, yaitu Sabda Palon dan Naya Genggong untuk memeluk agama Islam, tapi mereka menolak, dan berkata :
“HAMBA TIDAK TEGA MELIHAT PERILAKU MEREKA YANG SIA-SIA, SUKA MENGHUKUM DAN MENGHAKIMI SEMUA YANG BERBADAN, MEMBUAT TAK BERGUNA TUJUAN MOKSA HAMBA KELAK. LEBIH BAIK TIDAK MENGURUSI TETANGGA, PERBUATAN MENGHAKIMI AGAMA LAIN HANYA AKAN MENUNJUKKAN RENDAHNYA PEMAHAMAN DIRI”
Sumber dari sini.
Judul buku : DARMAGANDHUL Kisah Kehancuran Jawa dan ajaran – ajaran rahasia.
Penulis : DAMAR SHASHANGKA
Penerbit : DOLPHIN
Tahun Terbit : 2011
Buku ini dapat di pesan di SINI
MANUSIA TIDAK MEMILIKI KEKUATAN APAPUN. MANUSIA SEKEDAR MENJALANI. BUDI / KESADARANLAH YANG MENGGERAKKANNYA
Menceritakan awal mula orang Jawa meninggalkan agama Buda, lalu berganti agama Rasul. Sesungguhnya Majapahit bernama asli Majalengka, sedangkan nama Majapahit itu hanyalah perlambang. Yang bertahta terakhir adalah Prabu Brawijaya. Prabu yang tergila-gila kepada Putri Campa yang beragama Islam. Setiap memadu asmara sang Putri selalu bercerita tentang keluhuran agama Islam, sehingga hati sang Prabu tertarik pada agama Islam.
Keponakan sang Putri yang bernama Sayid Rakhmat berkunjung ke Majalengka, dan memohon kepada sang Prabu agar diijinkan menyebarkan ajaran Rasul, dan sang Prabu mengijinkan. Sayid kemudian menetap di daerah Ampel, yang sekarang masuk wilayah kecamatan Semampir, Surabaya. Lama kelamaan banyak ulama yang dating dan tinggal di pesisir utara, penduduk Jawa lantas banyak yang memeluk agama Islam. Padahal agama Buda telah ada di tanah Jawa selama kurang lebih seribu tahun, dan pengikutnya menyembah kesadaran sejati tanpa paksaan siapa pun (Budi Hawa).
Prabu Brawijaya memiliki seorang putra hasil perkawinannya dengan seorang putri Cina yang lahir di Palembang, namanya Raden Patah, beragama Islam dan menikah dengan putri Ngampel, cucu Sunan Ampel. Diangkat sang Prabu menjadi Bupati Demak, kelak sang putra inilah yang akan menghancurkan kerajaan ayahnya, Majalengka (Majapahit).
Saat Sunan Benang hendak mengunjungi Kediri dan berniat mencari air bersih untuk wudhu, ternyata air sungai Brantas banjir dan kotor, sehinga muridnya diminta mencari ke desa terdekat. Di jalan, muridnya melihat seorang gadis yang sedang menenun. Sang gadis kaget dan menyangka murid ini berniat jelek padanya, sehingga permintaan murid Sunan untuk meminta air bersih dijawab dengan kasar. Sunan sangat marah mendapat laporan muridnya, sehingga bersumpah bahwa penduduk wilayah itu akan sulit mencari air dan setiap gadis serta perjaka yang tinggal disana tidak akan bisa menikah sebelum usianya tua.
Hal ini menimbulkan kemarahan jin di wilayah Tanjung Tani karena aliran sungai merusak desa, hutan, lading dan sawah yang terlanggar. Hal ini disampaikan kepada raja mereka, yaitu Butalocaya yang berada di kaki Gunung Wilis. Butalocaya dahulunya (semasa masih menjadi manusia) adalah patih Prabu Jayabaya yang bernama Kiai Daka. Saat Prabu Jayabaya moksa (bersatu dengan Tuhan), putrinya Ni Mas Ratu Pagedhogan, Butalocaya dan Kiai Tunggul Wulung ikut berpindah alam. Putrinya menjadi ratu makhluk halus di laut selatan, sedangkan Kiai Tunggu Wulung menjadi raja makhluk halus di Gunung Kelud.
Butalocaya sangat marah mendengar perbuatan Sunan Benang, lalu mencegat perjalanannya. Beberapa teguran Butalocaya kepada Sunan Benang yang layak diingat adalah :
“JANGANLAH KARENA MERASA MENJADI KEKASIH TUHAN, MERASA BANYAK TEMAN MALAIKAT, LANTAS BERBUAT SEENAKNYA, MENGANIAYA MEREKA YANG TANPA DOSA, INILAH JALAN MENUJU CELAKA”.
ORANG JAWA TAHU ARCA TIDAK MEMILIKI DAYA KUASA APAPUN. MENGAPA ARCA INI DILAYANI DENGAN KEMENYAN DAN SAJEN ? AGAR SEMUA MAKHLUK HALUS TIDAK BERTEMPAT TINGGAL SEMBARANGAN DI ATAS TANAH DAN DI POHON. SEBAB TANAH DAN POHON BISA MENGHASILKAN SESUATU.
“SELURUH MANUSIA SEYOGYANYA MENGETAHUI RUMAH – ALLAHNYA SENDIRI. TUBUH MANUSIA INILAH SESUNGGUHNYA BUATAN TUHAN SENDIRI YANG HARUS DIJAGA BETUL-BETUL.
Selain Butalocaya, Prabu Brawijaya juga sangat marah akan perbuatan Sunan Benang sehingga mengeluarkan perintah untuk mengusir semua ulama dari Arab kecuali di daeran Ampel dan Demak. Akhirnya Sunan Benang dan Sunan Giri melarikan diri ke Demak. Mereka menghasut Adipati Demak, yaitu Raden Patah untuk menyerang ayahnya sendiri, Prabu Brawijaya dan menghancurkan kerajaan Majalengka, kemudian mengangkat sang Pangeran menjadi Raja Baru.
Sang Prabu sangat terkejut dan heran dengan perilaku ulama dan putranya yang tidak ingat budi baik sang Prabu, malah membalas dengan hal yang tidak sepatutnya. Dalam kemarahannya, Sang Prabu mengeluarkan kutuk “ semoga terbalaskan kesedihan yang aku alami ini, semoga orang Islam Jawa kelak terbalik dalam menjalankan agamanya, berubah menjadi orang berkuncir (maksudnya berkuncir dua, disisi lain kelihatan alim, tapi disisi lain materialistic, gampang terpengaruh hal-hal dunia, meremehkan spiritualitas, hanya kedok belaka untuk diperdagangkan, spiritualitas ditukar dengan materi, mempunyai kepribadian yang bertolak belakang).
Sang Prabu meloloskan diri dari kerajaan diiringi dua Patih yang setia, yaitu Sabda Palon dan Naya Genggong.
GUSTI ALLAH TIDAK AKAN MENYIKSA MANUSIA KAFIR YANG TAK BERSALAH DAN TAK AKAN MEMBERIKAN PAHALA KEPADA ORANG ISLAM YANG PERBUATANNYA TIDAK BENAR. HANYA PERBUATANNYA YANG AKAN DIADILI SECARA ADIL, BUKAN KARENA AGAMANYA.
Sunan Kalijaga berusaha melacak jejak sang Prabu, Perjalanan sang Prabu sendiri sudah sampai di Blambangan. Niatnya adalah meminta sang Prabu kembali ke Majapahit, tapi sang Prabu berniat untuk menyeberang ke Bali, menggalang kekuatan untuk menghancurkan Demak. Karena tidak bisa mencegah niat sang Prabu, Sunan Kalijaga menyembah kaki sang Prabu dan meminta sang Prabu untuk membunuhnya dengan kerisnya sendiri, daripada hidup melihat perang antara Ayah dan anak. Sunan meminta sang Prabu untuk berganti agama Rasul agar tidak disia-siakan putranya. Banyak yang dihaturkan / diajarkan Sunan Kalijaga, sehingga akhirnya sang Prabu tertarik dan berkenan untuk memeluk agama Islam.
Sang Prabu juga meminta dua abdinya, yaitu Sabda Palon dan Naya Genggong untuk memeluk agama Islam, tapi mereka menolak, dan berkata :
“HAMBA TIDAK TEGA MELIHAT PERILAKU MEREKA YANG SIA-SIA, SUKA MENGHUKUM DAN MENGHAKIMI SEMUA YANG BERBADAN, MEMBUAT TAK BERGUNA TUJUAN MOKSA HAMBA KELAK. LEBIH BAIK TIDAK MENGURUSI TETANGGA, PERBUATAN MENGHAKIMI AGAMA LAIN HANYA AKAN MENUNJUKKAN RENDAHNYA PEMAHAMAN DIRI”
Sumber dari sini.
Judul buku : DARMAGANDHUL Kisah Kehancuran Jawa dan ajaran – ajaran rahasia.
Penulis : DAMAR SHASHANGKA
Penerbit : DOLPHIN
Tahun Terbit : 2011
Buku ini dapat di pesan di SINI
Kamis, 20 Februari 2014
Resensi : Syekh Siti Jenar: Makna Kematian
Sebenarnya, buku ini sudah lama selesai dibaca. tertarik mereview karena melihat tayangan kick andy yang membahas tentang kematian (based on book yang berjudul the last lecturer dan psikologi kematian). dua buku terakhir ini belum saya baca. adalagi buku yang menyita perhatian saya sebenarnya. buku al ghozali -nabi tanpa wahyu- metode menjemput kematian.
kenapa kematian? seyem ya. saya sendiri tertarik untuk 'mati' setelah beberapa tahun terakhir ini mendalami dunia sunyi sufi. meski saya tak berusaha seperti seorang salik sufi yang mencoba berbagai cara untuk mati. tapi saya memang penasaran untuk 'mati'. ada apa dengan 'mati'. benarkah kita akan mengalami siksa kubur. benarkah kita akan menuju surga atau neraka. jangan-jangan surga dan neraka itu tidak ada. belum ada bukti. semua cuma kata kitab suci. bukan saya meragukan kitab suci. tapi saya adalah tipe yang membutuhkan 'bukti' untuk sebuah kebenaran. kitab suci sekedar pengantar. kebenaran sejati ada di hati. jika tidak ada kitab suci, apakah anda masih percaya adanya Tuhan? inilah yang saya 'cari'.
pikiran ini membawa saya ke sebuah gua yang bernama gua pamijahan. gua ini terletak di kaki bukit gunung mujarod (tempat penenangan) di daerah tasikmalaya. gua ini adalah tempat di mana syaikh abdul qodir jaelani menerima ilmu agama dari syaikh imam sanusi. konon, gua ini juga menjadi tempat 'meeting' para wali songo dengan syaikh abdul qodir jaelani -saya sempat berdiam lama di tempat 'meeting' ini-. entah apa yang mereka 'meeting'-kan. tidak usah dibahas di sini.
ketika sampai di ujung gua -tempatnya cukup lebar-, kebetulan pas tidak ada orang. saya mencoba mematikan obor saya. dan seketika gelap hinggap. segelap-gelapnya. sesunyi-sunyinya. apakah ini mati. sunyi. tidak ada bunyi. tidak ada cahaya. hitam. sehitam-hitamnya. pikiran saya lari kemana-mana. ingat ibu saya. bapak saya. adik-adik saya. kawan-kawan saya. mhh. kok seyem gini sih. saya jadi takut. hati saya tak henti-hentinya dzikir. mengingat segala dosa dan khilaf. (dan kenapa juga saya ingat dosa dan khilaf. sementara ketika saya 'hidup', saya tak memusingkan hal itu. cuek.) akhirnya tak kuasa juga saya menahan airmata. dia menetes tanpa saya perintah. entah apa yang saya pikirkan. cuma saya merasa 'takut' jika mati dimaknai dengan gelap dan sunyi seperti ini. (saya pernah berkhayal, bahwa kematian tidak ada bedanya dengan kehidupan. kita masih bisa dugem atau menyantap soto ceker kesukaan). tapi kalau gelap dan sunyi begini. doh. saya ogah deh.
nah, pandangan saya tentang kematian 'berubah' saat saya mulai baca buku ini. dengan bahasa yang mengalir dan sederhana, achmad chodjim berusaha menjelaskan makna kematian bagi seorang mbah jenar -duh. saya jadi kangen panjenengan-. bagi mbah jenar, kematian itu ya hari ini. dimana kita (baca: saya) masih bisa menghirup udara bebas. masih bisa makan soto ceker dan minum coca cola. masih sempat ngopi di phoenam. masih senang chatting di sela kerja. masih bermimpi untuk menjadi orang sukses dan banyak duit sehingga bisa beli banyak buku dan membangun perpustakaan. masih sempat menulis puisi dan cerpen. masih baca buku dan menulis review. tapi begitulah. itu hanya contoh aktivitas yang kita kerjakan saat kita berada di 'alam kematian'. banyak aktivitas lain yang tidak usah dibahas di sini.
menurut mbah jenar, kehidupan sejati adalah hidup bersama sang pemberi hidup. bukan alam materi seperti yang kita alami dan rasakan seperti ini. sesungguhnya kita sudah berada di alam kematian hari ini -tanpa nisan dan kain kafan-. sesungguhnya kita sudah berada di alam surga dan neraka hari ini. tergantung parameter anda tentang surga dan neraka itu. sungguh. betapa setiap hari kita selalu berhadapan dengan hal-hal yang tidak masuk akal. hal-hal ini akan masuk akal jika kita berada di alam kematian. ayah memperkosa anaknya. anak membunuh ibunya. orang saling membunuh cuma karena beda. nggak masuk akal kan.
mbah jenar menampar saya. mengingatkan saya untuk 'hidup'. kenapa saya harus memikirkan kematian. saya sudah mati sejak pertama saya melihat dunia ini. yang saya butuhkan adalah 'hidup'. sehidup-hidupnya. hidup dengan sang pemberi hidup. siapa pun dia.
Sumber resensi dari SINI.
Pesan Buku ini di SINI
atau SMS/WA 081393725615. ( Eko Waluyo )
kenapa kematian? seyem ya. saya sendiri tertarik untuk 'mati' setelah beberapa tahun terakhir ini mendalami dunia sunyi sufi. meski saya tak berusaha seperti seorang salik sufi yang mencoba berbagai cara untuk mati. tapi saya memang penasaran untuk 'mati'. ada apa dengan 'mati'. benarkah kita akan mengalami siksa kubur. benarkah kita akan menuju surga atau neraka. jangan-jangan surga dan neraka itu tidak ada. belum ada bukti. semua cuma kata kitab suci. bukan saya meragukan kitab suci. tapi saya adalah tipe yang membutuhkan 'bukti' untuk sebuah kebenaran. kitab suci sekedar pengantar. kebenaran sejati ada di hati. jika tidak ada kitab suci, apakah anda masih percaya adanya Tuhan? inilah yang saya 'cari'.
pikiran ini membawa saya ke sebuah gua yang bernama gua pamijahan. gua ini terletak di kaki bukit gunung mujarod (tempat penenangan) di daerah tasikmalaya. gua ini adalah tempat di mana syaikh abdul qodir jaelani menerima ilmu agama dari syaikh imam sanusi. konon, gua ini juga menjadi tempat 'meeting' para wali songo dengan syaikh abdul qodir jaelani -saya sempat berdiam lama di tempat 'meeting' ini-. entah apa yang mereka 'meeting'-kan. tidak usah dibahas di sini.
ketika sampai di ujung gua -tempatnya cukup lebar-, kebetulan pas tidak ada orang. saya mencoba mematikan obor saya. dan seketika gelap hinggap. segelap-gelapnya. sesunyi-sunyinya. apakah ini mati. sunyi. tidak ada bunyi. tidak ada cahaya. hitam. sehitam-hitamnya. pikiran saya lari kemana-mana. ingat ibu saya. bapak saya. adik-adik saya. kawan-kawan saya. mhh. kok seyem gini sih. saya jadi takut. hati saya tak henti-hentinya dzikir. mengingat segala dosa dan khilaf. (dan kenapa juga saya ingat dosa dan khilaf. sementara ketika saya 'hidup', saya tak memusingkan hal itu. cuek.) akhirnya tak kuasa juga saya menahan airmata. dia menetes tanpa saya perintah. entah apa yang saya pikirkan. cuma saya merasa 'takut' jika mati dimaknai dengan gelap dan sunyi seperti ini. (saya pernah berkhayal, bahwa kematian tidak ada bedanya dengan kehidupan. kita masih bisa dugem atau menyantap soto ceker kesukaan). tapi kalau gelap dan sunyi begini. doh. saya ogah deh.
nah, pandangan saya tentang kematian 'berubah' saat saya mulai baca buku ini. dengan bahasa yang mengalir dan sederhana, achmad chodjim berusaha menjelaskan makna kematian bagi seorang mbah jenar -duh. saya jadi kangen panjenengan-. bagi mbah jenar, kematian itu ya hari ini. dimana kita (baca: saya) masih bisa menghirup udara bebas. masih bisa makan soto ceker dan minum coca cola. masih sempat ngopi di phoenam. masih senang chatting di sela kerja. masih bermimpi untuk menjadi orang sukses dan banyak duit sehingga bisa beli banyak buku dan membangun perpustakaan. masih sempat menulis puisi dan cerpen. masih baca buku dan menulis review. tapi begitulah. itu hanya contoh aktivitas yang kita kerjakan saat kita berada di 'alam kematian'. banyak aktivitas lain yang tidak usah dibahas di sini.
menurut mbah jenar, kehidupan sejati adalah hidup bersama sang pemberi hidup. bukan alam materi seperti yang kita alami dan rasakan seperti ini. sesungguhnya kita sudah berada di alam kematian hari ini -tanpa nisan dan kain kafan-. sesungguhnya kita sudah berada di alam surga dan neraka hari ini. tergantung parameter anda tentang surga dan neraka itu. sungguh. betapa setiap hari kita selalu berhadapan dengan hal-hal yang tidak masuk akal. hal-hal ini akan masuk akal jika kita berada di alam kematian. ayah memperkosa anaknya. anak membunuh ibunya. orang saling membunuh cuma karena beda. nggak masuk akal kan.
mbah jenar menampar saya. mengingatkan saya untuk 'hidup'. kenapa saya harus memikirkan kematian. saya sudah mati sejak pertama saya melihat dunia ini. yang saya butuhkan adalah 'hidup'. sehidup-hidupnya. hidup dengan sang pemberi hidup. siapa pun dia.
Sumber resensi dari SINI.
Pesan Buku ini di SINI
atau SMS/WA 081393725615. ( Eko Waluyo )
Rahuvana Tattwa, Membaca Epik Ramayana Dengan Sudut Pandang Terbalik.
Ketika masku memilih membeli buku ini di pameran buku di Gedung KONI beberapa waktu lalu, agak males melihat ketebalannya yang hampir 600 halaman. Apalagi ketika sekilas membukanya langsung berhadapan dengan kamus yang mengartikan kata-kata yang sedikit bikin puyeng. Buku ini menceritakan tentang Epik Ramayana, cerita pewayangan yang sudah masyhur itu. Cerita asli Ramayana dikarang oleh Valmiki. Menceritakan perjalanan Ravana (Rahwana), atau kita mengenalnya dengan Prabu Dasamuka, Raja dengan Sepuluh Wajah.
Saya memang sejak kecil sedikit banyak mengenal cerita pewayangan. Karena Abah saya dulu langganan Jayabaya dan Panyebar Semangat, Majalah mingguan berbahasa Jawa. Bahkan nilai STTB saya mendapat nilai 9 untuk mata pelajaran Bahasa Daerah. Hanya bedanya jika Rahuvana Tattwa menceritakan asal-usul sampai Ravana gugur sementara cerita pewayangan di kedua majalah tersebut biasanya menceritakan setahap demi setahap atau penggalan seri Ramayana ini. Jadi sangat menarik juga membaca cerita pewayangan dengan versi lengkap dan silsilah yang cukup bikin mumet.
Karya-karya Mas Agus Sunyoto sendiri lebih bergaya novel, namun hebatnya novel yang dihasilkan selalu melalui studi empiris. Pada Rahuvana Tattwa ini ada kurang lebih 30 puluhan referensi yang dia gunakan. Jadi walaupun berbentuk novel namun seakan-akan nyata, bahkan seperti jurnal yang berbentuk novel, saking validnya. Dan sejujurnya sangat mengasyikkan membaca Novel Mas Agus Sunyoto ini, selain ceritanya mudah diikuti walaupun dibaca oleh orang yang awam tentang cerita pewayangan sekalipun, namun yang lebih asyik bahwa novel ini mengambil sudut pandang yang berbeda dari cerita aslinya. Jadi kalau pada versi aslinya, Valmiki menggambarkan betapa kejamnya si Ravana (setelah menjadi raja ia bergelar Rahuvana), betapa biadabnya bangsa raksasha, dan Rama digambarkan sebagai ksatriya keturunan Dewa, atau bagaimana si Hanuman kera sakti ksatriya pembantu Sri Rama yang gagah berani tanpa tandingan. Namun pada versi Mas Agus Sunyoto keadaan itu benar-benar dibalik 180 derajat. Ia ceritakan bahwa si Ravana adalah keturunan bangsa yang lebih beradab, daripada keturunan Indra Raja para Dewa. Sungguh apik penggambarannya dan mengalir seakan kita dipaksa untuk tidak bisa protes dengan pendapatnya tersebut, bahkan asyik-asyik saja membaca novel dengan sudut pandang terbalik.
Satu lagi ciri khas yang tak bisa hilang dari karya Mas Agus Sunyoto, dia berusaha menyelipkan pendapat yang melangit namun tak berkesan menggurui. Lihatlah dialog ketika Sri Rama berbuat culas dengan memanah Bali, Raja Kiskindha dari belakang ketika Bali sedang berhadapan dengan adiknya Sugriva yang mengkhianati kakaknya dengan merebut tahta Kiskindha dengan bantuan Sri Rama. Begitu Bali tahu bahwa yang membokongnya dari belakang adalah Rama yang dikenal sebagai ksatriya, dia sangat kecewa dan menangis, lihatlah dialog indah ini,
“Aku menangis bukan karena kesakitan terkena panah saktimu wahai Rama, jika aku ditakdirkan mati maka memang itulah jalanku untuk kembali, namun aku menangis karena engkau sebagai ksatriya telah melakukan tindakan yang jauh dari sifat ksatriya. Bahkan sangat menjijikkan.”
Demi mendengar kalimat Bali seorang raja yang terkenal arif itu Rama hanya bisa klincutan.
Atau bagian ini yang paling kusuka, ketika Rahuvana akhirnya gugur membela tanah airnya. Rahuvana yang terkenal dengan kesaktianyan tiada tanding, bahkan karena ketekunan dan kesungguhannya dalam semedi untuk menyempurnakan ilmunya ia dianugerahi ilmu yang bisa mempengaruhi tiga dunia. Itu ilmu yang sangat tinggi, yang tak sembarangan orang mampu mempelajarinya. Ketika dikisahkan, akhirnya ia harus gugur dan kalah oleh ilmu yang justru meniadakan segalanya. Ilmu yang hanya bisa dicapai oleh Rama jika ia bermunajat dan mencapai derajat Yang Tak Terbayangkan. Jadi segala kesaktian dan tetek bengek ilmu yang dimiliki Rahuvana hanya bisa dikalahkan oleh Yang Tak Terbayangkan.
Atau ketika Rahuvana mempelajari ilmu Pancasuna, ia tak bisa mencapai level tertinggi ilmu tersebut karena dalam hatinya masih ada semacam keinginan bahwa ilmunya akan digunakan untuk membangun peradaban dan membalaskan dendam pada Dewa Indra. Dan ternyata yang bisa mencapai kesempurnaan ilmu tersebut adalah Kumbhakarna, adik dari Rahuvana, karena Kumbakharna tidak mempunyai ambisi apapun dalam mendalami ilmu tersebut, sehingga Sang Brahma pun menganugerahinya 2 ilmu Brahma tingkat tertinggi dimana ia tak akan terluka dan terbunuh oleh senjata apapun dan oleh siapapun jika ia masih berpijak ditanah.
Juga digambarkan bagaimana sebenarnya Rahuvana lebih romantis dan sopan sikapnya terhadap Sita dibanding Rama yang notabene adalah suaminya sendiri, bahkan Rama mencurigai Sita telah berselingkuh dengan Rahuvana, dan membiarkan Sita Obong, atau membakar dirinya kedalam api. Alih-alih menerima istrinya kembali setelah bela pati obong tersebut, Rama bahkan semakin cuek dengan istrinya.
Novel diakhiri dengan sangat manis dan heroik. Satu persatu keturunan dan saudara Rahuvana akhirnya gugur sebagai pahlawan yang membela tanah air dan bangsanya. Keruntuhan Rahuvana karena pengkhianatan adiknya lain ibu, bernama Bhibisana. Karena semua saudara Rahuvana dididik oleh Ayah (Visrava) dan kakek (Sumali) sehingga mereka semua tahu kelemahan dan kelebihan masing-masing. Dan pada akhirnya semua gugur karena kelemahan mereka satu persatu ditunjukkan oleh Bhibisana si pengkhianat kepada Rama. Walaupun pada akhirnya ia menjadi Raja di Alengka menggantikan Rahuvana yang telah parastra, namun ia sudah tak memiliki prajurit ataupun bangsa rakhsasa pilihan yang mendampinginya, sehingga dia merasa kesepian dan merasakan hidup yang hampa hingga akhir hayatnya. Tidak seperti Rahuvana yang sangat di puja-puja dan sangat dihormati dan dicintai oleh rakyat dan bangsanya. Sehingga semua rakyatnya bersedia bela pati untuk mempertahankan kehormatan tanah air dan bangsanya.
Yang jelas sangat asyik membaca Novel ini, terbukti novel tebal tersebut dapat kuselesaikan dalam tempo 2 hari. Untuk menambah khasanah pengetahuan kita tentang Pewayangan, tentunya dengan versi lain rasanya tidak rugi membaca novel ini. Asyik, itu satu kata yang bisa saya ungkapkan. Terima kasih buat Mas Agus Sunyoto, saya akan selalu menunggu karya-karya sampeyan. Semoga Allah membarakahi sampeyan dan keluarga sehingga akan lebih banyak karya-karya yang sampeyan hasilkan. Bi barakatillah.Ujung, 05.06.07 (tanggal yang bagus tuh)
Saya memang sejak kecil sedikit banyak mengenal cerita pewayangan. Karena Abah saya dulu langganan Jayabaya dan Panyebar Semangat, Majalah mingguan berbahasa Jawa. Bahkan nilai STTB saya mendapat nilai 9 untuk mata pelajaran Bahasa Daerah. Hanya bedanya jika Rahuvana Tattwa menceritakan asal-usul sampai Ravana gugur sementara cerita pewayangan di kedua majalah tersebut biasanya menceritakan setahap demi setahap atau penggalan seri Ramayana ini. Jadi sangat menarik juga membaca cerita pewayangan dengan versi lengkap dan silsilah yang cukup bikin mumet.
Karya-karya Mas Agus Sunyoto sendiri lebih bergaya novel, namun hebatnya novel yang dihasilkan selalu melalui studi empiris. Pada Rahuvana Tattwa ini ada kurang lebih 30 puluhan referensi yang dia gunakan. Jadi walaupun berbentuk novel namun seakan-akan nyata, bahkan seperti jurnal yang berbentuk novel, saking validnya. Dan sejujurnya sangat mengasyikkan membaca Novel Mas Agus Sunyoto ini, selain ceritanya mudah diikuti walaupun dibaca oleh orang yang awam tentang cerita pewayangan sekalipun, namun yang lebih asyik bahwa novel ini mengambil sudut pandang yang berbeda dari cerita aslinya. Jadi kalau pada versi aslinya, Valmiki menggambarkan betapa kejamnya si Ravana (setelah menjadi raja ia bergelar Rahuvana), betapa biadabnya bangsa raksasha, dan Rama digambarkan sebagai ksatriya keturunan Dewa, atau bagaimana si Hanuman kera sakti ksatriya pembantu Sri Rama yang gagah berani tanpa tandingan. Namun pada versi Mas Agus Sunyoto keadaan itu benar-benar dibalik 180 derajat. Ia ceritakan bahwa si Ravana adalah keturunan bangsa yang lebih beradab, daripada keturunan Indra Raja para Dewa. Sungguh apik penggambarannya dan mengalir seakan kita dipaksa untuk tidak bisa protes dengan pendapatnya tersebut, bahkan asyik-asyik saja membaca novel dengan sudut pandang terbalik.
Satu lagi ciri khas yang tak bisa hilang dari karya Mas Agus Sunyoto, dia berusaha menyelipkan pendapat yang melangit namun tak berkesan menggurui. Lihatlah dialog ketika Sri Rama berbuat culas dengan memanah Bali, Raja Kiskindha dari belakang ketika Bali sedang berhadapan dengan adiknya Sugriva yang mengkhianati kakaknya dengan merebut tahta Kiskindha dengan bantuan Sri Rama. Begitu Bali tahu bahwa yang membokongnya dari belakang adalah Rama yang dikenal sebagai ksatriya, dia sangat kecewa dan menangis, lihatlah dialog indah ini,
“Aku menangis bukan karena kesakitan terkena panah saktimu wahai Rama, jika aku ditakdirkan mati maka memang itulah jalanku untuk kembali, namun aku menangis karena engkau sebagai ksatriya telah melakukan tindakan yang jauh dari sifat ksatriya. Bahkan sangat menjijikkan.”
Demi mendengar kalimat Bali seorang raja yang terkenal arif itu Rama hanya bisa klincutan.
Atau bagian ini yang paling kusuka, ketika Rahuvana akhirnya gugur membela tanah airnya. Rahuvana yang terkenal dengan kesaktianyan tiada tanding, bahkan karena ketekunan dan kesungguhannya dalam semedi untuk menyempurnakan ilmunya ia dianugerahi ilmu yang bisa mempengaruhi tiga dunia. Itu ilmu yang sangat tinggi, yang tak sembarangan orang mampu mempelajarinya. Ketika dikisahkan, akhirnya ia harus gugur dan kalah oleh ilmu yang justru meniadakan segalanya. Ilmu yang hanya bisa dicapai oleh Rama jika ia bermunajat dan mencapai derajat Yang Tak Terbayangkan. Jadi segala kesaktian dan tetek bengek ilmu yang dimiliki Rahuvana hanya bisa dikalahkan oleh Yang Tak Terbayangkan.
Atau ketika Rahuvana mempelajari ilmu Pancasuna, ia tak bisa mencapai level tertinggi ilmu tersebut karena dalam hatinya masih ada semacam keinginan bahwa ilmunya akan digunakan untuk membangun peradaban dan membalaskan dendam pada Dewa Indra. Dan ternyata yang bisa mencapai kesempurnaan ilmu tersebut adalah Kumbhakarna, adik dari Rahuvana, karena Kumbakharna tidak mempunyai ambisi apapun dalam mendalami ilmu tersebut, sehingga Sang Brahma pun menganugerahinya 2 ilmu Brahma tingkat tertinggi dimana ia tak akan terluka dan terbunuh oleh senjata apapun dan oleh siapapun jika ia masih berpijak ditanah.
Juga digambarkan bagaimana sebenarnya Rahuvana lebih romantis dan sopan sikapnya terhadap Sita dibanding Rama yang notabene adalah suaminya sendiri, bahkan Rama mencurigai Sita telah berselingkuh dengan Rahuvana, dan membiarkan Sita Obong, atau membakar dirinya kedalam api. Alih-alih menerima istrinya kembali setelah bela pati obong tersebut, Rama bahkan semakin cuek dengan istrinya.
Novel diakhiri dengan sangat manis dan heroik. Satu persatu keturunan dan saudara Rahuvana akhirnya gugur sebagai pahlawan yang membela tanah air dan bangsanya. Keruntuhan Rahuvana karena pengkhianatan adiknya lain ibu, bernama Bhibisana. Karena semua saudara Rahuvana dididik oleh Ayah (Visrava) dan kakek (Sumali) sehingga mereka semua tahu kelemahan dan kelebihan masing-masing. Dan pada akhirnya semua gugur karena kelemahan mereka satu persatu ditunjukkan oleh Bhibisana si pengkhianat kepada Rama. Walaupun pada akhirnya ia menjadi Raja di Alengka menggantikan Rahuvana yang telah parastra, namun ia sudah tak memiliki prajurit ataupun bangsa rakhsasa pilihan yang mendampinginya, sehingga dia merasa kesepian dan merasakan hidup yang hampa hingga akhir hayatnya. Tidak seperti Rahuvana yang sangat di puja-puja dan sangat dihormati dan dicintai oleh rakyat dan bangsanya. Sehingga semua rakyatnya bersedia bela pati untuk mempertahankan kehormatan tanah air dan bangsanya.
Yang jelas sangat asyik membaca Novel ini, terbukti novel tebal tersebut dapat kuselesaikan dalam tempo 2 hari. Untuk menambah khasanah pengetahuan kita tentang Pewayangan, tentunya dengan versi lain rasanya tidak rugi membaca novel ini. Asyik, itu satu kata yang bisa saya ungkapkan. Terima kasih buat Mas Agus Sunyoto, saya akan selalu menunggu karya-karya sampeyan. Semoga Allah membarakahi sampeyan dan keluarga sehingga akan lebih banyak karya-karya yang sampeyan hasilkan. Bi barakatillah.Ujung, 05.06.07 (tanggal yang bagus tuh)
ditulis oleh bunda Gangga-Gautama-…
SUmber dari sini.
Buku ini dapat di pesan di : SINI
Rabu, 19 Februari 2014
Sutar Djohar's Reviews > Gatholoco: Rahasia Ilmu Sejati dan Asmaragama
Sastra jawa dengan berbagai SERAT menyimpan Rahasia hidup manusia, tak luput dari pandangan penulis buku ini, yang mengungkap secara gamblang, secara keseluruhan dimana rahasia ilmu sejati di beberkan dengan lugas, serta yang satu ini asmaragama(yang berarti tentang asmara).
Simbol Lelaki sejati dengan Filsafat Lingga dan Yoni, yang di kalangan umum nyaris hilang dari bumi pertiwi. Rahasia ajaran tentang asmara serta bagaimana ajian asmaragama yang dahsyat olah asmara, dan beberapa aji untuk memikat hati wanita serta memberikan kenikmatan kepadanya tanpa harus bersentuhan, serta sarana dan ramuan untuk meningkatkan kualitas hubungan badan dan metode spiritual untuk memperoleh keturunan sesuai yang diharapkan.
Penulis piawai dalam mengemas serta lugas menguraikan tahap demi tahap isi dari novel ini, apa dan bagaimana.
Teka-teki Gatholoco mengenai : wayang, dalang, blencong, dan kelir. Dari keempat itu manakah yang lebih tua ? perdebatan dimenangkan oleh Gatholoco. Ia menerangkan juga tentang hakikat : wayang, dalang, kelir, blencong dan gamelan. Ketiga guru mengaji itu akhirnya meninggalkan Gatholoco dan menuju Cepekan.
Di Cepekan terdapat tiga orang guru mengaji, yaitu : Kasan Mustahal, Kasan Besari, dan Ki Duljalal. Mereka ini didatangi oleh ketiga ketiga orang guru mengaji yang kalah berdebat dengan Gatholoco. Mereka menceritakan tentang kekalahan dalam perdebatan. Gatholoco dicari dan diajaknya ke Pondok Cepekan untuk diajak berdebat tentang ilmu sejati. Perdebatan antara Gatholoco dengan ketiga orang guru mengaji di Pondok Cepekan berlanjut. Akhirnya dimenangkan oleh Gatholoco, karena mereka kalah (ketiga guru mengaji), maka diusirlah Gatholoco dari pondok tersebut. Pada mulanya Gatholoco tidak mau pergi kalau tidak diberi uang. Akhirnya, ia meninggalkan pondok tersebut untuk melanjutkan pengembaraannya.
Dalam Pupuh 3 dijabarkan
Dalang, wayang, kelir dan Blencong dijadikan teka-teki mana yang paling tua diantara dalang, wayang, kelir dan blencong(pelita) manakah yang paling tua ?? Yang paling tua adalah yang nanggap wayang, sebab dia yang mengatur, kapan waktunya, serta apa ceritanya.
Kisah ini sarat dengan nasihat tentang asal muasal hidup, bagaimana manusia mengenal sang Pencipta serta pemahaman masalah proses kehidupan spiritual dari awal manusia hingga akhir.
Pemaparan kisah di awali membahas manusia dan kehidupan, serta bagaimana menuangkan asamaragama. lambang cinta kasih antara wanita dan pria.
Dalam buku Wirid hidayat Jati, dijelaskan bagaimana hidup manusia, dari mana asal dan akan kembali, apa itu sukma(ruh) raga, dan siapa Itu GUSTI.
Buku ini istimewa dalam hal pengungkapan rahasia budaya jawa dengan segala kelebihannya, sesuai dengan judul buku wirid hidayat jati, buku pengarngnya keluarga Keraton Surakarta, yang mana buku tersebut dalam kurun waktu tertentu hanya boleh dibaca dan diajarkan dalam lingkungan kraton. Hingga suatu saat buku itu diterbitkan dan dapat dibaca oleh kalangan umum.
Sedikit mengenai buku ini menurut pemahaman saya, ada beberapa kata yang di transliterasi dari bahasa jawa ke bahasa Indonesia yang agaku kurang tepat sebab kadang bahasa Jawa tidak bisa diserap oleh bahasa Indonesia, karena artinya akan berubah.
Kekasih Puja jiwaku
Sekelumit kata menghantarkan tidur malammu, dan seuntaian kasih sayang menjadi lambaran tidur malammu beserta mimpi-mimpimu. Ku ingin setiap helaan nafasmu serta denyut nadimu, ada kasih yang selalu menyelimutimu, ada cinta yang selalu memancar untukmu.
Doaku untuk mu kepada Gusti, semoga engkau selalu disehatkan, diberi kekuatan serta diberkan limpahan rizky, serta sehat jasmani dan ruhani, serta selalu diberi ketenangan dalam menjalani hidup.
Kekasih
Tak banyak yang aku pinta, sebab aku tak layak meminta, karena aku hanya memberi.
sebuah kenyamanan, serta engkau berlabuh di pantai harapanmu
Pesan buku ini di : http://devibookstore.blogspot.com/2014/02/gatholoco-rahasia-ilmu-sejati-dan.html
Selasa, 18 Februari 2014
Syekh Siti Jenar & Suluk Nusantara
novel tujuh jilid tersebut cukup menarik. Ada seorang pakaian putih, berkerudung daun pisang. Kepalanya tak tampak karena tertutup kerudung daun itu. Sungguh mistik, semistik kandungan isinya. Ia menggambarkan sebuah perjalanan sunyi spiritual (suluk) yang tidak harus diketahui orang, atau bahkan disesatkan masyarakat sekalipun.
Yang menarik, novel hasil riset ini merujuk kepada teks Jawa-Baratan yang melihat Siti Jenar lebih manusiawi. Hal yang berbeda dengan mitos di Jawa-Tengahan. Di belahan ini, Siti Jenar dianggap evolusi mistis dari cacing yang "mencuri ilmu" pengajaran Sunan Bonang atas Sunan Kalijaga. Menarik, karena Agus Sunyoto mampu menemukan aspek gerakan politik egalitarian yang mengobrak-abrik feodalisme Rajadewa di Jawa. Satu pembaruan politik yang mungkin sangat modern, karena wahdatul wujud kemudian melahirkan kontrak sosial selayak demokrasi klasik.
Apakah ini yang membuat ajaran Siti Jenar disesatkan? Betulkah ia melampaui syari'at? Kenapa harus bersitegang dengan Walisongo, dan benarkah ketegangan itu? Bukankah Dewan Wali juga sudah mencapai maqam manunggaling kawula gusti? Dan bagaimana aplikasi ajaran Siti Jenar terhadap kegersangan spiritual urban di era materialistik ini? Berikut ini wawancara Cahaya Sufi dengan salah satu pendekar peradaban Nusantara asal Surabaya, yang sangat hafal lekuk sejarah, bahasa, dan kebudayaan Hindu-Jawa tersebut.
Sejak kapan mas Agus melakukan riset tentang Siti Jenar, dan kenapa memilih tokoh ini sebagai objek riset? Adakah momen spiritual spesial, yang menggerakkan mas untuk menulis novel Siti Jenar?
Saya mulai kenal nama Syaikh Siti Jenar (SSJ) sejak kakek saya bercerita tentang tokoh tersebut. Kakek orang asal desa Ploso, Jombang, santri Tebuireng angkatan pertama. Kakek saya cerita kalau ajaran SSJ beliau peroleh dari KH Hasyim Asy'ari. Sejak menulis cerbung Kyai Ageng Badar Wonosobo di Jawa Pos tahun 1987-1988, saya sudah ngumpulkan data tentang SSJ.
Penelitian intensif saya terhadap ajaran SSJ lewat Thariqat Akmaliyyah saya mulai tahun 1999. Momentum saya nulis cerita SSJ dipicu oleh terjadinya peristiwa 2 November 2001 yang 'melukai' jiwa saya. Saat itu saya diundang teman-teman aktivis NU di Jogja untuk bicara geopolitik-geostrategi pasca jatuhnya Gus Dur. Dalam acara itu, saya dapati sekulerisme dan rasionalisme yang empirik materialistik sangat menguasai cara pandang anak-anak muda NU. Mereka lebih yakin kebenaran gagasan Karl Marx, Georg Lukac, Antonio Gramsci, Jacques Derrida dalam filsafat dan teori-teori sosial daripada kebenaran agama. Bahkan mereka anggap term-term iman dan taqwa dalam perubahan sosial sebagai 'takhayul' yang tidak bisa dijadikan pijakan analisis sosial.
Saat itu saya terilhami untuk memberi alternatif teoritik dalam filsafat dan perubahan sosial yang khas Nusantara kepada anak-anak muda NU ini, yaitu momentum sejarah di era Walisongo yang dimotori SSJ. Dari 7 jilid buku SSJ yang saya tulis, konsep filosofis dan sosiologi saya tuang di buku 3-4-5 dengan titel Sang Pembaharu. Jadi lewat buku SSJ saya memberi alternatif pilihan bagi kawan-kawan aktivis NU dalam penggunaan teori sosial dengan asumsi dasar, paradigma, dogma, doktrin, mitos yang khas Nusantara-Islam (maaf, selama ini orang Indonesia yang dididik di sekolah selalu mengekor teori-teori Barat & tidak mampu membangun teori sendiri).
Jika ini riset, kenapa dituangkan dalam bentuk novel? Apakah penulisan ilmiah kognitif tidak memadai bagi pengalaman spiritual? Konsep penulisan ilmiah kognitif adalah hegemoni Barat dalam pengetahuan. Saya menolak itu. Sebab konsep itu hanya berpijak pada ilmu akal (rasio). Sementara pengetahuan Islam dan Timur, mengenal dua sistem pengetahuan:
1) Ilmu Akal/Nalar yang berpusat di otak manusia;
2) Ilmu Qalbu/ Kaweruh yang berpusat di qalbu manusia.
Sepanjang saya pelajari sejarah, hampir semua naskah dari era Kalingga sampai Majapahit menggunakan bahasa sastra seperti
- Perjalanan Hayam Wuruk dalam reportase Pu Prapanca yang diberi judul Negarakertagama ditulis dalam bahasa sastra;
- Sejarah Perang Bubat ditulis dalam bahasa kidung;
- Penegakan awal Majapahit hingga pemberontakan Ranggalawe ditulis dalam sastra yaitu Kidung Panjiwijayakrama yang isinya identik dengan isi prasasti2; di kitab ketatanegaraan seperti Nitipraja ditulis dalam bentuk sastra. Hanya KUHP seperti Kutara Manawa yang ditulis tidak dalam bahasa sastra.
Lewat institusi sekolah, Barat sudah menghegemoni pikiran kita, dengan asumsi dasar bahwa karya-karya sastra adalah karya imajiner yang tidak ilmiah. Ini sangat hegemonik dan konyol, karena karya-karya fiksi seperti Republic yang ditulis Plato, The Utopian Island yang ditulis Thomas Moore, City of The Sun yang ditulis Tomasso Campanella, Also Sprach Zaratushtra yang ditulis Nietzsche, bahkan teori Karl Marx yang imajiner tentang masyarakat komunis dianggap karya filsafat. Sementara kalau karya reportase, sejarah, tatanegara, filsafat, hukum ditulis dalam bentuk sastra oleh bangsa kulit berwarna dinilai karya imajiner. Itu ras diskriminasi. Kita yang bodoh dan bermental inlander saja yang menerima dan mengekor pandangan Barat itu dengan membuta. Jadi sebagai seorang yang sadar akan eksistensi diri manusia merdeka, saya tulis hasil penelitian saya dalam bentuk novel sebagai resistensi saya terhadap hegemoni Barat dan sekaligus membangkitkan budaya lama Nusantara. Lantaran itu karya-karya novel saya selalu disertai exegese dan daftar pustaka. Dan ternyata, masyarakat Nusantara lebih mudah memahami penjelasan lewat bahasa sehari-hari yang saya sampaikan daripada jika saya gunakan bahasa ilmiah ala Barat (baca novel saya Rahuvana Tattwa).
Apa penemuan baru yang mas temukan dalam riset tersebut, mengingat Siti Jenar merupakan simbol kontroversi dalam sejarah tasawuf kita? Apakah ia sebatas mitos, yang ditulis untuk menggambarkan pergulatan kebudayaan Islam Jawa, ataukah sebagai person sejarah, ia nyata ada?
Karena penelitian yang saya lakukan menggunakan pendekatan kualitatif yang sebenarnya sudah digunakan sarjana-sarjana muslim di masa silam, maka obyek-subyek yang saya teliti adalah tarikat-tarikat yang menisbatkan ajaran kepada SSJ. Itu berarti, SSJ bukan tokoh fiktif karena meninggalkan ajaran tarikat yang riil diikuti masyarakat hingga di jaman ini.
Temuan saya yang unik tentang ajaran tarikat SSJ itu, sbb:
- tidak ada mursyid dalam wujud manusia karena mursyid ada di dalam ruhani manusia (seperti konsep Dewaruci dalam ajaran Sunan Kalijaga);
- menafikan semua pengkultusan terhadap manusia, benda-benda bertuah, makam-makam keramat, dan makhluk gaib;
- tidak mengenal konsep jama'ah dalam mujahadah sehingga dilakukan sendiri-sendiri karena itu ajaran jadi tertutup dan terrahasia;
- mengajarkan filsafat sebagai ilmu akal dalam memahami konsep Tauhid untuk memulai perjalanan ruhani sebagai pijakan awal dalam memasuki ajaran ruhani yang hanya menggunakan ilmu qalb;
- SSJ tidak mengajarkan cara menuju surga maupun menghindari neraka karena keduanya dianggap makhluk, sehingga inti ajarannya hanya terfokus pada bagaimana cara menuju Allah;
- tidak ada doa-doa dan wirid-wirid maupun hizb yang memberi peluang pamrih bagi manusia untuk meminta nikmat kepada Allah;
- SSJ hanya mengajarkan dzikir dan tanafus dalam rangka menuju Allah. Saya kira, dengan ciri-ciri ini, wajar jika ajaran SSJ jadi kontroversial dalam sejarah tasawuf di Nusantara.
Mohon penjelasan tentang ajaran Siti Jenar, terkait sasahidan, sangkan paraning dumadi, awang-uwung, dan manuggaling kawula gusti.
Yang dimaksud Sasahidan adalah ajaran tentang persaksian dalam perjalanan ruhani mendaki (taraqqi) menuju Allah. Persaksian al-murid menuju Al-Murid melalui maqam-maqam.
Puncak dari persaksian adalah saat keakuan seseorang sudah lenyap (fana') tenggelam dalam Allah. Saat itulah seluruh makhluk mempersaksikan bahwa keakuan yang lenyap itu telah bersemayam di dalam Dzat Tuhan Yang Mahasuci dan karenanya memiliki sifat-sifat Ilahi. Itulah tahap penyatuan Ruh Ilahi yang bersemayam di dalam diri manusia saat ditiupkan (nafakhtu) pada waktu penciptaan dengan Allah yang meniupkan-Nya. Itulah tahap kembalinya Ruh al-Haqq kepada Al-Haqq.
Itulah tahap puncak kembalinya unsur Ilahiyyah di dalam diri manusia (Ruh al-Haqq) kepada Sang Pencipta (ini tidak bisa dijabarkan secara ilmiah karena merupakan pengalaman ruhani yang tak terwakili oleh bahasa manusia. Ini sama dengan peristiwa ruhani Isra' wa Mi'raj yang tidak bisa dijabarkan secara ilmiah).
Yang dimaksud Sangkan Paraning Dumadi adalah ajaran yang memutlakkan Huwa sebagai Dzat Mutlak yang Azali yang menjadi Sumber segala sumber penciptaan. Huwa itu tak terjangkau akal. Tak terjabarkan konsep. Tak terbandingkan. Huwa adalah Huwa. Tan kena kinaya ngapa. Tidak bisa diapa-apakan. Laisa kamitslihi syai'un. Dia dilambangkan dengan Suwung. Hampa. Tetapi bukan hampa yang tidak ada melainkan Ada tetapi tak tergambarkan. Karena itu lambang Suwung itu disebut juga Awang-Uwung. Ada tetapi tidak ada. Tidak ada tetapi Ada. Huwa yang tak terjangkau itu kemudian muncul sebagai Pribadi Ilahi, Allah, yang dikenal Sifat dan Asma-Nya.
Pribadi Ilahi yang disebut Allah itulah Yang menjadi Pusat segala ciptaan di mana segala ciptaan pada dasarnya adalah 'pemunculan' dari Dzat, Sifat, Asma, Af'al dari Sang Pencipta. Proses 'pemunculan' itu diyakini melalui tujuh tahap tanazzul : Haahuut - Laahuut - Jabaruut - Malakuut - Asmaa' -- Nasuut.
Apakah segenap ajaran tersebut merupakan elaborasi atas bentuk mistik Ibn 'Arabi (wahdatul wujud) dan martabat tujuh (al-maratib al-sab'ah) milik al-Burhanpuri? Apakah ia memang terkonstruk dalam terma tasawuf falsafi yang dekat dengan Syi'ah?
Saya belum meneliti hubungan ajaran SSJ dengan Ibnu Araby, Burhanpuri maupun Syi'ah. Namun merujuk silsilah Tarikat Akmaliyyah yang berpuncak pada Abu Bakar as-Shiddiq dan watak tarikatnya yang egaliter, saya tidak melihat hubungan tarikat SSJ dengan tasawuf Syi'ah.
Adakah proses akulturasi antara Islam dan mistik Hindu-Jawa dalam tasawuf Jenar?
Sepanjang yang saya tahu, mistik Hindu-Jawa penuh dengan perangkat ritual dengan banyak simbol-simbol dalam upacara bersifat mistis. Sementara ajaran tarikat SSJ 'bersih' dari simbol dan upacara ritual bersifat mistis. Tarikat SSJ sangat ringkas. Aplikatif. Tidak dikenal dewa-dewa sebagai perantara menuju Sang Mahadewa. Tidak dikenal juga wasilah melalui wali-wali keramat. Yang dikenal adalah hubungan langsung dari manusia sebagai individu menuju Allah dengan satu-satunya wasilah: Nur Muhammad.
Kontroversi nyata yang mengiringi ajaran Siti Jenar adalah tuduhan "abai syari'at". Jika sudah manunggal, maka syari'at tak dibutuhkan lagi. Apakah betul? Mohon penjelasan hubungan antara syari'at dan hakikat dalam tasawuf Siti Jenar.
Tuduhan "mengabaikan syariat" sangat lekat dengan ajaran SSJ. Itu terkait dengan prinsip disiplin keilmuan yang harus dipilahkan secara tegas. Maksudnya, disiplin syariat atau lebih spesifik ilmu fiqih tidak boleh digunakan memaknai dan menilai ilmu tasawuf. Sebab piranti pengetahuan, asumsi dasar, paradigma, dogma, doktrin, dan mitos masing disiplin sangat berbeda.
Dalam disiplin ilmu tasawuf, misal, ajaran SSJ menganut faham wahdatul adyan (kesatuan agama-agama) di mana semua agama sejatinya adalah berasal dari Tuhan dan orang seorang menganut agama tertentu karena kehendak Tuhan semata. Dengan pandangan itu, murid-murid SSJ dalam agama formal tetap ada yang Hindu dan Buddha maupun Kapitayan. Kepada mereka tentu saja SSJ tidak memerintahkan untuk menjalankan syariat Islam.
Jika ada yang tanya kenapa SSJ tidak mensyaratkan semua muridnya Islam? Itulah pandangan ulama sufi yang tidak sederhana untuk dinilai dengan kacamata fiqih. Selain itu, para pengikut SSJ memandang bahwa ketentuan syariat yang diwajibkan atas manusia tidak bersifat mutlak. Semua hal yang bukan Tuhan selalu nisbi. Demikian juga syariat. Orang gila, anak belum baligh, orang pingsan, orang tidur, orang tidak sempurna akalnya, orang idiot, orang hilang ingatan, orang linglung, misal, pasti tidak kena hukum wajib syariat. Karena itu, pada saat seseorang dalam perjalanan ruhani tenggelam ke dalam Tauhid (fanaa fii Tauhid) yang berarti hilang kesadaran jati dirinya, lenyap keakuannya, tidak kena hukum syariat. Bagaimana dia bisa menjalankan syariat sedang dirinya sendiri saja dia tidak sadar. Tetapi manakala orang sudah sadar kembali dari keadaan lupa diri (karena hanya ingat Allah saja) dan hidup bermasyarakat, maka wajib bagi dia mengikuti syariat.
Nah yang sering terjadi di kalangan pengamal ajaran SSJ dari kalangan grass-root yang sejak awal memang tidak berada di lingkungan kaum agamis, menggunakan klaim bahwa SSJ menolak syariat dengan tujuan utama agar mereka tidak menjalani syariat. Bahkan berbeda jauh dengan SSJ yang menganggap syariat adalah sarana penting untuk menjaga kerendahan hati dan merupakan pijakan awal untuk mencapai ma'rifat setelah melalui thariqat dan hakikat, mereka yang dari kalangan grass-root justru menganggap bahwa syariat adalah lambang kerendahan maqam ruhani. Ini sangat berlawanan dengan ajaran SSJ.
Mereka terjebak oleh ketidak-fahaman dan terjerat sifat takabur. Bahkan karena grass-root tak terdidik dan tidak mampu mewadahi ajaran SSJ yang sarat dengan pemikiran filosofis, mereka menafsirkan ajaran SSJ dengan ilmu otak-atik matuk. Ini sangat berbeda dengan pengamal ajaran SSJ dari kalangan bangsawan dan ulama (sayangnya mereka menutup diri dan merahasiakan ajarannya secara sangat eksklusif).
Terkait dengan pertanyaan diatas, betulkah Jenar dieksekusi (hukuman mati) oleh Wali Songo? Kalau benar, apa sebabnya? Ajarannya kah, atau lebih kepada kepentingan politik rezim Demak?
SSJ tidak dihukum mati Walisongo. Tapi ajarannya dilarang oleh Trenggana, Sultan Demak. Latarnya jelas politis. Keikut-sertaan Walisongo dalam proses pelarangan ajaran SSJ, menurut saya, lebih disebabkan oleh "keharusan moral" untuk memihak kepentingan Trenggana dalam kapasitas keluarga. Hendaknya diingat, bahwa Trenggana adalah cucu Sunan Ampel. Sunan Bonang adalah uwaknya. Sunan Drajat adalah pamannya. Sunan Giri II adalah sepupunya. Sunan Kalijaga adalah mertuanya. Sunan Gunung Jati adalah besannya. Sunan Ngudung sepupu jauhnya.
Proses politisasi itu terlihat dari kisah dieksekusinya SSJ di Masjid Demak dan di Masjid Kasepuhan Cirebon dengan skenario yang mirip. Apa bisa satu orang dieksekusi dua kali? Dan mayat keduanya diganti anjing. Ironisnya dikisahkan mayat SSJ menebarkan bau wangi dan darahnya menuliskan kalimah Laailaha ilallah Muhammadur rasulullah.
Bukankah skenario itu menaikkan pamor SSJ yang matinya sangat menakjubkan? Sebaliknya menjelekkan Walisongo sebagai ulama-ulama curang.?
Pengikut SSJ justru tidak suka dengan cerita versi itu. Mereka yakin SSJ tidak dieksekusi. Hanya ajaran SSJ yang dilarang oleh penguasa dewasa itu dengan dukungan formal Walisongo.
Apakah ekses politik dari ajaran Siti Jenar, sehingga ia patut "disingkirkan" oleh otoritas yang ada? Kepentingan siapakah yang paling terusik?
Ajaran egalitarianisme SSJ yang meneladani ajaran Nabi Saw dan sahabat, jelas menimbulkan dampak langsung dengan eksesnya karena dewasa itu bisa dianggap sangat berbahaya bagi sistem kekuasaan di Jawa yang menganut konsep Dewaraja (raja adalah titisan Tuhan) yang berlangsung meski orang sudah memeluk Islam. Kata ganti "Ingsun" yang digunakan oleh SSJ dan pengikut (Sunan Giri dan warga Gresik juga sama) adalah penghinaan spiritual terhadap raja. Karena kata ganti tersebut di era itu hanya hak diucapkan oleh raja. Selain raja, orang harus menggunakan kata ganti Kula atau Kawula (Jawa), Abdi (Sunda), saya atau sahaya (Melayu) yang bermakna budak. Bahkan di hadapan raja, orang harus menggunakan kata ganti diri "patik" (anjing). Gagasan SSJ tentang komunitas "masyarakat" yang berasal dari istilah Arab musyarakah (orang sederajat yang bekerja sama)menggantikan komunitas "kawula" (budak) di desa-desa Lemah Abang benar-benar membahayakan sistem kekuasaan dewasa itu.
Demikianlah, para pengikut SSJ yang disebut "kaum Abangan" (pengikut Syaikh Lemah Abang atau penduduk desa Lemah Abang) diposisikan sebagai kelompok murtad yang harus dibasmi. Pernyataan Sunan Giri II yang berbunyi,"SSJ kafir inda al-naas wa mu'min inda Allah" menunjuk sinyalemen adanya latar politis di balik "penggusuran" ajaran SSJ.
Banyak orang yang melihat tasawuf falsafi: tasawuf yang berangkat dari paradigma penyatuan khalik-makhluk secara mistis, merupakan sisi agama yang rumit, ekslusif, disamping sering dianggap menyimpang. Bagaimana Jenar bisa fungsional, khususnya bagi kegersangan spiritual masyarakat kota?
Sejak semula ajaran SSJ memang rumit dan sangat eksklusif. Tarikat Akmaliyah sendiri sangat tertutup. Di kalangan internal ada ketentuan yang mengatur para pengikut untuk tidak membahas ajaran SSJ kepada orang luar. Mereka mengikuti aturan yang berbunyi, "Ajaran ini haram dibicarakan kepada orang-orang yang tidak sama iktikadnya." Dengan ketentuan itu, kayaknya ajaran SSJ memang sulit disosialisasi sebagai ajaran yang terbuka dan bersifat umum. Namun demikian, di era global ketika pengetahuan manusia sudah mencapai tahap yang paling tinggi dari sejarah peradaban manusia, ajaran SSJ ternyata bisa diterima sebagai sesuatu yang masuk akal dan sepertinya bisa diamalkan.
Di era global sekarang ini, pemikiran, gagasan, konsep, dan pandangan SSJ justru banyak dijadikan kajian oleh orang Islam maupun non-Islam. Nah yang paling sulit dari ajaran SSJ untuk diaplikasi secara umum adalah pemahaman terhadap konsep Allah sebagai Sang Suwung yang meliputi segala. Sebab pada tahap ruhani itu, orang jadi aneh karena ia merasa selalu diliputi dan 'dilihat' Allah di mana saja berada sehingga pemikiran, ucapan, tindakan, dan gerak-geriknya sering menjadi ewuh-pakewuh dan tidak normal. Karena itu, menurut saya, yang paling sesuai dipelajari orang di era sekarang ini cukuplah ajaran filosofis SSJ sebagaimana banyak ditulis orang dan bukan tarikatnya.
Sumber :
www.sufinews.com
Bagi sahabat yang berminat pesan buku "Suluk Abdul Jalil komplit seri 1-7, silakan SMS/WA : 081393725615. Atau Order online di SINI
Apakah ini yang membuat ajaran Siti Jenar disesatkan? Betulkah ia melampaui syari'at? Kenapa harus bersitegang dengan Walisongo, dan benarkah ketegangan itu? Bukankah Dewan Wali juga sudah mencapai maqam manunggaling kawula gusti? Dan bagaimana aplikasi ajaran Siti Jenar terhadap kegersangan spiritual urban di era materialistik ini? Berikut ini wawancara Cahaya Sufi dengan salah satu pendekar peradaban Nusantara asal Surabaya, yang sangat hafal lekuk sejarah, bahasa, dan kebudayaan Hindu-Jawa tersebut.
Sejak kapan mas Agus melakukan riset tentang Siti Jenar, dan kenapa memilih tokoh ini sebagai objek riset? Adakah momen spiritual spesial, yang menggerakkan mas untuk menulis novel Siti Jenar?
Saya mulai kenal nama Syaikh Siti Jenar (SSJ) sejak kakek saya bercerita tentang tokoh tersebut. Kakek orang asal desa Ploso, Jombang, santri Tebuireng angkatan pertama. Kakek saya cerita kalau ajaran SSJ beliau peroleh dari KH Hasyim Asy'ari. Sejak menulis cerbung Kyai Ageng Badar Wonosobo di Jawa Pos tahun 1987-1988, saya sudah ngumpulkan data tentang SSJ.
Penelitian intensif saya terhadap ajaran SSJ lewat Thariqat Akmaliyyah saya mulai tahun 1999. Momentum saya nulis cerita SSJ dipicu oleh terjadinya peristiwa 2 November 2001 yang 'melukai' jiwa saya. Saat itu saya diundang teman-teman aktivis NU di Jogja untuk bicara geopolitik-geostrategi pasca jatuhnya Gus Dur. Dalam acara itu, saya dapati sekulerisme dan rasionalisme yang empirik materialistik sangat menguasai cara pandang anak-anak muda NU. Mereka lebih yakin kebenaran gagasan Karl Marx, Georg Lukac, Antonio Gramsci, Jacques Derrida dalam filsafat dan teori-teori sosial daripada kebenaran agama. Bahkan mereka anggap term-term iman dan taqwa dalam perubahan sosial sebagai 'takhayul' yang tidak bisa dijadikan pijakan analisis sosial.
Saat itu saya terilhami untuk memberi alternatif teoritik dalam filsafat dan perubahan sosial yang khas Nusantara kepada anak-anak muda NU ini, yaitu momentum sejarah di era Walisongo yang dimotori SSJ. Dari 7 jilid buku SSJ yang saya tulis, konsep filosofis dan sosiologi saya tuang di buku 3-4-5 dengan titel Sang Pembaharu. Jadi lewat buku SSJ saya memberi alternatif pilihan bagi kawan-kawan aktivis NU dalam penggunaan teori sosial dengan asumsi dasar, paradigma, dogma, doktrin, mitos yang khas Nusantara-Islam (maaf, selama ini orang Indonesia yang dididik di sekolah selalu mengekor teori-teori Barat & tidak mampu membangun teori sendiri).
1) Ilmu Akal/Nalar yang berpusat di otak manusia;
2) Ilmu Qalbu/ Kaweruh yang berpusat di qalbu manusia.
Sepanjang saya pelajari sejarah, hampir semua naskah dari era Kalingga sampai Majapahit menggunakan bahasa sastra seperti
Apa penemuan baru yang mas temukan dalam riset tersebut, mengingat Siti Jenar merupakan simbol kontroversi dalam sejarah tasawuf kita? Apakah ia sebatas mitos, yang ditulis untuk menggambarkan pergulatan kebudayaan Islam Jawa, ataukah sebagai person sejarah, ia nyata ada?
Karena penelitian yang saya lakukan menggunakan pendekatan kualitatif yang sebenarnya sudah digunakan sarjana-sarjana muslim di masa silam, maka obyek-subyek yang saya teliti adalah tarikat-tarikat yang menisbatkan ajaran kepada SSJ. Itu berarti, SSJ bukan tokoh fiktif karena meninggalkan ajaran tarikat yang riil diikuti masyarakat hingga di jaman ini.
Temuan saya yang unik tentang ajaran tarikat SSJ itu, sbb:
Yang dimaksud Sasahidan adalah ajaran tentang persaksian dalam perjalanan ruhani mendaki (taraqqi) menuju Allah. Persaksian al-murid menuju Al-Murid melalui maqam-maqam.
Puncak dari persaksian adalah saat keakuan seseorang sudah lenyap (fana') tenggelam dalam Allah. Saat itulah seluruh makhluk mempersaksikan bahwa keakuan yang lenyap itu telah bersemayam di dalam Dzat Tuhan Yang Mahasuci dan karenanya memiliki sifat-sifat Ilahi. Itulah tahap penyatuan Ruh Ilahi yang bersemayam di dalam diri manusia saat ditiupkan (nafakhtu) pada waktu penciptaan dengan Allah yang meniupkan-Nya. Itulah tahap kembalinya Ruh al-Haqq kepada Al-Haqq.
Itulah tahap puncak kembalinya unsur Ilahiyyah di dalam diri manusia (Ruh al-Haqq) kepada Sang Pencipta (ini tidak bisa dijabarkan secara ilmiah karena merupakan pengalaman ruhani yang tak terwakili oleh bahasa manusia. Ini sama dengan peristiwa ruhani Isra' wa Mi'raj yang tidak bisa dijabarkan secara ilmiah).
Pribadi Ilahi yang disebut Allah itulah Yang menjadi Pusat segala ciptaan di mana segala ciptaan pada dasarnya adalah 'pemunculan' dari Dzat, Sifat, Asma, Af'al dari Sang Pencipta. Proses 'pemunculan' itu diyakini melalui tujuh tahap tanazzul : Haahuut - Laahuut - Jabaruut - Malakuut - Asmaa' -- Nasuut.
Saya belum meneliti hubungan ajaran SSJ dengan Ibnu Araby, Burhanpuri maupun Syi'ah. Namun merujuk silsilah Tarikat Akmaliyyah yang berpuncak pada Abu Bakar as-Shiddiq dan watak tarikatnya yang egaliter, saya tidak melihat hubungan tarikat SSJ dengan tasawuf Syi'ah.
Adakah proses akulturasi antara Islam dan mistik Hindu-Jawa dalam tasawuf Jenar?
Sepanjang yang saya tahu, mistik Hindu-Jawa penuh dengan perangkat ritual dengan banyak simbol-simbol dalam upacara bersifat mistis. Sementara ajaran tarikat SSJ 'bersih' dari simbol dan upacara ritual bersifat mistis. Tarikat SSJ sangat ringkas. Aplikatif. Tidak dikenal dewa-dewa sebagai perantara menuju Sang Mahadewa. Tidak dikenal juga wasilah melalui wali-wali keramat. Yang dikenal adalah hubungan langsung dari manusia sebagai individu menuju Allah dengan satu-satunya wasilah: Nur Muhammad.
Kontroversi nyata yang mengiringi ajaran Siti Jenar adalah tuduhan "abai syari'at". Jika sudah manunggal, maka syari'at tak dibutuhkan lagi. Apakah betul? Mohon penjelasan hubungan antara syari'at dan hakikat dalam tasawuf Siti Jenar.
Tuduhan "mengabaikan syariat" sangat lekat dengan ajaran SSJ. Itu terkait dengan prinsip disiplin keilmuan yang harus dipilahkan secara tegas. Maksudnya, disiplin syariat atau lebih spesifik ilmu fiqih tidak boleh digunakan memaknai dan menilai ilmu tasawuf. Sebab piranti pengetahuan, asumsi dasar, paradigma, dogma, doktrin, dan mitos masing disiplin sangat berbeda.
Dalam disiplin ilmu tasawuf, misal, ajaran SSJ menganut faham wahdatul adyan (kesatuan agama-agama) di mana semua agama sejatinya adalah berasal dari Tuhan dan orang seorang menganut agama tertentu karena kehendak Tuhan semata. Dengan pandangan itu, murid-murid SSJ dalam agama formal tetap ada yang Hindu dan Buddha maupun Kapitayan. Kepada mereka tentu saja SSJ tidak memerintahkan untuk menjalankan syariat Islam.
Jika ada yang tanya kenapa SSJ tidak mensyaratkan semua muridnya Islam? Itulah pandangan ulama sufi yang tidak sederhana untuk dinilai dengan kacamata fiqih. Selain itu, para pengikut SSJ memandang bahwa ketentuan syariat yang diwajibkan atas manusia tidak bersifat mutlak. Semua hal yang bukan Tuhan selalu nisbi. Demikian juga syariat. Orang gila, anak belum baligh, orang pingsan, orang tidur, orang tidak sempurna akalnya, orang idiot, orang hilang ingatan, orang linglung, misal, pasti tidak kena hukum wajib syariat. Karena itu, pada saat seseorang dalam perjalanan ruhani tenggelam ke dalam Tauhid (fanaa fii Tauhid) yang berarti hilang kesadaran jati dirinya, lenyap keakuannya, tidak kena hukum syariat. Bagaimana dia bisa menjalankan syariat sedang dirinya sendiri saja dia tidak sadar. Tetapi manakala orang sudah sadar kembali dari keadaan lupa diri (karena hanya ingat Allah saja) dan hidup bermasyarakat, maka wajib bagi dia mengikuti syariat.
Mereka terjebak oleh ketidak-fahaman dan terjerat sifat takabur. Bahkan karena grass-root tak terdidik dan tidak mampu mewadahi ajaran SSJ yang sarat dengan pemikiran filosofis, mereka menafsirkan ajaran SSJ dengan ilmu otak-atik matuk. Ini sangat berbeda dengan pengamal ajaran SSJ dari kalangan bangsawan dan ulama (sayangnya mereka menutup diri dan merahasiakan ajarannya secara sangat eksklusif).
SSJ tidak dihukum mati Walisongo. Tapi ajarannya dilarang oleh Trenggana, Sultan Demak. Latarnya jelas politis. Keikut-sertaan Walisongo dalam proses pelarangan ajaran SSJ, menurut saya, lebih disebabkan oleh "keharusan moral" untuk memihak kepentingan Trenggana dalam kapasitas keluarga. Hendaknya diingat, bahwa Trenggana adalah cucu Sunan Ampel. Sunan Bonang adalah uwaknya. Sunan Drajat adalah pamannya. Sunan Giri II adalah sepupunya. Sunan Kalijaga adalah mertuanya. Sunan Gunung Jati adalah besannya. Sunan Ngudung sepupu jauhnya.
Proses politisasi itu terlihat dari kisah dieksekusinya SSJ di Masjid Demak dan di Masjid Kasepuhan Cirebon dengan skenario yang mirip. Apa bisa satu orang dieksekusi dua kali? Dan mayat keduanya diganti anjing. Ironisnya dikisahkan mayat SSJ menebarkan bau wangi dan darahnya menuliskan kalimah Laailaha ilallah Muhammadur rasulullah.
Bukankah skenario itu menaikkan pamor SSJ yang matinya sangat menakjubkan? Sebaliknya menjelekkan Walisongo sebagai ulama-ulama curang.?
Pengikut SSJ justru tidak suka dengan cerita versi itu. Mereka yakin SSJ tidak dieksekusi. Hanya ajaran SSJ yang dilarang oleh penguasa dewasa itu dengan dukungan formal Walisongo.
Apakah ekses politik dari ajaran Siti Jenar, sehingga ia patut "disingkirkan" oleh otoritas yang ada? Kepentingan siapakah yang paling terusik?
Ajaran egalitarianisme SSJ yang meneladani ajaran Nabi Saw dan sahabat, jelas menimbulkan dampak langsung dengan eksesnya karena dewasa itu bisa dianggap sangat berbahaya bagi sistem kekuasaan di Jawa yang menganut konsep Dewaraja (raja adalah titisan Tuhan) yang berlangsung meski orang sudah memeluk Islam. Kata ganti "Ingsun" yang digunakan oleh SSJ dan pengikut (Sunan Giri dan warga Gresik juga sama) adalah penghinaan spiritual terhadap raja. Karena kata ganti tersebut di era itu hanya hak diucapkan oleh raja. Selain raja, orang harus menggunakan kata ganti Kula atau Kawula (Jawa), Abdi (Sunda), saya atau sahaya (Melayu) yang bermakna budak. Bahkan di hadapan raja, orang harus menggunakan kata ganti diri "patik" (anjing). Gagasan SSJ tentang komunitas "masyarakat" yang berasal dari istilah Arab musyarakah (orang sederajat yang bekerja sama)menggantikan komunitas "kawula" (budak) di desa-desa Lemah Abang benar-benar membahayakan sistem kekuasaan dewasa itu.
Demikianlah, para pengikut SSJ yang disebut "kaum Abangan" (pengikut Syaikh Lemah Abang atau penduduk desa Lemah Abang) diposisikan sebagai kelompok murtad yang harus dibasmi. Pernyataan Sunan Giri II yang berbunyi,"SSJ kafir inda al-naas wa mu'min inda Allah" menunjuk sinyalemen adanya latar politis di balik "penggusuran" ajaran SSJ.
Banyak orang yang melihat tasawuf falsafi: tasawuf yang berangkat dari paradigma penyatuan khalik-makhluk secara mistis, merupakan sisi agama yang rumit, ekslusif, disamping sering dianggap menyimpang. Bagaimana Jenar bisa fungsional, khususnya bagi kegersangan spiritual masyarakat kota?
Sejak semula ajaran SSJ memang rumit dan sangat eksklusif. Tarikat Akmaliyah sendiri sangat tertutup. Di kalangan internal ada ketentuan yang mengatur para pengikut untuk tidak membahas ajaran SSJ kepada orang luar. Mereka mengikuti aturan yang berbunyi, "Ajaran ini haram dibicarakan kepada orang-orang yang tidak sama iktikadnya." Dengan ketentuan itu, kayaknya ajaran SSJ memang sulit disosialisasi sebagai ajaran yang terbuka dan bersifat umum. Namun demikian, di era global ketika pengetahuan manusia sudah mencapai tahap yang paling tinggi dari sejarah peradaban manusia, ajaran SSJ ternyata bisa diterima sebagai sesuatu yang masuk akal dan sepertinya bisa diamalkan.
Di era global sekarang ini, pemikiran, gagasan, konsep, dan pandangan SSJ justru banyak dijadikan kajian oleh orang Islam maupun non-Islam. Nah yang paling sulit dari ajaran SSJ untuk diaplikasi secara umum adalah pemahaman terhadap konsep Allah sebagai Sang Suwung yang meliputi segala. Sebab pada tahap ruhani itu, orang jadi aneh karena ia merasa selalu diliputi dan 'dilihat' Allah di mana saja berada sehingga pemikiran, ucapan, tindakan, dan gerak-geriknya sering menjadi ewuh-pakewuh dan tidak normal. Karena itu, menurut saya, yang paling sesuai dipelajari orang di era sekarang ini cukuplah ajaran filosofis SSJ sebagaimana banyak ditulis orang dan bukan tarikatnya.
Sumber :
www.sufinews.com
www.sufinews.com
Langganan:
Postingan (Atom)
Popular Posts
Connect with Facebook
Todays Quote :
Love is the expansion of two natures in such a fashion that each includes the other, each is enriched by the other. #Felix Adler 1851-1933










